Novel

Chapter 9: Warisan yang Terampas

Aris mengonsolidasikan kekuasaannya dengan memutus akses finansial Pak Surya dan Maya secara permanen, serta mengeksekusi pengosongan properti keluarga. Namun, kemenangan ini terganggu oleh ancaman misterius dari masa lalu Aris yang mulai terungkap.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Warisan yang Terampas

Ruang kerja utama PT Surya Abadi kini terasa asing bagi Pak Surya. Kursi kulit yang selama tiga dekade menjadi singgasananya kini diduduki oleh Aris. Di meja mahoni itu, tablet Aris menampilkan dasbor perbankan perusahaan yang berkedip merah—tanda akses yang telah diputus total.

"Lepaskan blokir itu, Aris," suara Pak Surya bergetar, bukan karena usia, melainkan amarah yang tertahan. "Itu dana darurat pribadi yang aku kumpulkan jauh sebelum kamu masuk ke keluarga ini. Kamu tidak punya hak menyentuhnya."

Aris tidak menoleh. Jari-jarinya menari di atas keyboard, memindahkan sisa aset likuid perusahaan ke dalam akun escrow yang ia kendalikan sendiri. "Hak? Anda berbicara tentang hak setelah menjual informasi tender ke Wijaya dan menggadaikan masa depan perusahaan demi melunasi utang judi Anda?" Aris menekan satu tombol terakhir. Suara notifikasi keberhasilan transaksi terdengar jernih di ruangan yang sunyi itu. "Semua aset ini sekarang sah milik perusahaan di bawah kendali direksi baru. Anda bukan lagi pemegang saham mayoritas, Pak Surya. Anda hanyalah mantan karyawan yang sedang saya audit."

Pak Surya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Kamu pikir kamu menang? Grup Artha Kencana tidak akan membiarkan seorang menantu tak berguna memegang tender kota ini. Mereka akan menghancurkanmu."

Aris akhirnya menatap mertuanya. Tatapannya datar, tanpa jejak emosi. "Grup Artha Kencana tidak mencari pion. Mereka mencari mitra yang memiliki kontrol penuh atas aset. Dan saat ini, aset itu ada di tangan saya, bukan di tangan seorang koruptor yang sedang menunggu panggilan kepolisian."

*

Di kediaman keluarga, Maya duduk di sofa beludru dengan bahu merosot. Saat Aris masuk, ia segera bangkit, mencoba menyembunyikan kepanikannya. "Aris, ini keterlaluan. Kartu kreditku ditolak di butik tadi siang. Seluruh staf menatapku seolah aku pencuri," suaranya melengking. Ia melemparkan sebuah map tipis ke meja marmer. "Ini dokumen jaminan. Aku bisa membuktikan Ayah tidak sepenuhnya bersalah. Kembalikan aksesku sekarang."

Aris tidak mendekat. Ia berdiri di tengah ruangan, sosoknya tampak lebih tinggi dari biasanya. "Jaminan? Kau menyebut bukti yang sudah aku kantongi sendiri sebagai jaminan?"

Maya tertegun. Aris melanjutkan dengan suara dingin, "Aku sudah memegang file digital asli, rekaman percakapan Ayahmu dengan Wijaya, dan jejak aliran dana ke rekening luar negeri yang kau bantu sembunyikan. Kau bukan sedang menegosiasikan akses, Maya. Kau sedang mencoba menutupi bangkai yang sudah membusuk."

"Aku istrimu!" teriak Maya.

"Kau adalah rekan konspirasi yang kini kehilangan perlindungan," potong Aris tajam. "Hubungan ini hanyalah skenario bisnis yang berakhir saat kau memilih untuk mengkhianati perusahaan yang memberimu kehidupan mewah. Mulai hari ini, tidak ada lagi akses. Tidak ada lagi perlindungan."

*

Eksekusi terakhir terjadi di depan mata publik. Aris datang ke kediaman mewah keluarga Surya, bukan sebagai menantu yang patuh, melainkan sebagai eksekutor. Di tangannya, sebuah map hitam berisi dokumen pengosongan properti tampak begitu ringan.

"Status kepemilikan rumah ini sudah berpindah tangan sejak kau menandatangani surat suksesi minggu lalu, Pak," ujar Aris di depan pintu utama. "Secara hukum, kau dan keluargamu hanyalah penyewa yang menunggak bayaran. Mobil dinas, kartu keanggotaan klub, bahkan akses listrik ke rumah ini sudah kuputus secara permanen."

Pak Surya jatuh terduduk, dunianya runtuh di depan tetangga dan staf yang menyaksikan. Aris berbalik pergi, membiarkan mereka dalam kehampaan yang mereka ciptakan sendiri.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Di ruang Direktur Utama, sebuah pesan terenkripsi muncul di layar komputer Aris. "Selamat atas takhtamu, Aris. Tapi ingat, setiap pion yang kau singkirkan meninggalkan jejak di lantai yang sama."

Di bawah teks tersebut, sebuah lampiran terbuka: catatan transaksi rahasia lima tahun lalu—masa di mana identitas asli Aris masih tersembunyi. Aris membeku. Ia menyadari bahwa kemenangannya atas keluarga Surya hanyalah pembuka jalan bagi musuh yang jauh lebih berbahaya, musuh yang kini memegang kunci untuk menghancurkan seluruh legitimasi yang baru saja ia bangun.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced