Lelang yang Dicurangi
Lobi Gedung Lelang Cakrawala beraroma kayu cendana dan kepanikan yang terbungkus rapi. Aris melangkah masuk, kemeja lusuhnya kontras dengan marmer lantai yang mengkilap. Belum sempat ia mencapai meja registrasi, seorang pria berbadan tegap dengan seragam keamanan hitam menghadangnya. Nametag-nya bertuliskan 'Kepala Keamanan'.
“Tunggu,” suara pria itu berat, penuh nada meremehkan. Ia menatap Aris dari ujung sepatu kets hingga rambut yang berantakan. “Lelang ini hanya untuk mereka yang memiliki undangan resmi dan saldo minimal sepuluh miliar. Kamu salah alamat, pecundang. Pintu keluar ada di belakangmu.”
Aris tidak bergeming. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 14.15. Operasi bibinya tinggal 45 menit lagi. Di dalam tas selempangnya, buku kas tua yang ia temukan semalam terasa seberat timah—bukti nyata bahwa orang yang memeras rumah sakit untuk menunda operasi bibinya juga berada di balik lelang ini.
“Saya tidak datang untuk mencari donasi,” suara Aris tenang, namun tajam seperti silet. Ia mengeluarkan kartu identitas emas dari saku jaketnya dan menunjukkannya sekilas. Cahaya lampu lobi memantul di permukaan logam kartu itu, menciptakan kilau yang membuat mata sang kepala keamanan membelalak. Pria itu membeku, wajahnya mendadak pucat pasi saat ia mengenali simbol yang terukir di sana—sebuah tanda yang seharusnya tidak ada di tangan pria berpakaian lusuh.
Aris melangkah melewati petugas yang gemetar itu, masuk ke ruang lelang utama. Bau parfum mahal bercampur keringat dingin menyengat. Di atas panggung, juru lelang mengetuk palu kayu dengan ritme yang terlalu percaya diri. "Penawaran terakhir untuk properti kawasan elit di pusat kota. Penawar tunggal, Tuan Baskoro, mengajukan harga di bawah pasar. Tiga... dua..."
Baskoro, sang Enforcer yang memerintahkan pengusiran bibinya, tersenyum sinis ke arah kamera media. Ia melirik jam tangannya—pukul 14.45. Ia yakin properti itu akan jatuh ke tangannya dengan harga receh sebelum Aris sempat melakukan apa pun.
"Satu..."
Juru lelang mengangkat palu tinggi-tinggi. Aris tidak menunggu. Ia melangkah keluar dari bayang-bayang pilar, berjalan menuju meja kontrol audio di sisi panggung. Dengan gerakan terlatih, ia menancapkan perangkat transmisi data miliknya ke sistem pusat. Dalam sekejap, layar raksasa di belakang juru lelang yang tadinya menampilkan peta properti, kini berganti menjadi lembaran digital transaksi ilegal yang menghubungkan rumah sakit dan skandal lelang ini.
Suasana aula mendadak hening. Para investor elit mulai berbisik, menatap angka-angka korupsi yang terpampang nyata. Aris berdiri di tengah podium, membelah kerumunan yang menatapnya dengan campuran rasa jijik dan ngeri.
"Lelang ini cacat," ujar Aris, suaranya menggema. "Baskoro bukan pemenang, dia adalah kriminal yang menyalahgunakan tender ini untuk keuntungan pribadi yang merusak nyawa orang lain."
Baskoro berdiri, wajahnya merah padam. "Seret dia keluar!" teriaknya pada keamanan. Namun, tak ada yang bergerak. Mereka semua terpaku pada layar yang menunjukkan aliran dana dari rekening Baskoro ke pejabat rumah sakit yang menahan prosedur medis bibi Aris.
Aris menatap Baskoro dengan dingin. "Berdasarkan hak veto yang tercatat dalam buku kas ini, saya menarik semua penawaran. Properti ini kembali ke tangan pemilik aslinya."
Aris meletakkan buku kas tua itu di atas meja lelang. Saat palu lelang jatuh—tok—suaranya bukan mengesahkan kemenangan Baskoro, melainkan menandai kejatuhan reputasinya. Baskoro jatuh terduduk di depan umum, kehilangan kendali atas tender yang ia banggakan. Aris tidak tersenyum. Ia menatap tajam ke arah kamera CCTV, menyadari bahwa kemenangan ini hanyalah umpan. Di balik Baskoro, ia merasakan ada mata yang jauh lebih besar dan berbahaya yang mulai mengawasi setiap gerak-geriknya. Permainan baru saja dimulai, dan waktu menuju operasi bibinya semakin menipis.