Panggilan dari Sekolah
Ponsel di atas meja marmer ruang rapat lantai 42 itu bergetar, memecah keheningan yang menyesakkan. Arini melirik layar: SD Pelita Harapan. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut, melainkan karena insting protektif yang selalu siaga. Ini kali ketiga dalam dua hari pihak sekolah menghubunginya terkait perilaku Bima yang dianggap 'tidak lazim'.
Di seberang meja, Adrian menatap tajam ke arah layar proyektor yang menampilkan grafik penurunan saham akibat pembatalan konferensi pers kemarin. Anggota dewan direksi, dipimpin oleh Pak Gunawan, tampak gelisah. Ketegangan di ruangan itu bukan lagi sekadar bisnis; itu adalah perburuan posisi.
"Lanjutkan, Arini," perintah Adrian tanpa menol
Preview ends here. Subscribe to continue.