Perang Status
Bau antiseptik di koridor lantai empat rumah sakit bukan lagi sekadar aroma; itu adalah napas kematian yang tertahan. Aris berdiri di depan pintu ruang operasi, jemarinya mencengkeram buku kas tua—satu-satunya senjata yang tersisa untuk menuntut keadilan bagi bibinya. Pukul 15.00 tepat. Lampu operasi masih padam.
Di balik pintu administrasi, suara perdebatan pecah. Kepala administrasi, pria dengan setelan yang terlalu ketat, mencoba menghalangi jalan. "Kebijakan rumah sakit mutlak, Tuan Aris. Tanpa pelunasan, prosedur ini ditunda."
Aris tidak membuang waktu dengan kata-kata. Ia meletakkan buku kas itu di atas meja mahoni dengan dentuman yang menghentikan napas pria itu. "Halaman empat puluh dua. Catatan transaksi yang menghubungkan rumah sakit ini dengan pencucian uang tender properti Baskoro. Jika lampu operasi tidak menyala dalam sepuluh detik, salinan ini akan mendarat di meja kepala dinas kesehatan kota, bersama dengan bukti keterlibatan Anda dalam pemalsuan data medis."
Administrator itu pucat pasi. Ia tahu ancaman itu bukan gertakan. Sepuluh detik berlalu, dan lampu operasi berubah merah. Aris menang, namun kemenangan itu terasa dingin saat ia menemukan amplop hitam dengan segel lilin asing di kursi tunggu. Seseorang sedang mengawasi.
Aris memacu langkah menuju Pasar Induk. Padli, enforcer kepercayaan Baskoro, sedang berdiri di atas meja kayu, memeras pedagang. Aris menembus kerumunan, kehadirannya menciptakan keheningan instan. Ia berhenti tepat di depan Padli, menyodorkan salinan transaksi ilegal yang mencantumkan nama pria itu sebagai kurir.
"Kau rajin memeras pedagang kecil, Padli," suara Aris rendah namun tajam, memotong riuh pasar. "Tapi apakah bosmu tahu kau menyisihkan uang hasil peras ini untuk menutupi lubang keuangan rumah sakit yang kau kelola sendiri?"
Padli terhuyung, wajahnya kehilangan warna. Ia mencoba memberi isyarat pada preman di belakangnya, namun Aris menekan ponselnya, siap mengirimkan data tersebut ke pihak berwenang. Padli mundur, membatalkan penagihan paksa hari itu. Para pedagang menatap Aris dengan rasa hormat yang baru, namun Aris tidak bergeming. Ia tahu ini hanyalah riak kecil.
Kembali ke rumah tua, ia menemukan pintu ruang kerja ayahnya terbuka. Danu, sepupunya, sedang menggeledah lemari arsip. Aris menyalakan lampu, membuat Danu membeku dengan buku kas rahasia di tangannya.
"Aris... mereka mengancam anak-anakku jika aku tidak memberikan daftar aset ini," suara Danu bergetar, merosot ke lantai. "Sosok yang memerintahku bukan Baskoro. Mereka menyebutnya 'Arsitek'."
Aris merasakan logam kartu identitas emas di sakunya—sebuah peringatan bahwa ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar dendam keluarga. Saat ia melangkah keluar ke tengah hujan, bayangan pengintai muncul dari balik lorong. Aris memojokkan salah satu dari mereka, memuntir lengannya hingga terdengar bunyi tulang berderit. Pria itu hanya tertawa getir sebelum pingsan. Aris menatap kegelapan kota, menyadari bahwa musuhnya kini memegang daftar seluruh aset keluarganya. Pertempuran untuk bertahan hidup baru saja dimulai.