Bom Waktu
Meja makan keluarga Wijaya bukan sekadar tempat untuk menyantap hidangan; itu adalah medan perang yang dilapisi taplak linen putih. Di ujung meja, Nyonya Wijaya menyesap tehnya dengan presisi yang mematikan. Tidak ada denting sendok. Hanya detak jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur bagi sisa waktu Arini di rumah ini.
"Silsilah keluarga bukan sekadar nama di atas kertas, Arini," suara Nyonya Wijaya memecah kesunyian, rendah namun bergetar dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Itu adalah warisan. Dan warisan tidak pernah menerima noda. Terutama noda yang dibawa dari luar."
Arini menegakkan punggung. Ia merasakan tangan Adrian di bawah meja, bukan untuk menggenggam
Preview ends here. Subscribe to continue.