Bayangan di Balik Siaran
Lampu indikator di dasbor Scrapper berkedip merah—tanda bahaya yang kini terasa seperti detak jantung yang sekarat. Sisa waktu hidup Kael di layar HUD merosot ke angka 03:51:45. Di luar kokpit, atmosfer hampa udara Lantai Dua membuat suara logam yang beradu menjadi sunyi, hanya getaran yang merambat melalui kerangka mech yang terasa. Tiga unit Enforcer milik Komandan Vane baru saja memblokir ujung gang sempit itu, moncong meriam mereka berpendar biru, siap menghancurkan apa pun yang bergerak.
Kael mencengkeram tuas kendali dengan tangan yang basah oleh keringat. "Mira, jika kau tidak segera membuka pintu akses itu, kita berdua akan jadi rongsokan," desisnya melalui saluran komunikasi terenkripsi.
"Aku sedang berusaha, Kael! Vane menutup jalur data. Dia tidak hanya memburu, dia mengisolasi kita," suara Mira terdengar terdistorsi, namun ada urgensi yang nyata di sana.
Di depan sana, salah satu Enforcer melangkah maju, kakinya yang hidrolik menghantam lantai logam dengan hentakan yang mengirimkan gelombang kejut ke arah Kael. Sensor jarak menangkap sinyal penguncian. Mereka tidak akan memberikan peringatan kedua. Kael merasakan tarikan dingin di dadanya—modul Void-Walker miliknya mulai menuntut bayaran, mengonsumsi sisa umurnya sebagai bahan bakar untuk memproses kalkulasi lintasan tembakan musuh secara real-time.
Kael tidak punya pilihan. Jika dia diam, dia mati. Jika dia menggunakan modul, dia mungkin hidup, tapi dengan harga yang tidak bisa dibayar kembali. Ia mengaktifkan override manual pada sistem hidrolik yang sudah aus. Void-Walker meraung, memaksakan cairan pendingin bersirkulasi di luar batas spesifikasi. Saat dua meriam Enforcer melepaskan tembakan plasma, Kael tidak menghindar ke belakang; ia justru menghentakkan tuas ke samping, melakukan manuver drift yang mustahil di medan hampa udara.
Mech-nya meluncur miring, memanfaatkan inersia dan memantul di dinding gang yang sempit. Tembakan plasma menghantam tempat Kael berdiri sedetik sebelumnya, melelehkan beton hingga membara. Manuver itu mengecoh sensor Enforcer yang dirancang untuk target konvensional. Dalam sepersekian detik kebingungan musuh, Kael membanting mech-nya ke arah celah sempit di balik tumpukan kontainer bekas—lokasi persembunyian Mira.
"Masuk!" teriak Mira saat pintu rahasia mulai bergeser.
Kael memacu sisa energi hidroliknya, memaksa Scrapper yang hampir lumpuh untuk melompat masuk ke dalam lorong gelap. Begitu pintu tertutup, Kael mematikan modul Void-Walker. Napasnya tersengal, dan angka di HUD-nya kembali menyusut drastis sebagai konsekuensi penggunaan paksa. Di luar, suara langkah berat unit Enforcer mulai menyisir area dengan pemindai panas. Mereka tertangkap, dan di depan, jalan satu-satunya hanya menuju lift ke lantai tiga—tempat yang sudah pasti menanti dengan jebakan yang lebih mematikan.
Mira menatap Kael dengan mata yang menyala oleh ketegangan. "Vane tidak hanya mengirim drone. Dia sudah mengunci seluruh sektor ini sebagai zona isolasi. Jika kita tidak keluar dalam sepuluh menit, Menara akan melakukan pembersihan total."
Kael melompat turun dari kokpit. Tubuhnya gemetar karena sisa efek samping modul Void-Walker. "Aku butuh upgrade pendingin, Mira. Modul itu membakar sisa waktuku lebih cepat daripada yang kubayangkan. Jika aku tidak bisa menstabilkan panasnya, aku akan mati terbakar sebelum mencapai lantai tiga."
Mira melemparkan sebuah tablet data ke arah Kael. "Kau pikir Vane hanya penegak hukum yang rajin? Lihat ini."
Kael menangkap tablet itu. Log pertempuran yang ditampilkan modul purwarupanya mulai menyinkronkan data dengan sistem Menara yang berhasil disusupi Mira. Peta digital itu memperlihatkan bahwa Vane bukan sekadar menjaga ketertiban; ia sedang mengalihkan sumber daya lantai-lantai bawah untuk proyek rahasia pihak luar—sebuah operasi pengosongan Menara yang sistematis. Kael hanyalah subjek tes anomali yang mereka gunakan untuk menguji batas ketahanan sistem.
"Ini bukan sekadar perburuan," bisik Kael, matanya membelalak melihat data transfer yang mengarah ke luar Menara. "Mereka membiarkan kita memanjat agar bisa memanen data dari modul yang kita bawa."
"Tepat," sahut Mira. "Dan sekarang, mereka tahu kau punya sesuatu yang lebih berharga daripada nyawamu."
Suara langkah kaki besi berdentang keras di kejauhan, memecah kesunyian pasar gelap. Tiga unit Enforcer Vane muncul dari bayang-bayang, senjata plasma mereka terarah tepat ke arah tumpukan suku cadang tempat mereka berlindung. Vane tidak datang sendiri; ia telah mengepung lokasi pertemuan ini dengan presisi militer.
"Berikan aku sistem pendingin itu sekarang!" bentak Kael sambil menarik keluar modul Void-Walker dari slot mech-nya. "Jika aku harus bertarung, aku butuh efisiensi penuh atau kita berdua akan tamat di sini."
Mira mengangguk, menyerahkan kotak pendingin dengan tangan gemetar. Saat Kael memasangkannya, suara siaran publik bergema di seluruh Sektor Dua, mengumumkan status Kael sebagai target prioritas eliminasi. Pintu keluar lift utama di ujung lorong perlahan terbuka, memperlihatkan pasukan mech otomatis yang telah menunggu di balik tirai besi. Lantai tiga sudah menanti, namun kini jalannya tertutup oleh kematian yang datang menjemput.
Kael menarik tuas manual, lalu menguji kaki kiri mech. Scrapper bergeser mulus—tak lagi tersendat seperti mesin tua yang dipaksa berdoa. Perubahannya nyata: langkah pertama menekan lantai lebih stabil, lengan kanan bisa berputar seperempat putaran lebih cepat, dan servo pinggang tak lagi tercekik oleh kekurangan tekanan. Ia melompat keluar, menerjang Enforcer terakhir, merobek laras senjatanya dari samping. Dalam gelap berasap, Kael meraih Mira dengan penjepit lengan mech, menyeretnya menuju lorong lift servis yang baru terbuka setelah penguncian lantai goyah.
Pintu lift geser naik dengan desis berat. Di baliknya, lantai tiga menyambut mereka bukan dengan udara segar, melainkan barisan pasukan mech otomatis yang sedang berpatroli, kepala-kepalanya seragam, senjatanya aktif, dan lampu statusnya hijau dingin. Kael menatap barisan itu, sisa waktu hidupnya terus berdetak mundur, dan ia tahu, pendakian yang sebenarnya baru saja dimulai.