Perang Reputasi
Lampu gantung kristal di Galeri Seni Kontemporer Jakarta memantulkan cahaya dingin, persis seperti tatapan para tamu yang menyambut kedatangan Arini dan Adrian. Arini menyesuaikan gaun sutra hitamnya, merasakan beban di pundaknya. Baru dua jam lalu ia keluar dari ruang kepala sekolah Bima, dan kini ia harus berdiri di samping seorang pria yang memegang rahasia paling mematikan dalam hidupnya.
"Ingat, Arini," bisik Adrian, suaranya rendah dan tajam. "Dewan direksi sedang mengawasi. Jangan biarkan mereka melihat kegugupanmu sebagai tanda kelemahan."
Arini menoleh, menatap garis rahang Adrian yang kaku. "Kegugupan ini bukan untuk dewan direksimu, Adria
Preview ends here. Subscribe to continue.