Novel

Chapter 12: Anomali yang Tak Terhentikan

Kael menghadapi sistem pertahanan utama di lantai lima dengan waktu utang yang menipis dan efek samping modul Void-Walker yang menggerogoti tubuhnya. Dengan keberanian dan modul purwarupa ilegal yang terpasang, ia berhasil menembus pertahanan dan menyatukan modulnya dengan inti menara, mengaktifkan kekuatan mech-nya secara penuh. Siaran langsung dari lantai lima mengangkat reputasinya ke puncak, menjadikannya simbol perlawanan sekaligus ancaman nyata bagi status quo. Sementara itu, Komandan Vane mundur setelah kekalahan, tapi ancamannya semakin nyata. Di akhir bab, Kael menatap lantai enam dengan tekad membara, siap menghadapi tantangan yang lebih berbahaya, membuktikan dirinya bukan lagi pendaki rendahan, melainkan ancaman bagi fondasi menara itu sendiri.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Anomali yang Tak Terhentikan

Kael meringis saat gelombang listrik biru menyambar panel di depan, mengguncang rangka mechnya yang sudah reyot. Timer di pergelangan tangannya berdetak cepat, menyisakan hanya dua menit. "Sistem pertahanan ini tidak main-main," gumamnya, mata tajam mengamati pola serangan drone yang berkeliling. Modul Void-Walker di bahunya mulai memanas, efek sampingnya mengaburkan pandangan Kael, jantungnya berdegup tidak karuan.

Dengan cepat, ia mengaktifkan purwarupa baru—gelombang medan elektromagnetik yang mematikan sensor musuh. Drone-drone itu kehilangan jejak, menabrak dinding dengan dentuman keras. "Tapi aku belum selesai," katanya, suaranya berat oleh kelelahan. Ia menggeser tuas kontrol, merangkai pola serangan improvisasi yang belum pernah dicoba. Waktu hampir habis, dan sistem menara merespons dengan serangan laser terfokus. Peluru energi menghantam perisainya, mengancam merobek jalannya.

Sebuah suara mekanis muncul dari terminal yang terkunci rapat, "Akses inti menara siap... jika kau berani mengambil risiko." Napas Kael terengah, tangan gemetar saat menyiapkan konektor modulnya. Jika gagal, bukan hanya mimpinya yang hancur—nyawanya juga.

Kael mengabaikan rasa nyeri di lengannya, matanya terpaku pada layar terminal yang berdenyut merah. Dentuman sirene semakin menggila, tanda sistem pertahanan belum mereda. "Ini saatnya," bisiknya, menyambungkan kabel halus modul purwarupa ilegal ke inti menara.

Timer berdenyut merah di atas kepala Kael, hitungan mundur yang tak pernah berhenti. Napasnya tersengal, darah mengalir deras dari luka tusuk di lengan kiri, tapi matanya tetap fokus pada modul itu. Jarinya gemetar saat kabel-kabel halus menyatu dengan inti menara, aliran energi liar menyambar di ujung sensor.

"Pengawas sudah hampir sampai," suara Komandan Vane bergema lewat speaker tersembunyi, penuh ancaman. "Hancurkan! Jangan biarkan dia menyelesaikan."

Kael mengabaikan rasa nyeri menusuk, fokus pada resonansi yang mulai terbentuk. Cahaya biru menyelimuti perangkat, lalu menyebar ke seluruh inti dengan kecepatan luar biasa. Tubuhnya bergetar hebat, detak jantungnya melejit, tapi energi baru meluap, menembus batas stamina manusia biasa.

Alarm berbunyi nyaring, suara langkah berat pengawas menara menggema dari bawah. Kael tahu, dia harus menyelesaikan sambungan itu sekarang—atau semuanya akan hancur bersamanya. Kilatan cahaya semakin intens, modul-modul purwarupa bergetar di tangan Kael seperti menyatu dengan denyut jantungnya sendiri. Keringat dingin membasahi dahinya, napasnya tersengal, tapi jarum waktu di layar menunjukkan detik-detik terakhir.

"Cepat..." bisiknya, sementara jarum itu melonjak ke angka merah. Di bawah, suara pengawas semakin dekat, langkah mereka menapak lantai dengan ketegangan memuncak.

Layar besar di pusat kota bergemuruh saat siaran langsung menampilkan Kael, duduk tegap di kokpit mech purwarupa, tangan kanannya menggenggam kontrol berkilau. Tubuh mesin raksasa itu bergerak lincah, setiap gerakan diikuti dengan presisi mematikan.

"Ini bukan hanya tentang kekuatan," suara Kael menggelegar lewat mikrofon, "ini tentang mengubah aturan main."

Jutaan mata menatap, reputasinya melejit menjadi simbol perlawanan bagi yang terpinggirkan. Namun di balik layar, kabar tentang Vane menyebar cepat—pemimpin elit yang mulai mengerahkan pasukan bayangan. "Kael sudah terlalu berani," bisik seorang pengamat politik. "Ini akan jadi perang terbuka."

Tekanan sosial dan politik menekan Kael, tapi lebih dari itu, ancaman nyata mengintai di lantai enam. Dengan napas tertahan, Kael menatap ke atas menara, sadar bahwa setiap langkah berikutnya adalah taruhan hidup dan mati yang tak bisa dia hindari.

Layar siaran langsung memudar, menggantikan sorotan ke wajah tegas Kael yang kini berdiri tegak di kokpit mech. Tangan kanannya menggenggam kontrol dengan ketat, otot-ototnya mengencang. "Aku tidak akan mundur," suaranya bergema, penuh tekad.

Di bawah layar itu, ribuan komentar membanjir, membelah antara dukungan dan ancaman. "Kael adalah simbol kebangkitan," tulis seorang penggemar. Namun di balik layar, suara-suara kerajaan berbisik penuh kekhawatiran dan rencana balas dendam.

Kael terengah, tangan gemetar memegang modul purwarupa yang berdetak cepat di dadanya. Efek sampingnya sudah mulai menghantam—denyut nyeri mengiris pikirannya, tapi matanya tetap terpaku pada pintu besi besar yang menandai lantai enam.

"Waktu hampir habis," bisiknya, berjuang melawan gelombang pusing yang datang tiba-tiba. Dari balik bayang-bayang, suara langkah kaki berat menghampiri. Vane. Musuh lama yang tak pernah lelah memburu setiap jejaknya.

Kael menelan ludah, merasakan tekanan di lehernya semakin mencekik. Tapi ia tak mundur. Dengan jari gemetar, ia mengaktifkan kembali modul, merasakan energi liar mengalir ke dalam urat nadinya.

"Aku bukan lagi teknisi rendahan," pikirnya, matanya menyala penuh api. Pintu lantai enam terbuka perlahan, menghadirkan kegelapan dan ancaman yang lebih pekat.

Kael melangkah maju, siap mengukir namanya di fondasi menara itu—atau mati mencoba. Ia menghisap napas dalam, merasakan denyut modul yang makin liar di lengannya. Setiap detik penggunaan membawa konsekuensi—detak jantungnya naik tak terkendali, kepala mulai berdengung.

Tapi di balik rasa sakit itu, ada kemajuan. Dia tahu, di lantai enam ini rahasia menara terbungkus rapat dalam kegelapan dan jebakan mematikan. Langkahnya menapaki lorong sempit yang berdenyut dengan energi asing.

Dari bayang-bayang, suara bisik-bisik samar terdengar—ancaman dan janji perlawanan yang belum berakhir. Kael menatap lantai enam; ia bukan lagi teknisi rendahan, melainkan ancaman bagi fondasi Menara itu sendiri.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced