Bayang-bayang Naga
Lobi Gedung Lelang Utama masih bergetar oleh sisa-sisa kemarahan yang tertahan. Baskoro, pria yang sepuluh menit lalu memegang kendali penuh atas tender properti senilai ratusan miliar, kini berdiri gemetar di tengah kerumunan wartawan. Wajahnya pucat pasi, kontras dengan sorot lampu kamera yang menghujamnya tanpa ampun.
"Aris! Jangan pikir kau bisa lolos dengan peretasan murahan ini!" teriak Baskoro, suaranya parau. Ia menunjuk Aris dengan jari yang bergetar. "Kau mencuri data, kau memalsukan bukti, kau bukan siapa-siapa!"
Aris tidak bergeming. Ia berdiri tegak, merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut. Di tangannya, buku kas bersampul kulit tua itu terasa berat—sebuah beban yang kini menjadi senjata pemusnah massal bagi reputasi para elit kota. Di sekeliling mereka, para wartawan mulai berbisik, ponsel mereka merekam setiap detik ketegangan ini.
"Peretasan?" Aris menatap Baskoro dengan tatapan dingin, tatapan yang membuat sang penguasa properti itu mundur selangkah. "Baskoro, kau lupa satu hal. Lelang ini sah, dan keputusan saya membatalkan tender tadi adalah hak veto yang tercatat dalam sistem otoritas tertinggi yang bahkan tidak berani kau sentuh." Aris membuka buku kas tersebut, jemarinya berhenti pada satu halaman yang ditandai noda kopi lama. Ia tidak membela diri. Ia hanya membacakan satu nama. "Kepala Dinas Perizinan, Pak Wardana. Transaksi senilai dua miliar masuk ke rekening pribadimu melalui perantara rumah sakit. Apakah kau ingin aku membacakan detailnya sekarang, atau kau lebih suka menjelaskannya di kantor polisi?"
Kerumunan wartawan riuh. Baskoro terdiam, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Aris memutar tubuh, meninggalkan Baskoro yang kini terkepung oleh pertanyaan-pertanyaan tajam media, dan melangkah keluar menuju taksi yang menunggunya.
*
Bengkel jahit tua itu berbau apek, campuran antara minyak mesin yang mengental dan debu yang menempel di tumpukan kain perca selama bertahun-tahun. Aris berdiri di tengah ruangan, napasnya memburu. Di hadapannya, Pak Darmo—pria kurus yang gemetar hebat—tengah berusaha menutupi sebuah mesin jahit kuno dengan kain kusam.
"Sudah kubilang, Aris, aku tidak tahu apa-apa tentang transaksi rumah sakit itu!" seru Pak Darmo, matanya liar melirik ke arah pintu yang terkunci rapat. "Baskoro bukan orang yang bisa dilawan dengan modal nekat. Kau sudah menghancurkan tender tadi siang, itu sudah cukup untuk membuatmu mati besok pagi!"
Aris tidak bergeming. Ia melangkah mendekat, mengabaikan ketakutan pria itu. "Aku tidak butuh asumsi, Pak Darmo. Aku butuh nama yang tertulis di balik margin buku kas ini." Aris meletakkan buku kas dengan halaman yang sobek di atas meja kayu. Pak Darmo mundur hingga punggungnya membentur dinding.
"Kau tidak mengerti. Baskoro hanyalah pion. Ada entitas di atasnya, sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar pengusaha serakah. Jika aku bicara, bukan hanya aku yang hilang, tapi seluruh garis keturunanmu."
Aris menatap pria itu dengan dingin. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kartu logam berwarna emas yang memancarkan kilau redup. Seketika, atmosfer ruangan berubah. Pak Darmo terbelalak, napasnya tersengal. Ia mengenali simbol yang terukir di kartu itu—sebuah lambang yang seharusnya telah terkubur bersama sejarah kota ini.
"Sekarang," bisik Aris, suaranya rendah namun berwibawa, "katakan padaku siapa yang memerintahkan penundaan operasi bibiku."
*
Bau antiseptik di koridor lantai lima Rumah Sakit Medika terasa lebih tajam dari biasanya, menusuk hidung seperti bau pengkhianatan. Aris melangkah cepat, sepatunya beradu dengan lantai marmer yang licin, menciptakan gema yang terdengar seperti detak jam yang mendekati ajal.
14.45. Lima belas menit tersisa sebelum jadwal operasi bibinya. Di depan ruang operasi, seorang pria berjas abu-abu dengan potongan rambut cepak—Enforcer yang sama yang pernah mengusir Aris di lobi—berdiri menghalangi pintu dengan tangan bersedekap. Ia tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya dimiliki orang yang merasa memegang kartu as.
"Dokter sedang istirahat, Aris. Prosedur membutuhkan persiapan mental. Kau tahu, tekanan dari manajemen sangat tinggi hari ini," ucap Enforcer itu dengan nada meremehkan. Matanya melirik arloji mahal di pergelangan tangannya. "Kau tidak bisa masuk. Mengacaukan lelang Baskoro tidak membuatmu punya akses di sini."
Aris berhenti tepat dua langkah di depannya. Ia tidak mengeluarkan kemarahan, hanya ketenangan yang dingin dan mematikan. Ia mengeluarkan ponselnya, menampilkan salinan digital buku kas yang ia curi—sebuah daftar panjang nama-nama pejabat, termasuk nama direktur rumah sakit ini yang tertulis dengan nominal suap yang vulgar.
"Kau pikir kau sedang menjaga pintu, Padli?" Aris menatap pria itu tepat di matanya. "Kau sedang menjaga peti mati untuk dirimu sendiri. Jika bibiku tidak berada di meja operasi dalam tiga menit, data ini akan sampai ke meja redaksi media nasional dan unit anti-korupsi. Pilihlah: kehilangan pekerjaanmu, atau kehilangan nyawamu karena kelalaian tugas."
Padli tertegun, wajahnya pucat. Ia tahu Aris tidak menggertak. Dengan tangan gemetar, ia memencet interkom dan memberikan instruksi agar tim bedah segera bersiap.
Saat pintu ruang operasi terbuka, Aris menarik napas panjang. Ia berhasil, namun sebuah firasat buruk menyelinap. Di sudut lorong, ia melihat seorang pria berpakaian hitam yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Pria itu tidak menatap bibinya, melainkan menatap Aris dengan intensitas yang tidak wajar. Aris menyadari, identitasnya sebagai 'Raja Naga' mulai tercium oleh pemain yang jauh lebih besar daripada sekadar Baskoro. Sebuah perang yang lebih luas baru saja dimulai.