Warisan yang Terkunci
Pukul delapan pagi, seminggu setelah pengumuman pertunangan itu menempel ke layar berita seperti noda yang tak bisa dicuci, Nara turun ke ruang sarapan penthouse. Ia langsung menangkap perubahan itu: kursinya digeser setengah meter dari meja utama, lebih dekat ke jalur pelayan. Sebuah hukuman kecil yang halus, namun cukup untuk menegaskan posisinya sebagai tamu yang hanya kebetulan diizinkan berdiri di sana.
Di atas meja marmer putih, menu sarapan sudah berubah. Oatmealnya diganti croissant, jus jeruknya diganti teh tawar. Oskar Mahesa duduk di ujung meja, menyesap kopinya dengan ketenangan seorang predator yang merasa sudah memenangkan perburuan. “Silakan duduk, Nara,” ujarnya, seolah ia adalah tuan rumah yang murah hati.
Nara tidak langsung duduk. Ia menatap kursi itu, lalu beralih ke Adrian yang baru saja melangkah masuk dengan setelan abu-abu gelap. Adrian berhenti sejenak, matanya menangkap ketegangan di meja. Nara tidak mengeluarkan suara memelas. Ia menarik kursinya sendiri, menyeretnya kembali ke posisi semula dengan dentang kaki logam yang menggema di ruang sunyi itu. Ia duduk tegak, menatap Oskar tepat di mata. “Terima kasih, Paman Oskar. Tapi saya lebih suka posisi yang memungkinkan saya melihat siapa yang datang dan pergi. Sebagai tunangan Adrian, saya rasa itu adalah hak saya.”
Oskar tertegun, lalu tersenyum tipis—sebuah topeng yang retak. Adrian, di sisi lain, tidak membantah. Ia justru menarik kursi di samping Nara, sebuah gerakan protektif yang membuat para pelayan menunduk lebih rendah. “Beri dia apa yang dia minta,” perintah Adrian singkat pada staf. Nara menangkap kunci akses terbatas yang disodorkan pelayan di atas nampan perak. Itu adalah senjata kecil yang baru saja ia menangkan.
Dengan akses itu, Nara menyusuri koridor privat menuju sayap kerja Adrian. Penjaga keamanan di depan pintu sayap timur menatapnya dengan curiga. “Ada jadwal?” tanyanya datar.
Nara mengangkat tabletnya, layar menampilkan konfirmasi akses yang baru saja ia dapatkan. “Adrian meminta saya mengurus beberapa dokumen aset keluarga. Anda ingin mengonfirmasinya sekarang?” Nama Adrian selalu menjadi perisai. Pria itu menggesek kartu, dan pintu terbuka.
Di dalam, ruang kerja Adrian adalah labirin kekuasaan. Nara tidak membuang waktu. Ia menyusuri dinding kayu gelap hingga menemukan panel kecil di dekat lemari arsip. Itu bukan sekadar penyimpanan; itu adalah brankas informasi. Dengan ketelitian yang ia pelajari dari keterpurukan ibunya, Nara berhasil membuka lapisan ruang tipis di balik panel. Di sana, sebuah map berstempel lama terselip, berdebu namun berharga.
Ia membuka map itu di atas meja kerja yang steril. Jantungnya berdegup kencang saat matanya menangkap nama-nama yang seharusnya terkubur: daftar aset, catatan pertemuan, dan satu transkrip audio. Saat ia membaca lembar ketiga, napasnya tertahan. Nama Ratna Wiratama muncul jelas, bersanding dengan catatan pembayaran yang mengaitkan kematian ayah Adrian bukan sebagai kecelakaan, melainkan skema warisan yang sistematis. Ibunya bukan sekadar korban utang; ibunya adalah saksi kunci yang dibungkam.
Nara baru saja akan memasukkan dokumen itu ke dalam tasnya ketika pintu ruang kerja terbuka. Adrian berdiri di ambang pintu, matanya menyapu ruangan, berhenti tepat pada map yang terbuka di tangan Nara.
“Taruh kembali,” suara Adrian datar, namun ada getaran bahaya di sana.
Nara tidak mundur. Ia justru mengangkat map itu sedikit. “Ini bukan sekadar dokumen warisan, Adrian. Ini adalah alasan kenapa ibu saya dihancurkan.”
Adrian melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang final. Alih-alih marah, ia menatap Nara dengan intensitas yang lebih dalam dari sekadar kesepakatan bisnis. “Kamu sudah masuk ke lapisan masalah yang bahkan tidak bisa diselesaikan dengan kontrak, Nara.”
“Maka bantu saya menyelesaikannya,” tantang Nara.
Adrian terdiam, lalu sebuah seringai tipis muncul di wajahnya. Ia tidak mengambil map itu. Sebaliknya, ia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Nara bisa merasakan tekanan udara yang berubah. “Jika kamu ingin berburu di wilayah saya, kamu harus siap dengan risikonya. Kita tidak lagi bicara tentang pertunangan palsu, Nara. Kita bicara tentang aliansi untuk meruntuhkan mereka semua.”
Nara menahan map itu di dadanya, menyadari langkahnya telah mengubah statusnya dari tunangan palsu menjadi rekan pemburu rahasia yang tidak akan pernah bisa kembali lagi.