Novel

Chapter 7: Ujian Integritas

Aris memaksa Pak Surya menandatangani dokumen suksesi setelah membongkar bukti korupsi. Ia memutus hubungan emosional dengan Maya yang terbukti terlibat, lalu mengambil alih kursi direktur PT Surya Abadi secara publik, mengakhiri era Pak Surya dan memulai babak baru persaingan dengan Grup Artha Kencana.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Ujian Integritas

Bau kayu cendana di ruang kerja Pak Surya biasanya menjadi simbol otoritas yang tak tergoyahkan, namun malam ini, aroma itu bercampur dengan kepanikan yang tajam. Aris berdiri di depan meja mahoni besar, jemarinya mengetuk permukaan kayu dengan irama yang tenang namun mematikan. Di hadapannya, Pak Surya merosot di kursi kulitnya, wajahnya yang dulu selalu tampak berwibawa di depan publik kini pucat pasi, matanya menatap dokumen suksesi dengan tatapan kosong.

"Tanda tangani, Pak," suara Aris datar, tanpa emosi namun penuh otoritas. "Ini bukan lagi negosiasi. Ini adalah pengakuan atas kegagalan yang Anda bangun sendiri."

Pak Surya gemetar, tangannya memegang pena dengan kaku. "Aris... kita bisa bicara. Maya masih istrimu. Jangan hancurkan keluarga ini demi harga diri yang sesaat."

Aris tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jauh dari hangat. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, menampilkan file digital berisi catatan transaksi fiktif dan bukti suap yang dikumpulkan Budi selama bertahun-tahun. "Keluarga? Anda menyebutnya keluarga saat Anda menjual informasi tender PT Surya Abadi kepada Wijaya demi keuntungan pribadi? Anda bahkan melibatkan Maya dalam penandatanganan dokumen fiktif itu. Anda tidak menghancurkan keluarga ini demi harga diri, Pak. Anda menghancurkannya demi keserakahan."

Pak Surya menelan ludah, suaranya parau. "Aku bisa memberikanmu saham tambahan... posisi direktur..."

"Saya tidak butuh posisi yang Anda berikan," potong Aris dingin. "Saya butuh perusahaan yang bersih dari korupsi Anda." Tanpa menunggu jawaban, Aris menekan pena ke tangan mertuanya. Dengan satu tarikan napas panjang yang terdengar seperti deru kehancuran, Pak Surya membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen suksesi. Aris mengambil kertas itu, menandai berakhirnya era sang patriark.

Saat Aris melangkah keluar menuju ruang tamu, ia menemukan Maya yang menunggunya dengan mata sembab. Ruangan itu terasa mencekik. Maya mencoba meraih tangan suaminya, namun Aris menarik diri dengan gerakan tegas.

"Aris, tolong. Ayah sudah menyerahkan semuanya, tidak perlu dibawa ke ranah publik," suara Maya bergetar. "Nama baik keluarga adalah segalanya. Jika skandal ini sampai ke media, kita semua akan hancur."

Aris berbalik, tatapannya menghunjam. "Nama baik? Maya, kau sendiri yang menandatangani dokumen fiktif itu. Kau bukan korban; kau adalah kaki tangannya. Aku tidak peduli dengan fondasi busuk yang kalian bangun. Yang aku pedulikan adalah aset yang kalian rampas dan bagaimana aku akan mengambilnya kembali dengan bunga yang setimpal."

"Aku melakukannya karena aku harus patuh pada Ayah!" seru Maya, air matanya jatuh. "Aku istrimu, Aris!"

"Istri yang menandatangani surat pengusiran suaminya sendiri demi perusahaan?" Aris tertawa pelan, sebuah suara yang justru membuat Maya terdiam kaku. Tanpa menoleh lagi, Aris melangkah pergi, meninggalkan Maya sendirian di tengah kemegahan rumah yang kini terasa seperti penjara baginya.

Keesokan paginya, Aris melangkah ke kantor pusat PT Surya Abadi. Setelan jas navy yang ia kenakan tampak kontras dengan suasana lobi yang tegang. Budi, mantan tangan kanan Pak Surya, mengikuti di belakangnya dengan kepala tertunduk, membawa map berisi dokumen suksesi yang sah. Para direktur yang berkumpul di ruang rapat utama terdiam saat Aris mendorong pintu kaca besar itu. Pak Surya duduk di kursi direktur, wajahnya cekung karena tidak tidur.

Saat Aris mendekat, Pak Surya mencoba bangkit, namun Aris meletakkan tangannya di atas meja, menekan lembaran dokumen suksesi tepat di depan pria tua itu.

"Duduk, Pak Surya," perintah Aris. "Kita tidak sedang dalam acara keluarga. Kita sedang dalam rapat eksekusi aset."

Aris memberi isyarat kepada Budi, yang segera membagikan salinan bukti aliran dana fiktif ke meja para direktur. "Data ini bukan sekadar catatan akuntansi, ini adalah bukti pengkhianatan terhadap perusahaan yang kalian cintai." Aris kemudian melangkah menuju kursi utama. Dengan tenang, ia duduk di sana, menatap Pak Surya yang kini tak lebih dari seorang bawahan yang gemetar di hadapannya. Tidak ada jalan kembali. Kekuasaan telah berpindah tangan, dan perang yang lebih besar dengan Grup Artha Kencana baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced