Buku Kas yang Hilang
Bau antiseptik di Lobi Medika Utama masih menempel di jaket denim Aris, namun kini bercampur dengan aroma hujan yang dibawa angin dari pintu masuk. Di balik saku dalamnya, kartu identitas emas itu terasa panas, berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Ia tidak lagi sekadar pria yang dipaksa berlutut; ia adalah pemegang rahasia yang bisa meruntuhkan fondasi rumah sakit ini.
Aris tidak menoleh saat suara sepatu bot Kepala Keamanan menghantam lantai marmer di belakangnya. Ia tahu, dalam dunia ini, mereka yang berkuasa selalu merasa berhak atas segalanya—termasuk nyawa bibinya. Namun, saat Aris melangkah keluar, sistem keamanan gedung mendadak kacau. Lampu koridor berkedip, pintu otomatis terbuka paksa, dan pengeras suara mengeluarkan dengungan statis yang memekakkan telinga. Para satpam yang mengejarnya tersungkur, menutup telinga dengan wajah meringis. Aris memanfaatkan celah itu, melesat ke mobilnya di basement sebelum sistem kembali normal.
Perjalanan menuju rumah tua keluarganya di pinggiran kota terasa seperti perlombaan melawan maut. Pukul 15.00 adalah batas waktu operasi bibinya. Jika ia tidak membawa bukti ini, rumah sakit akan terus menunda prosedur medis tersebut sebagai alat tekan.
Sesampainya di rumah, pemandangan yang menyambutnya adalah surat penggusuran merah yang menempel di pintu kayu lapuk. Di ruang tamu, seorang Enforcer berjas necis dengan tato naga di leher sedang mencengkeram kerah baju Bibi Ratna.
"Tanda tangani surat ini atau tabung oksigenmu berakhir hari ini juga!" ancam pria itu, suaranya dingin dan tanpa empati.
Aris tidak membuang waktu dengan kata-kata. Ia menerjang masuk, mencengkeram pergelangan tangan pria itu, dan memutarnya hingga terdengar bunyi tulang yang berderak. "Lepaskan dia," desis Aris, suaranya rendah namun mematikan. "Atau semua catatan transaksi ilegal Bosmu di Pelabuhan Utara kusebarkan ke media sore ini."
Enforcer itu membeku, wajahnya pucat pasi saat menyadari Aris memegang salinan dokumen yang seharusnya terkunci rapat di ruang administrasi. Namun, Aris tahu ini belum cukup. Ia merasakan getaran aneh dari balik papan lantai rumah tua ini—sebuah rahasia yang ditinggalkan ayahnya.
BRAK! Pintu depan didobrak oleh komplotan Enforcer lainnya. Aris segera merangkak ke ruang kerja mendiang ayahnya, menuju mesin jahit Singer antik yang berdiri bisu di sudut ruangan. Ia menekan tuas tersembunyi di bawah meja. Klik.
Sebuah kompartemen terbuka, memperlihatkan buku kas bersampul kulit yang mulai mengelupas. Aris membalik halamannya dengan cepat. Ini bukan sekadar catatan utang; ini adalah peta korupsi yang menghubungkan rumah sakit dengan penggusuran paksa, lengkap dengan nama-nama pejabat yang menerima upeti.
Aris meloloskan diri melalui pintu belakang saat para penagih utang menyerbu masuk. Di bawah kanopi toko yang tutup, ia menatap buku kas itu di bawah cahaya remang. Operasi bibinya pukul 15.00 hanyalah jebakan untuk memaksanya menyerah. Buku ini adalah senjata pemusnah massal reputasi mereka.
"Kalian ingin melelang harga diriku?" bisik Aris, matanya menatap tajam ke arah jam tangan. Waktu hampir habis, dan ia kini memegang kunci yang bisa meruntuhkan seluruh dinasti mereka. Ia tidak akan membiarkan mereka menang. Hari ini, status mereka akan berakhir di tangannya.