Novel

Chapter 2: Topeng di Depan Kamera

Nara berhasil melewati debut publik pertamanya sebagai tunangan Adrian di tengah provokasi Sabrina Lestari. Adrian memberikan perlindungan publik yang posesif, namun di balik itu, ia memberikan peringatan bahwa Sabrina adalah kunci menuju dalang di balik utang keluarga Nara. Nara kini menyadari bahwa pertunangan ini adalah pintu masuk menuju perang warisan yang lebih besar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Topeng di Depan Kamera

Satu jam setelah tinta di atas kontrak pertunangan mengering, Nara Wijaya tidak lagi memiliki kemewahan untuk merasa takut. Di ruang rias penthouse Mahesa, asisten penata gaya menarik gaun putih gading ke bahunya dengan presisi yang dingin.

“Bahu kanan jangan tegang, Mbak. Nanti di kamera terlihat seperti pengantin yang dipaksa,” gumam asisten itu, jemarinya yang dingin merapikan kerah gaun.

Nara menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya dipulas dengan riasan yang membuatnya tampak patuh, namun matanya tetap tajam. Ia bukan lagi Nara yang datang memohon keringanan utang ibunya. Ia adalah Nara yang memegang kontrak perlindungan aset—sebuah senjata yang kini ia sembunyikan di balik gaun sutra ini.

“Kalau begitu,” sahut Nara datar, “pastikan lipstik ini tahan lama. Saya tidak suka dirapikan ulang di depan wartawan.”

Di luar pintu, langkah kaki Adrian berhenti. Nara menarik napas panjang. Ia tidak butuh pria itu untuk melindunginya; ia butuh pria itu untuk tetap menjalankan perannya sebagai tameng publik.

*

Ballroom hotel mewah itu adalah arena yang sesungguhnya. Lampu sorot menyilaukan, dan aroma parfum mahal bercampur dengan bau uang yang menekan. Saat Nara melangkah masuk, ia merasakan tatapan para sosialita yang sudah hafal siapa yang pantas berada di sisi Adrian Mahesa.

Sabrina Lestari muncul dari kerumunan, langkahnya seperti predator yang sedang menguji mangsa. Ia berdiri tepat di depan Nara, senyumnya tipis dan berbisa.

“Ternyata cepat juga,” suara Sabrina cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitar. “Saya kira butuh waktu lebih lama bagi Adrian untuk meyakinkan keluarga agar mau menggandeng seseorang yang... tidak masuk dalam daftar undangan asli.”

Beberapa kamera wartawan mulai bergeser. Oskar Mahesa, berdiri di dekat panel sponsor, memperhatikan dengan minat yang dingin. Nara tidak membiarkan bahunya turun. Ia menoleh, menatap Sabrina tepat di mata.

“Untuk apa menunggu?” Nara bertanya, suaranya tenang, nyaris manis. “Dalam bisnis, posisi tidak ditentukan oleh siapa yang datang lebih dulu, tapi oleh siapa yang memegang kontrak sah.”

Sabrina tertegun. Sebelum ia bisa membalas, Adrian sudah berada di samping Nara. Ia menggenggam tangan Nara di depan lensa-lensa itu—genggaman yang dingin, keras, dan posesif.

“Lihat ke depan,” bisik Adrian pelan, tanpa menggerakkan bibir. “Jangan beri mereka celah untuk meremehkanmu.”

Nara patuh, bukan karena tunduk, melainkan karena ia tahu harga dari setiap detik pertunjukan ini. Saat kamera berhenti, ia merasakan genggaman Adrian yang menuntut. Ini adalah perlindungan yang mahal; setiap detik di depan publik adalah utang yang harus ia bayar dengan rahasia.

*

Pintu limusin menutup, memutus sorot kamera. Adrian segera melepaskan tangan Nara, seolah sentuhan itu adalah beban. Ia melonggarkan dasinya, wajahnya kembali ke mode dingin yang tak terbaca.

“Kau tadi hampir terpeleset oleh Sabrina,” ujar Adrian tanpa menoleh.

“Dan kau menarikku seperti milikmu,” balas Nara tajam. “Itu bagian dari kontrak, bukan?”

Adrian menatap lurus ke depan. “Aku menghentikannya sebelum media mengunyahmu hidup-hidup. Sabrina bukan sekadar mantan, Nara. Dia adalah pintu masuk ke arsip utang yang kau curigai. Jika kau ingin selamat, berhenti memancing mereka di depan publik dan mulai cari tahu siapa yang sebenarnya memegang kendali di ruang kerjaku.”

Nara terdiam. Di dalam map yang ia curi dari ruang kerja Adrian, ia ingat melihat catatan tentang nama ibunya. Jika benar ada nama yang lebih besar dari Oskar di balik ini, maka pertunangan ini bukan lagi sekadar sandiwara. Ini adalah perang warisan yang mematikan.

Saat mobil berhenti di depan penthouse, Nara tahu satu hal: ia harus segera membuka berkas itu malam ini juga.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced