Novel

Chapter 9: Eskalasi ke Puncak

Setelah kemenangan di lantai tiga yang memicu kekacauan sistem dan menjadikannya buronan utama, Kael berjuang memperbaiki dan meng-upgrade mech Scrapper-nya dengan komponen rampasan dan modul purwarupa yang mulai menyatu dengan sistem sarafnya. Mira memberi peringatan bahwa Komandan Vane akan turun tangan langsung dengan pasukan elit untuk memburunya di lantai empat. Kael menghadapi pilihan berisiko mempertahankan modul purwarupa yang memengaruhi tubuhnya demi kekuatan tambahan. Sebelum melangkah ke lantai berikutnya, protokol keamanan level empat diaktifkan penuh, menandai Kael sebagai ancaman sistemik utama. Dengan tekad mencapai lantai sepuluh, Kael bersiap menghadapi perlawanan yang jauh lebih brutal, sementara bayangan mech Vane sebagai eksekutor mulai mendekat.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Eskalasi ke Puncak

Kael menggerakkan tangannya dengan cepat, merobek panel luar Scrapper yang sudah retak parah. Sisa-sisa komponen musuh berserakan di lantai bengkel kecil itu, seperti saksi bisu perjuangannya. Waktu terus berdetak, detik-detik sisa utang hidupnya yang kian menipis terpantau di layar lengan mech-nya: 03:39:47. Lantai empat menunggu dengan ancaman yang jauh lebih mematikan, dan dia harus siap.

"Ini satu-satunya kesempatan," gumam Kael sambil mengangkat modul kecil berkilauan hasil rampasan dari unit penjaga yang hancur. Kabel terbakar dan sirkuit patah memaksanya menggabungkan teknologi usang dengan modul purwarupa yang belum sepenuhnya stabil. Tangannya bergetar saat menyambungkan modul itu ke inti mech. Seketika, layar panel kontrol menyala, indikator performa melonjak drastis.

"Ya!" serunya meski rasa sakit samar menjalar dari saraf tangannya. Getaran aneh mulai menyusup ke pikirannya, mempercepat refleksnya, tapi juga mengancam kestabilan sarafnya. Kael menatap grafik detak saraf yang berfluktuasi, sadar bahwa kekuatan baru ini bukan tanpa harga.

Tiba-tiba sebuah bayangan muncul di sudut lorong bengkel yang remang. Mira melangkah cepat, napasnya terengah-engah. "Kael, Komandan Vane tidak main-main. Dia akan turun langsung," katanya dengan suara penuh urgensi. "Pasukan elit sudah disiapkan untuk memburu kita di lantai empat. Protokol keamanan akan aktif—laser, jebakan, drone pembunuh. Jika kita terlambat, kita akan terjebak." Matanya menatap tajam, mengingatkan Kael akan bahaya yang semakin nyata.

Kael mengerutkan kening, dendam lama menggelayut. "Kamu yang hampir membuatku mati di lantai dua. Kenapa aku harus percaya?" Mira membalas tegas, "Tidak ada waktu untuk pertengkaran. Ini soal hidup dan mati." Kael menatap tangga di depan, bayangan lantai empat yang kini berubah menjadi benteng maut.

Tekad membara di dadanya. "Kalau begitu, aku tidak hanya harus melewati lantai empat. Aku harus sampai lantai sepuluh—tempat elit kota tinggal. Sebelum Vane menutup semua jalan." Ambisinya kini menggantikan detak jam utang yang dulu mengikatnya.

Dalam kesunyian bengkel, Kael merasakan denyut aneh menjalar dari tulang punggungnya. Modul purwarupa itu menyatu dengan sarafnya, sinyal listrik mengalir cepat, membakar setiap ujung saraf. Tubuhnya menggigil, meski suhu ruang tetap stabil. "Ini bukan sekadar peningkatan biasa," gumamnya, matanya terpaku pada layar biometrik di pergelangan tangan yang menunjukkan detak jantung melonjak dan adrenalin meledak.

Tiba-tiba tangan kirinya bergetar hebat, seolah dialiri arus. Napasnya tersengal, tapi pikirannya membara. "Kalau aku cabut modul ini, aku kehilangan peluang besar," pikirnya. Namun rasa sakit menusuk dalam diam, otot-ototnya menjerit. "Bertahanlah, Kael," bisiknya pelan, suara nyaris hilang di tengah gemuruh tubuhnya. Tekanan di kepala kian menguat; tubuhnya tak lagi sepenuhnya miliknya.

Lantai empat menanti, lebih berbahaya, lebih menantang. Pilihan itu berat: mempertahankan kekuatan dengan risiko kehilangan kendali, atau mundur dan menyerah. Kael menelan ludah, ototnya menegang saat energi asing itu merayap semakin dalam ke sarafnya. Jantungnya berdetak tak beraturan, napas tersengal. "Ini gila," pikirnya, tangan yang terasa seperti terbakar api tapi kini lebih cepat dan kuat.

Sebelum sempat melangkah ke lantai berikutnya, siratan merah menyala di seluruh dinding menandai bahwa protokol keamanan level empat telah aktif. Kael menahan napas, matanya menatap layar monitor di lengan mech-nya yang menunjukkan detik-detik utang waktu semakin menipis: 03:45:55.

Suara alarm meraung, membelah keheningan lantai tiga yang berubah menjadi medan perang. Pasukan elit bersenjata berat muncul dari bayang-bayang, langkah mereka serempak dan terkoordinasi. "Target: Kael, eliminasi tanpa kompromi!" perintah otomatis menggema dari pengeras suara Menara.

Kael mengayunkan lengan mech-nya, meluncurkan modul purwarupa yang meledak di antara musuh, menciptakan celah singkat. Namun bayangan baru terus datang, lebih cepat dan lebih banyak. "Ini baru permulaan," pikir Kael, tekanan di dada kian berat.

Sistem Menara kini benar-benar menganggapnya ancaman utama. Ia harus bertahan, bukan hanya untuk bertarung, tapi untuk naik—menembus dinding pertahanan yang lebih brutal dari sebelumnya. Timer terus berdetak, jarak ke lantai empat terasa seperti jurang yang siap menelannya.

Kael mengaktifkan modul purwarupa terbaru, tameng energi tipis berkilau biru yang memantulkan serangan laser drone patroli. Tubuh mech-nya bergetar saat peluru energi menghantam, tapi perlindungan itu menahan sebagian besar dampak. Ia melompat cepat ke celah terbuka, melesat ke tangga yang menuju puncak tantangan baru.

Protokol keamanan lantai empat telah aktif sepenuhnya. Kael resmi menjadi musuh utama Menara, dan skala perlawanan meningkat drastis. Ancaman yang dulu tersembunyi kini menjadi nyata dan mematikan. Namun di balik semua itu, sebuah tujuan baru menggelora: menembus sampai lantai sepuluh, ke tempat di mana para elit kota bertahan dan menguasai.

Langkah Kael menggetarkan lantai, suara mekanik bersahutan dengan detak jantungnya. Ia tahu, setiap detik yang berlalu membawa konsekuensi baru, dan pertarungan yang lebih berat sedang menunggu di depan. Di kejauhan, bayangan mech Vane yang perkasa mulai muncul—bukan lagi hanya ujian, tapi eksekusi yang harus dihadapi.

Kael menarik napas dalam-dalam, menatap tangga yang naik ke kegelapan lantai empat. "Ini bukan sekadar pendakian," pikirnya, "ini adalah pertarungan hidup atau mati. Dan aku harus menang."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced