Kebenaran di Balik Pengkhianatan
Bau oli mesin dan debu kayu menyambut Aris saat ia mendorong pintu rumah tua itu. Suara cetek-cetek mesin jahit antik milik Danu terdengar ritmis, seolah tidak ada dunia yang sedang runtuh di luar sana. Aris tidak membuang waktu. Ia membanting map berisi bukti transaksi ilegal ke atas meja kayu yang sudah lapuk.
"Berhenti, Danu," perintah Aris. Suaranya rendah, namun tajam seperti silet.
Danu berhenti menjahit. Ia tidak menoleh, namun bahunya yang tegap kini merosot. "Kau seharusnya tidak datang ke sini, Aris. Ini sudah di luar kendalimu."
"Di luar kendaliku?" Aris mencengkeram kursi kayu di depan Danu, memutar paksa tubuh sepupunya itu agar menghadapnya. "Kau menjual aset keluarga kita ke tangan Arsitek. Berapa harganya? Berapa harga untuk mengkhianati darahmu sendiri?"
Danu tertawa getir, matanya merah. Ia melemparkan sebuah foto ke meja—foto anak dan istrinya yang sedang diawasi oleh orang-orang berpakaian hitam. "Darah tidak bisa memberi makan anakku, Aris. Arsitek memegang daftar seluruh hutang budi keluarga kita. Dia tahu setiap inci tanah yang kita miliki, setiap sen yang kita pinjam. Dia bukan musuh yang bisa kau lawan dengan keberanian bodoh."
Aris terdiam. Pengkhianatan ini bukan soal keserakahan, melainkan ketakutan yang sistematis. Namun, simpati tidak akan menyelamatkan aset keluarga. "Jika kau tidak bisa melindunginya, setidaknya jangan menjadi alat untuk menghancurkannya," ucap Aris dingin. Ia meninggalkan Danu yang gemetar di balik mesin jahitnya.
Aris segera menuju ruang kerja rahasianya. Di sana, buku kas bersampul kulit hitam terbuka. Jemarinya menari di atas terminal, memindai aliran dana yang mengalir ke entitas milik kaki tangan Arsitek. Matanya menyipit saat sebuah peta digital muncul di layar. Itu bukan sekadar daftar hutang; itu adalah daftar likuidasi. Properti di Jalan Melati, gudang tua di pelabuhan, hingga hak sewa tanah keluarga—semuanya telah ditandai dengan label 'Siap Dieksekusi' dalam dua puluh empat jam ke depan.
Aris tidak menunggu. Ia melangkah menuju Gedung Administrasi Pusat. Saat penjaga keamanan bertubuh kekar mencoba menghalangi, Aris mengeluarkan kartu identitas emas dari saku jasnya. Logam itu memantulkan cahaya, dan wajah penjaga itu seketika pucat pasi. Simbol naga yang terukir di sana adalah otoritas yang seharusnya sudah terkubur, namun di mata mereka yang tahu sejarah kota, itu adalah perintah.
"Saya punya urusan dengan brankas lantai tujuh," ujar Aris datar. Gerbang akses terbuka dengan bunyi klik yang tajam.
Di lantai tujuh, Aris bergerak seperti bayangan. Ia berhasil membobol terminal utama. Namun, saat data aset keluarga mulai tersalin ke drive enkripsinya, sebuah alarm melengking memecah kesunyian. Lampu darurat merah berkedip ritmis, menerangi wajah Aris yang kini menyadari jebakan itu.
Bip. Bip. Bip.
Sistem keamanan terkunci otomatis. Langkah kaki pasukan keamanan mulai menggema di koridor beton di luar pintu baja. Aris terjebak. Arsitek tidak hanya ingin menghancurkan reputasi; ia ingin memancing Aris ke dalam ruang brankas ini untuk melenyapkannya bersama seluruh bukti kepemilikan aset keluarga yang tersisa. Aris menatap layar yang kini menampilkan hitung mundur penghapusan data. Ia harus memilih: menyelamatkan data aset atau menyelamatkan dirinya sendiri.