Novel

Chapter 11: Pertarungan Akhir di Ruang Lelang

Aris memenangkan tender kota dengan menjebak Wijaya dan Pak Surya dalam skema harga yang merugikan, sekaligus mengekspos korupsi mereka di depan publik. Namun, ancaman dari masa lalu Aris tetap membayangi saat ia menerima pesan misterius baru.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pertarungan Akhir di Ruang Lelang

Udara di dalam Ruang Lelang Nasional Jakarta terasa tipis, sarat dengan aroma antiseptik yang bercampur dengan parfum mahal—bau khas kepanikan kelas atas. Aris duduk di kursi utama, punggungnya tegak, menatap layar tablet yang menampilkan pergerakan angka tender. Di seberangnya, Wijaya tampak gelisah, jemarinya mengetuk meja mahoni dengan ritme yang tidak beraturan. Pak Surya, yang kini hanya bayang-bayang dari patriark yang dulu ditakuti, berdiri di belakang Wijaya dengan wajah pucat pasi.

"Aris, kau pikir dengan menguasai PT Surya Abadi kau bisa membeli segalanya?" suara Pak Surya bergetar, sarat dengan kebencian yang tertahan. "Masih ada pihak yang memegang kartu as masa lalumu. Jangan bermimpi bisa keluar dari sini dengan kemenangan."

Aris tidak menoleh. Ia menatap grafik pergerakan harga tender yang ia manipulasi sedemikian rupa. "Kartu as? Anda bicara tentang bukti korupsi yang Anda jual kepada Wijaya?" Aris akhirnya menoleh, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Saya tidak datang ke sini untuk berdebat, Pak Surya. Saya datang untuk menutup buku."

Aris menekan satu tombol. Layar raksasa di depan ruang lelang menyala, menampilkan transkrip percakapan digital antara Wijaya dan Pak Surya mengenai sabotase data tender. Ruangan yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap. Wijaya tersentak, wajahnya memucat seketika saat melihat bukti keterlibatannya terpampang nyata.

"Itu bohong!" teriak Wijaya, namun suaranya tenggelam oleh bisik-bisik peserta lelang lainnya.

Aris membiarkan ketegangan itu memuncak. Ia tahu Wijaya telah menelan umpan itu mentah-mentah. Dengan margin keuntungan yang sengaja Aris buat mendekati nol melalui manipulasi data biaya operasional, proyek ini adalah lubang hitam finansial. Begitu palu diketuk, PT Wijaya Konstruksi akan menandatangani surat kematian finansialnya sendiri.

Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang pria dengan setelan abu-abu gelap—musuh dari masa lalu Aris—mendekat, membisikkan ancaman tentang catatan masa lalu yang bisa menghancurkan reputasi Aris. Aris tidak gentar. Tanpa menoleh, ia menekan perintah eksekusi data lainnya. Kali ini, layar menampilkan rekaman video jernih saat Pak Surya menyerahkan data tender rahasia, diikuti oleh rekaman Maya yang memanipulasi laporan keuangan perusahaan.

"Apa ini?" teriak Pak Surya saat petugas keamanan mulai mendekat. "Kalian tidak bisa melakukan ini!"

Keamanan ruang lelang dengan sigap mengawal Pak Surya dan Maya keluar ruangan. Martabat mereka hancur total di depan para investor yang kini menatap mereka dengan jijik. Aris tidak memberikan ruang bagi sisa-sisa pengaruh mertuanya. Ia tetap tenang, membiarkan palu lelang diketuk sebagai vonis mutlak. Proyek pembangunan kota jatuh ke tangan PT Surya Abadi dengan margin yang telah ia amankan.

Saat Aris melangkah turun dari podium, ia tidak merasakan euforia. Ia tahu ini baru permulaan. Saat ia merapikan jasnya, ponsel di sakunya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk, hanya berisi koordinat dan satu kalimat singkat: Permainan yang sebenarnya baru dimulai. Aris menatap layar ponselnya, menyadari bahwa musuh misteriusnya hanyalah pion dari hierarki yang jauh lebih berbahaya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced