Novel

Chapter 11: Retakan di Sistem

Setelah duel sengit yang melukai mech siborg Vane dan membuka akses lantai lima, Kael harus memanfaatkan waktu yang semakin menipis untuk meretas sistem keamanan lantai empat dengan modul purwarupa ilegalnya. Alarm yang menyala dan pasukan pengawas yang mengepung memaksa Kael bertindak cepat. Mira datang membantu mengalihkan perhatian pengawas sehingga Kael dapat menyelesaikan peretasan dan naik ke lift lantai lima. Namun, efek samping modul Void-Walker yang semakin menyatu dengan sarafnya membuat kondisi Kael memburuk drastis. Saat mencapai lantai lima, Kael menghadapi pilihan berat: terus naik menuju lantai enam dengan risiko kematian atau menyerah. Vane mundur, mengakui kekalahan, tetapi peringatan bahwa Menara akan memburunya semakin intens. Kael kini bukan hanya pendaki biasa, melainkan ancaman nyata yang memaksa sistem menara menyesuaikan diri.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Retakan di Sistem

Timer di hud mech Kael terus berdenyut cepat—03:39:47 saat ia berdiri di depan panel kontrol lantai empat. Duel sengit dengan Vane baru saja usai; mech siborg itu terluka parah dan mundur, membuka akses ke lantai lima yang selama ini tersembunyi. Namun kebebasan belum sepenuhnya di tangan Kael. Protokol Pengamanan Level Empat telah aktif penuh, dan sistem menara kini memburunya tanpa ampun.

Jari-jarinya menari di atas layar holografis, beradu cepat dengan firewall ketat yang melindungi gerbang lantai lima. Modul purwarupa ilegal yang tertanam di mech Scrapper miliknya berdengung halus, menyalurkan lonjakan daya langsung ke sistem neuralnya. Risiko terbesar: modul itu bisa menghancurkan sarafnya kapan saja, tapi ini satu-satunya cara untuk membobol pertahanan sistem Menara.

"Alarm! Intrusi terdeteksi!" suara otomatis menggema di ruang kontrol, diikuti oleh kedipan lampu merah yang mengoyak keheningan. Langkah berat dan dentuman sepatu baja bergema dari lorong-lorong sempit saat pasukan pengawas Vane mulai mengepung. Waktu hampir habis.

Kael menggeram, menekan tombol aktivasi modul purwarupa. Kecepatan tangannya melonjak, kode perlindungan runtuh satu per satu. Firewall utama mulai retak. Namun, suara alarm makin memekakkan, menandakan gelombang pengamanan ekstra telah diaktifkan. Pasukan pengawas bergerak cepat, memaksa Kael menghadapi gelombang ancaman yang tak terelakkan.

Tiba-tiba dari bayang-bayang muncul Mira, matanya tajam menyapu medan tempur. "Ikuti aku!" bisiknya sambil melempar bola asap pekat ke arah pasukan pengawas. Asap itu menyebar, memecah kerumunan dan memancing sebagian besar pasukan menjauh mengejar bayangan ilusi. Kael memanfaatkan celah itu untuk berlari ke lift lantai lima, tangannya gemetar hebat karena efek modul purwarupa yang menyengat hingga ke tulang.

"Cepat, Mira," desaknya, napasnya tersengal. Mira kembali melesat, jantungnya berdegup kencang, wajahnya penuh ketegangan. "Mereka hampir sampai!" katanya sambil melirik ke arah pasukan yang terus mendekat. Kael menggigit bibir, menahan nyeri yang merambat dari lengannya. Jari-jarinya bergetar saat menekan tombol terakhir. Pintu lift terbuka perlahan, sinar hijau menyala. "Tolong, dorong aku masuk," pinta Kael dengan suara hampir patah.

Mira meraih lengannya, menarik Kael masuk ke dalam lift, menutup pintu berat di belakang mereka. Tubuh Kael bergetar hebat, rasa sakit tajam menjalar dari ujung sarafnya. Modul Void-Walker yang menyatu dengan sistem sarafnya seperti menggerogoti setiap sambungan saraf, membuat mech terasa berat dan lamban, menentang setiap niatnya untuk bergerak cepat. Nafasnya memburu, tubuhnya menjerit menahan kelelahan ekstrem.

Di luar lift, teriakan dan dentuman langkah pasukan pengawas semakin mendekat. "Cepat! Jangan biarkan mereka menangkapmu!" suara Vane bergema di kepalanya, namun kini bukan lagi ancaman yang sama. Kael tahu ia telah menjadi ancaman nyata bagi sistem itu sendiri.

Lift bergetar hebat saat mulai naik, suara logam bergesekan memenuhi ruang kecil itu. Kael menekan tombol dengan sisa tenaga terakhir, matanya tetap fokus pada monitor di pergelangan tangan—timer utang hidupnya menipis tanpa ampun.

Ketika pintu lift terbuka di lantai lima, pusat kendali data Menara yang selama ini tersembunyi, Kael menarik napas dalam meski tubuhnya melemah. Di depan, Vane mundur perlahan, wajahnya berubah dari ketegangan menjadi kekalahan. "Aku beri kamu kesempatan terakhir," suaranya berat dan penuh amarah. "Naik ke lantai enam, atau mati di sini."

Kael memandang tangga berputar di depan matanya, suara detak timer di pergelangan tangannya seperti menggetarkan seluruh ruang. Setiap langkah ke atas adalah taruhan nyawa; menyerah berarti kehilangan segalanya—harapan, kekuatan, bahkan hidupnya sendiri.

Dengan tekad membara, Kael melangkah keluar dari lift. Kaki yang menggeliat melawan gravitasi, matanya terkunci pada lantai enam yang menunggu di depan. Ancaman kini bukan lagi di belakang, tapi tepat di depan matanya.

Pintu otomatis menutup perlahan di belakangnya, suara logam bergesekan menjadi saksi bisu keputusan yang tak bisa ditunda. Vane mundur selangkah, wajahnya terpancar campuran kekalahan dan penghormatan. "Lantai lima sekarang terbuka untukmu," ucapnya dengan suara serak. "Tapi setelah ini, Kael, tidak ada yang pasti. Menara akan memburumu lebih kejam dari sebelumnya."

Kael menatap ke atas, ke lantai enam yang lebih tinggi dan lebih berbahaya. Ia bukan lagi teknisi rendahan yang beruntung. Kini, ia adalah ancaman nyata bagi fondasi Menara itu sendiri.

Pilihan sudah jelas: naik atau mati. Dan pendakian menuju puncak yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced