Sarapan di Atas Jurang
Pintu penthouse itu menutup dengan bunyi klik yang terlalu halus—sebuah penanda bahwa jalan keluar telah terkunci. Di hadapan Nara, meja sarapan panjang berlapis marmer membentang seperti altar pengorbanan. Porselen putih, kopi hitam yang mengepul tipis, dan potongan buah impor tersusun presisi. Di lantai lima puluh, Jakarta tampak seperti miniatur yang bisa dihancurkan kapan saja.
Oskar Mahesa bersandar di kursinya, senyumnya tipis, sopan, dan mematikan. Di sisi lain, Adrian Mahesa duduk tegak, lengan kemejanya digulung hingga siku. Ia tidak menatap Nara. Ia menatap cangkirnya, seolah sedang menghitung sisa napas kebebasannya sendiri.
“Silakan duduk, Nara,” ujar Oskar lembut.
Nara tidak bergerak. Ia membiarkan keheningan itu memanjang, cukup untuk menunjukkan bahwa ia bukan pion yang datang untuk tunduk. “Kalau ini soal Ibu, saya ingin lihat dasarnya sekarang.”
Oskar mendorong map krem ke tengah meja. Tidak ada nama di sampulnya, hanya label: Restrukturisasi Aset. Nara menarik kursi, duduk, dan membuka map itu. Matanya memindai angka-angka yang tertera di bawah nama ibunya, Ratna Wijatama. Angka itu tidak masuk akal—bunga yang sengaja dipupuk, denda yang dimanipulasi, dan stempel notaris yang tampak terlalu bersih untuk sebuah jebakan kotor.
“Ini bukan utang,” gumam Nara, suaranya dingin. “Ini eksekusi.”
“Ini adalah solusi,” sahut Oskar. “Aku menyelamatkan reputasi keluargamu dari kebangkrutan publik.”
Adrian mengangkat pandangan. Tatapannya tajam, namun ada kilatan kelelahan di sana. Ia terjebak dalam permainan yang sama, hanya di sisi yang berbeda. “Paman, cukup,” potong Adrian datar.
Oskar tidak peduli. “Kita baru mulai, Adrian.”
Nara membalik halaman. Di sana, ia menemukan rujukan pada dokumen warisan Mahesa dan catatan rapat internal yang diblok hitam. Ia bukan hanya dipanggil untuk melunasi utang; ia dipanggil untuk menjadi perisai bagi Adrian dalam perebutan kursi kepemimpinan. Ia adalah pion yang harus terlihat cantik di depan dewan direksi.
“Jadi, saya dijual untuk menutup celah perusahaan?” tanya Nara, menatap Adrian langsung.
Adrian tidak memalingkan wajah. “Kalau kamu menolak, berkas ini bergerak hari ini. Ibumu kehilangan segalanya.”
Nara merasakan amarah yang dingin menjalar di dadanya. Ia tidak akan menjadi korban. Ia akan menjadi pemain.
“Saya terima,” kata Nara tenang. “Tapi ada syaratnya.”
Oskar tertawa kecil. “Syarat?”
“Perlindungan hukum penuh untuk Ibu. Semua tagihan dicabut, dan rumah itu menjadi milik kami tanpa gangguan Mahesa lagi. Dan satu lagi,” Nara menatap Adrian, “di atas kertas, saya adalah tunangan Anda. Bukan pengganti. Bukan cadangan. Jika Anda ingin saya menjadi perisai, perlakukan saya sebagai sekutu, bukan dekorasi.”
Adrian tertegun. Ia menatap Nara—bukan sebagai pengantin pengganti yang rapuh, melainkan sebagai lawan negosiasi yang baru saja mengubah aturan main. Ia mengambil pena, menggeser kontrak itu, dan membiarkan Nara menuliskan syarat-syaratnya.
Saat tanda tangan itu terukir di atas kertas, pintu terbuka. Staf humas masuk dengan wajah pucat. “Pak Adrian, media sudah menunggu. Foto pengumuman harus diambil sekarang.”
Adrian berdiri, bergerak ke sisi Nara. Ia menggenggam tangan Nara dengan mantap. Sentuhannya dingin, namun genggamannya kuat—sebuah pernyataan di depan publik.
Saat mereka melangkah menuju lift, Adrian menunduk, bibirnya menyentuh telinga Nara. “Jangan lupa,” bisiknya, suaranya sedingin es. “Di depan kamera, kamu milik saya.”
Kukunya menekan telapak tangan Nara. Nara tahu, permainan ini baru saja dimulai, dan ia baru saja memegang pisau yang bisa memotong leher mereka berdua.