Identitas yang Terungkap
Bau antiseptik di koridor VIP Rumah Sakit Medika bukan lagi sekadar aroma rumah sakit; itu adalah aroma kebusukan sistem yang selama ini menindas Bibi Sumi. Aris berdiri di depan pintu ICU 402, jemarinya mencengkeram kunci perunggu tua di dalam saku jasnya. Kunci itu dingin, berat, dan menyimpan beban sejarah yang kini ia pahami sepenuhnya: ini bukan sekadar peninggalan keluarga, melainkan akses fisik ke pusat kendali kota yang selama ini diperebutkan para elit.
Di balik pintu, Bibi Sumi terbaring. Napasnya dibantu mesin yang sempat sengaja disetel tidak optimal oleh administrasi rumah sakit—jebakan yang kini telah Aris patahkan. Ia tidak menoleh saat perawat mendekat dengan langkah terburu-buru.
"Pak, waktu kunjungan sudah habis. Mohon segera meninggalkan area steril," ucap perawat itu, suaranya bergetar saat matanya menangkap aura dingin yang memancar dari Aris.
Aris tidak beranjak. Ia meletakkan buku kas transaksi ilegal—bukti otentik yang ia ambil dari brankas Baskoro—ke atas meja perawat dengan dentum yang memecah keheningan. "Berikan ini pada direktur. Katakan padanya, jika Bibi saya tidak mendapatkan penanganan terbaik dalam sepuluh menit, bukan hanya Baskoro yang akan berakhir di balik jeruji besi. Seluruh direksi akan menyusul ke penjara sebelum fajar." Perawat itu tersentak, wajahnya pucat pasi saat melihat daftar nama pejabat yang tertera dalam buku tersebut.
Aris meninggalkan rumah sakit menuju gudang bawah tanah yang pengap. Di sana, Danu meringkuk di kursi kayu, gemetar. Aris tidak membuang waktu. Ia membuka buku kas itu, memperlihatkan aliran dana ke perusahaan cangkang yang dikelola Danu. "Kau pikir kau pion yang berharga, Danu? Baskoro sudah hancur. Sekarang, katakan siapa Arsitek di balik tender kota ini, atau kau yang akan menjadi tumbal berikutnya."
Danu menelan ludah, matanya liar. "Bukan satu orang, Aris! Arsitek itu adalah dewan bayangan. Mereka lima orang yang memegang kursi direksi di perusahaan properti pusat. Mereka yang mengatur segalanya!"
Aris mendapatkan nama dan koordinat yang ia butuhkan. Ia melangkah keluar, bukan lagi sebagai pelayan yang dihina, melainkan sebagai predator yang kembali ke habitatnya.
Di gedung tender utama, para elit kota sedang berpesta di atas reruntuhan aset keluarga Aris. Moderator lelang mengetuk palu, hendak mengesahkan likuidasi aset. "Lihat siapa yang datang, si pelayan yang tersesat," bisik seorang spekulan properti. Tawa merendahkan pecah di ruangan itu. "Tender ini sudah terkunci, Aris. Tidak ada tempat bagi sampah di meja negosiasi ini."
Aris tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan tenang menuju meja utama, mengabaikan tatapan sinis yang menghujam. Tepat saat moderator hendak mengesahkan dokumen, Aris meletakkan kunci perunggu tua di atas meja. Seketika, sistem keamanan gedung berbunyi, memverifikasi kunci tersebut. Layar besar di belakang moderator berubah, menampilkan status kepemilikan sah yang tidak bisa dibantah. Ruangan itu mendadak sunyi senyap.
"Tender ini ilegal," suara Aris menggema, dingin dan mutlak. "Aset ini milik pemegang otoritas yang sah. Dan saya adalah orangnya."
Di lobi, utusan organisasi pusat mencoba menghadang. "Kau pikir kau bisa melawan kami, Aris? Kau hanya orang luar!"
Aris menatap utusan itu dengan tatapan yang membuat sang utusan mundur selangkah. "Baskoro hanyalah pion. Kalian adalah parasit yang harus dibersihkan." Aris melepas penyamarannya, membiarkan identitas aslinya terekspos di depan semua orang. Ia tidak lagi bersembunyi. Ia melangkah keluar gedung, menatap cakrawala kota yang kini menjadi medan perangnya yang baru. Panggilan pusat telah dijawab, dan perang terbuka baru saja dimulai.