Novel

Chapter 12: Langkah Menuju Takhta

Aris mengukuhkan statusnya sebagai pewaris sah dengan memegang kunci perunggu dan bukti korupsi Arsitek. Setelah menolak negosiasi dengan dewan direktur melalui Enforcer mereka, ia meninggalkan kota untuk menantang hierarki yang lebih tinggi, mengakhiri babak comeback-nya dengan otoritas penuh.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Langkah Menuju Takhta

Debu menari di udara ruang tamu rumah tua itu, tertangkap sorot cahaya sore yang menembus celah jendela. Aris berdiri di tengah ruangan, mengenakan setelan jas hitam yang membalut tubuhnya dengan presisi tajam—sebuah kontras yang menyakitkan dengan perabotan kayu yang mulai dimakan rayap di sekelilingnya. Di atas meja jati yang retak, tergeletak mesin jahit tua milik Bibi Sumi. Benda itu bukan sekadar alat, melainkan saksi bisu dari tahun-tahun panjang yang dihabiskan bibinya untuk menyambung hidup demi melindunginya.

"Kau yakin akan pergi sekarang, Aris?" Suara Bibi Sumi terdengar dari ambang pintu, serak namun penuh ketegasan. Wanita itu telah pulih, meski guratan lelah di wajahnya menceritakan beban yang baru saja ia lepaskan.

Aris meraba permukaan mesin jahit itu, merasakan setiap goresan di logamnya. "Dunia di luar sana tidak akan menunggu, Bi. Arsitek sudah tahu siapa saya, dan mereka tidak akan membiarkan kunci perunggu ini tetap di tangan saya tanpa perlawanan." Ia berbalik, menunjukkan kunci perunggu yang berkilau dingin. Benda itu adalah senjata yang telah memicu kejatuhan Baskoro dan mengguncang fondasi dewan bayangan kota. Aris meletakkan kunci itu di tangan bibinya sejenak, sebuah janji perlindungan, sebelum ia mengambilnya kembali untuk menjadi kompas perangnya.

Di puncak Menara Cakrawala, Aris menatap hamparan lampu kota yang berkerlip seperti permata dingin. Di bawah kakinya, tatanan yang dibangun di atas fondasi kebohongan itu mulai retak. Ia membuka tas kulit tua, mengeluarkan buku kas transaksi ilegal milik Baskoro. Kertas-kertas itu berbau apak, namun nilainya adalah maut bagi para direktur Arsitek. Menghancurkan mereka berarti meruntuhkan stabilitas ekonomi kota dalam semalam, memicu kekacauan yang akan menjalar hingga ke tingkat bawah. Aris tidak ragu. Jika ia harus membakar tatanan lama untuk membangun sesuatu yang adil, ia akan melakukannya tanpa penyesalan.

Sebuah notifikasi bergetar di ponselnya—enkripsi tingkat tinggi dari organisasi pusat. Aris membacanya dengan tatapan datar. Mereka telah memantau setiap gerakannya sejak awal. Ini bukan sekadar tantangan, melainkan undangan untuk masuk ke dalam sarang singa yang jauh lebih berbahaya daripada Baskoro.

Kembali ke suite hotel mewah, Aris menatap cermin. Sosok di sana adalah pewaris sah yang sebenarnya. Ketukan kasar di pintu memecah kesunyian. Mantan Enforcer yang dulu pernah mengusirnya dari rumah keluarga berdiri di sana dengan keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia membawa amplop tersegel dari dewan direktur.

"Tuan Aris," suara pria itu parau. "Dewan Arsitek menunggu keputusan Anda di kantor pusat."

Aris berbalik perlahan, tatapannya dingin dan menembus. Ia tidak mengambil amplop itu. "Katakan pada kelima direktur itu, bahwa waktu mereka untuk bermain-main dengan aset keluargaku telah habis. Aku tidak datang untuk bernegosiasi. Aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hakku."

Sang Enforcer berlutut, tak mampu menahan aura dominasi yang dipancarkan Aris. Aris berjalan melewati pria itu, melangkah keluar menuju pintu keluar kota. Di perbatasan, ia membakar sisa-sisa dokumen masa lalunya—tuntutan hukum palsu dan catatan hutang yang pernah membelenggunya. Api biru melahap kertas-kertas itu, mengubah ancaman masa lalu menjadi abu. Ia melangkah keluar kota, menuju cakrawala baru di mana tantangan yang jauh lebih besar menanti di depan mata.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced