Menghadapi Masa Lalu
Kantor pribadi Adrian di lantai paling atas gedung Wijaya Corp bukan lagi sekadar ruang kerja; itu adalah benteng. Arini duduk di kursi kulit yang dingin, menatap tumpukan dokumen legal yang kini berada di bawah kendalinya. Sejak Adrian menyerahkan akses penuh atas aset pribadinya sebagai jaminan kepercayaan, Arini tidak lagi sekadar tunangan palsu. Ia adalah pemegang kunci dari kerajaan yang sedang runtuh.
Keheningan itu pecah saat pintu terbuka tanpa diketuk. Pengacara keluarga Wijaya, pria paruh baya dengan setelan abu-abu kaku, melangkah masuk. Ia meletakkan amplop tebal di atas meja mahoni.
“Nyonya Wijaya sudah tidak tertarik pada permainan dewan direksi,” suara pria itu datar, tanpa
Preview ends here. Subscribe to continue.