Panggung yang Berubah
Pintu mahoni ruang rapat utama PT Surya Abadi terbuka dengan dentuman yang memutus keheningan. Aris melangkah masuk, langkah kakinya mantap, tanpa keraguan yang dulu selalu menghantuinya. Di ujung meja, Pak Surya duduk dengan wajah sepucat kertas, jemarinya yang gemetar mencengkeram tumpukan berkas yang kini kehilangan kekuatan hukumnya.
"Rapat hari ini bukan untuk membahas proyek tender, Pak Surya," ujar Aris dingin. Ia menarik kursi utama—singgasana yang selama puluhan tahun menjadi simbol kekuasaan mertuanya—dan duduk di sana dengan wibawa yang membuat seisi ruangan membeku. "Ini adalah rapat luar biasa untuk mengesahkan suksesi kepemimpinan yang sudah Bapak tanda tangani tadi malam."
Pak Surya bangkit berdiri, mencoba mengeluarkan sisa otoritasnya dengan suara yang pecah. "Ini ilegal! Kamu memeras saya dengan bukti yang belum tentu sah di mata hukum! Dewan, jangan dengarkan dia!"
Aris tidak beranjak. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, menampilkan salinan digital dokumen suksesi dan bukti transaksi korupsi Pak Surya dengan Wijaya. "Silakan hubungi pengacara Bapak jika ingin berdebat soal legalitas. Namun, rekening perusahaan telah saya kunci, dan akses Bapak ke sistem keuangan PT Surya Abadi sudah dicabut sejak pukul enam pagi tadi." Suasana ruangan berubah seketika. Para direktur yang biasanya memuja Pak Surya kini menunduk, menyadari bahwa angin kekuasaan telah berpindah arah.
Pintu ruang Direktur Utama terbuka tanpa ketukan. Maya melangkah masuk, wajahnya pucat, namun matanya masih memancarkan sisa-sisa arogansi. Di balik meja mahoni yang kini diduduki Aris, pria itu sedang memeriksa laporan keuangan yang menunjukkan lubang besar akibat penggelapan dana sistematis.
"Aris, hentikan ini sekarang," suara Maya bergetar. "Ayah sudah menyerahkan kursi itu padamu. Jangan mempermalukannya lebih jauh di depan dewan direksi. Kita masih keluarga."
Aris tidak mendongak. Ia memutar pulpen perak di jemarinya. "Keluarga? Keluarga tidak memalsukan tanda tangan untuk menutupi korupsi tender, Maya. Dan keluarga tidak membiarkan menantunya diinjak-injak selama bertahun-tahun demi menjaga gengsi sosial." Aris menggeser sebuah tablet ke tengah meja. Layar itu menampilkan bukti digital persetujuan Maya atas transaksi fiktif ayahnya. Wajah Maya seketika kehilangan rona merahnya, berganti menjadi abu-abu ketakutan saat menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki kendali atas suaminya.
Di lobby kantor, Aris berdiri menatap hiruk-pikuk kota yang kini berada dalam genggamannya. Seorang pria dengan setelan jas mahal, perwakilan dari Grup Artha Kencana, melangkah masuk dengan senyum yang dipaksakan. "Pak Aris, selamat atas posisi baru Anda. Kami menawarkan posisi eksekutif strategis untuk memuluskan tender pembangunan kota."
Aris memutar kursi kerjanya, menatap pria itu dengan pandangan dingin. "Posisi eksekutif? Anda salah membaca situasi. Bermitra berarti posisi setara." Ia meletakkan ponselnya di atas meja, berisi bukti digital lengkap atas korupsi Pak Surya dan keterlibatan pihak luar. "Saya memegang kunci tender ini. Jika ingin bekerja sama, bicara sebagai mitra, atau silakan pergi."
Sore harinya, Aris kembali ke ruang direksi. AC yang disetel di suhu rendah seolah membekukan udara di sekitar Pak Surya yang kini terduduk lunglai di kursi tamu. Aris memutar kursi utamanya, menghadap ke layar monitor yang menampilkan dasbor keuangan perusahaan.
"Ayah masih berharap bisa melobi komisaris lain?" tanya Aris datar. "Mereka semua sudah menerima salinan audit forensik. Saya sudah memblokir semua kartu kredit korporasi dan pribadi atas nama keluarga besar. Rumah di Menteng, keanggotaan klub golf, hingga biaya sekolah luar negeri cucu-cucu Ayah. Semuanya terputus efektif mulai detik ini."
Di ruang direksi yang sunyi, Aris duduk di kursi utama dengan tatapan yang tak terbaca. Pak Surya gemetar di hadapannya, menyadari bahwa setiap inci kehidupan mewahnya telah runtuh, dan ia kini hanya menjadi sisa dari masa lalu yang akan segera dilupakan.