Novel

Chapter 10: Reruntuhan Kerajaan Palsu

Aris berhasil menghancurkan reputasi Baskoro dan mengamankan buku kas transaksi ilegal. Setelah mengintimidasi penjaga rumah sakit dengan kartu identitas emas, ia mendapatkan kunci perunggu dari Bibi Sumi. Aris kini bersiap melepas penyamarannya setelah menerima panggilan dari organisasi pusat.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Reruntuhan Kerajaan Palsu

Ballroom Hotel Grand Imperial kini hanyalah bangkai kemegahan. Pecahan kristal lampu gantung yang jatuh berserakan di atas karpet merah, beradu dengan suara sirine polisi yang meraung di kejauhan. Baskoro, pria yang satu jam lalu memegang kendali atas tender kota, kini diseret dalam borgol, wajahnya yang angkuh berubah menjadi topeng ketakutan saat kamera media menyorotnya tanpa ampun.

Aris berdiri di tengah kekacauan, napasnya teratur. Di hadapannya, Danu—tangan kanan Baskoro—berlutut dengan bahu gemetar. Pakaian desainer yang ia kenakan tampak konyol di tengah kehancuran kariernya.

"Tolong, Aris... aku hanya pion," isak Danu, mencoba meraih ujung sepatu Aris. "Arsitek... dia yang merancang segalanya. Aku hanyalah tumbal yang akan dibuang jika kau tidak menghentikannya!"

Aris tidak menoleh. Ia menatap Danu dengan dingin, seolah melihat serangga yang sudah kehilangan fungsi. "Pion tidak punya hak untuk memohon belas kasihan setelah mereka menjadi eksekutor kehancuran keluarga orang lain," ucap Aris datar. Ia mengulurkan tangan. "Buku kas itu. Sekarang."

Dengan tangan gemetar, Danu menyerahkan buku bersampul kulit hitam itu. Aris menerimanya—bukti otentik transaksi ilegal rumah sakit dan daftar pejabat yang disuap. Ini adalah kunci untuk meruntuhkan fondasi Arsitek yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang.

Aris meninggalkan ballroom, membelah kerumunan wartawan yang mencoba mengejarnya. Ia tidak butuh sorotan; ia butuh penyelesaian. Tujuannya adalah Rumah Sakit Medika. Aroma antiseptik yang menyengat menyambutnya, namun kali ini, ia tidak lagi berjalan sebagai pesuruh. Ia berjalan sebagai pemilik sah yang datang untuk melakukan audit brutal.

Di depan kamar 402, dua penjaga bayaran bertubuh tegap menghalangi jalan. "Kembali ke tempatmu, sampah. Bibi tua itu sudah tidak punya nilai jual di sini," ujar salah satu penjaga, tangannya menyentuh pinggang, bersiap mencabut senjata.

Aris tidak membuang waktu dengan kata-kata. Ia mengeluarkan kartu identitas emas dari saku jasnya. Saat cahaya neon memantul di permukaan logam itu, simbol naga yang terukir di sana tampak hidup. Penjaga itu membeku, wajahnya memucat hingga nyaris transparan. Mereka tahu simbol itu bukan sekadar akses; itu adalah otoritas mutlak atas fondasi kota. Tanpa suara, mereka mundur, membiarkan Aris masuk.

Di dalam, Bibi Sumi menatap Aris dengan mata berkaca-kaca. Ia menyerahkan kunci perunggu tua yang selama ini disembunyikannya di balik jahitan bantal. "Ini adalah akses fisik ke pusat kendali kota, Aris. Mereka tidak akan berhenti sebelum kunci ini dihancurkan atau kau yang menggunakannya."

Aris kembali ke apartemennya yang sunyi. Di atas meja, sebuah amplop hitam dengan segel lilin perak menanti. Ia membukanya. Hanya satu baris kalimat yang tertulis di sana: “Singgasana tidak pernah kosong, hanya menunggu pemilik yang berani kembali.”

Aris menekan panel tersembunyi di dinding kayu. Sebuah setelan jas hitam dengan potongan militer yang presisi muncul. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, melepas topeng pria biasa yang selama ini ia gunakan untuk bertahan hidup. Ia bukan lagi Aris si pesuruh. Ia adalah sang Raja yang kembali untuk menagih hutang darah. Perang besar baru saja dimulai, dan kali ini, ia tidak akan menyisakan satu pun batu di atas batu bagi mereka yang telah mengkhianati kotanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced