Novel

Chapter 12: Tuan dari Keadaan

Aris mengukuhkan kemenangannya dengan mengusir Pak Surya dan Maya dari ruang lelang setelah bukti korupsi mereka terekspos. Namun, ketenangan Aris terusik oleh peretasan sistem yang canggih dan panggilan telepon misterius dari masa lalunya, menandakan bahwa musuh yang lebih besar sedang mengincar posisinya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Tuan dari Keadaan

Lampu gantung kristal di ruang lelang utama meredup, menyisakan Aris yang berdiri tegak di atas podium. Di bawah sana, di barisan kursi depan yang kini terasa seperti sel isolasi, Pak Surya dan Maya tampak gemetar. Wajah Pak Surya yang biasanya angkuh kini memucat, berganti rupa menjadi topeng ketakutan saat layar lebar di belakang Aris menampilkan bukti transaksi ilegal yang menghubungkan rekening pribadinya dengan sabotase tender.

"Data ini tidak bisa dipalsukan, Pak Surya," suara Aris membelah keheningan ruangan dengan nada dingin yang presisi. "Setiap sen yang Anda terima dari Wijaya untuk membocorkan informasi tender perusahaan telah tercatat. Anda tidak hanya menjual masa depan PT Surya Abadi, Anda menjual martabat keluarga demi keserakahan yang dangkal."

Maya bangkit dari kursinya, matanya berkaca-kaca, mencoba meraih simpati Aris di tengah sorot mata para investor. "Aris, tolong... kita bisa bicara di rumah. Ini semua kesalahpahaman. Ayah hanya ingin mengamankan posisi kita!"

Aris tidak bergeming. Baginya, Maya hanyalah bagian dari struktur korup yang harus dibersihkan. "Rumah itu bukan lagi milikmu, Maya. Dan setelah hari ini, posisi kita di dunia bisnis tidak lagi berada di level yang sama. Keamanan finansial yang selama ini kau agungkan? Semuanya telah saya tarik kembali." Tanpa menunggu jawaban, Aris memberi isyarat kepada petugas keamanan. Detik berikutnya, Pak Surya dan Maya diseret keluar, meninggalkan jejak kepanikan yang masih terasa di udara.

Aris kembali ke kantornya yang mewah. Lampu kristal di ruang Direktur Utama memantulkan cahaya dingin di atas meja mahoni yang kini sepenuhnya miliknya. Di luar jendela, gemerlap lampu Jakarta tampak seperti papan permainan yang baru saja ia taklukkan. Ia meletakkan pulpen emasnya—simbol otoritas yang baru saja ia rebut—tepat di atas dokumen tender yang telah disahkan. Bau antiseptik rumah sakit yang dulu mencekik sarafnya kini telah hilang, digantikan oleh aroma kopi hitam pekat dan kesuksesan yang sunyi.

Namun, ketenangan itu retak saat ponsel di atas mejanya bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar: serangkaian kode biner terenkripsi. Aris mengerutkan kening, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik untuk melacak asal sinyal tersebut. Ini bukan serangan amatir seperti yang dilakukan Wijaya; ini adalah presisi militer. Peringatan merah berkedip di layar—sebuah upaya peretasan balik sedang mencoba menembus firewall pribadinya. Seseorang tidak hanya sedang memantau, tapi sedang mencoba merobek topeng identitas yang telah ia bangun dengan susah payah.

Aris mengaktifkan protokol pertahanan tingkat tinggi, memutus koneksi server lokal dari jaringan publik. Ia menyadari sesuatu yang lebih besar dari sekadar dendam keluarga. Musuh ini mengenal pola enkripsinya. Musuh ini tahu siapa Aris sebelum ia menjadi menantu yang dianggap tidak berguna.

Di tengah keheningan malam, telepon Aris kembali berdering. Ia membiarkan ponsel itu bergetar tiga kali sebelum menjawabnya dengan suara tenang. "Aku tahu kau akan menelepon," ujar Aris.

Suara di seberang sana terdengar parau, dingin, dan sangat familiar—sebuah nada yang membangkitkan ingatan tentang masa lalu yang seharusnya sudah ia kubur. "Kau bermain dengan berani, Aris. Menghancurkan keluarga mertuamu hanya untuk mengamankan tender yang bahkan belum kau pahami skalanya. Kau merasa sudah menjadi tuan dari keadaan?"

Aris menyeringai tipis, bayangannya terpantul di kaca jendela, tampak tajam dan tanpa emosi. "Status mereka tidak penting lagi. Yang penting adalah, siapa kau, dan mengapa kau masih hidup setelah semua yang terjadi?"

Sambungan terputus. Aris menatap cakrawala kota yang luas. Ia tahu, kemenangan hari ini hanyalah pintu masuk menuju medan perang yang jauh lebih berbahaya. Tantangan berikutnya sudah menunggu di balik bayang-bayang.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced