Pilihan Sulit
Ruang kerja Adrian di lantai tertinggi Wijaya Group terasa seperti kotak kaca yang menyesakkan. Di luar, cakrawala Jakarta tampak samar tertutup kabut, namun di dalam, ketegangan jauh lebih pekat. Arini berdiri tegak, tangannya yang memegang tablet sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang tertahan. Ia menyodorkan perangkat itu ke atas meja kayu ek yang kokoh.
"Lihat ini, Adrian. Ibumu tidak hanya membenci statusku. Dia bersekongkol dengan Rendy," ucap Arini dingin.
Adrian, yang sedari tadi menatap layar monitor dengan dahi berkerut
Preview ends here. Subscribe to continue.