Novel

Chapter 6: Pengkhianatan di Balik Meja

Aris mengonsolidasikan kekuasaannya dengan memaksa tangan kanan Pak Surya, Budi, untuk membelot. Ia kemudian menolak tawaran menjadi pion Grup Artha Kencana dan menuntut kemitraan setara. Di rumah, Aris memutus hubungan emosional dengan Maya setelah mengungkap keterlibatannya dalam korupsi ayahnya, dan akhirnya memaksa Pak Surya menandatangani dokumen suksesi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pengkhianatan di Balik Meja

Ruang rapat PT Surya Abadi tidak lagi berbau kopi pagi dan kepanikan administratif. Kini, ruangan itu berbau dinginnya kekuasaan yang berpindah tangan. Aris duduk di kursi utama, posisi yang selama tiga tahun hanya ia gunakan untuk menyiapkan kopi bagi Pak Surya. Di hadapannya, Pak Budi—tangan kanan mertuanya—tampak seperti pria yang sedang menunggu vonis mati, jemarinya mengetuk meja marmer dengan ritme yang tidak teratur.

"Anda memanggil saya, Aris? Ada urusan mendesak dengan Pak Surya?" tanya Budi. Suaranya mencoba tegas, namun matanya terus melirik pintu yang tertutup rapat, mencari jalan keluar yang tidak ada.

Aris tidak membuang waktu dengan basa-basi. Ia mendorong ponselnya ke tengah meja. Layar itu menampilkan ringkasan transaksi ilegal yang mengalir ke rekening pribadi Budi selama dua tahun terakhir, lengkap dengan stempel digital bank dan kode otorisasi internal yang hanya bisa diakses oleh orang kepercayaan Pak Surya.

"Saya tidak butuh penjelasan, Pak Budi," suara Aris datar, tajam, dan tanpa celah. "Data ini bukan sekadar catatan. Ini adalah tiket satu arah menuju penjara jika saya menyerahkannya ke komite audit sore ini. Dan Anda tahu betul, Pak Surya tidak akan melindungi Anda. Dia sedang sibuk menyelamatkan sisa asetnya yang sudah saya kunci sejak kemarin."

Budi tersentak, wajahnya memucat. "Itu... itu fitnah. Pak Surya punya wewenang untuk—"

"Pak Surya sudah habis," potong Aris. "Tender kota sudah dibatalkan, dan investor mulai menarik diri karena skandal yang Anda bantu sembunyikan. Pilihannya sederhana: menjadi martir untuk pria yang akan mencampakkan Anda saat keadaan memburuk, atau menyerahkan buku catatan rahasia itu dan mendapatkan imunitas."

Budi terdiam lama, napasnya memburu. Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit dari balik jasnya. Aris menerimanya dengan tenang. Kendali atas jaringan kaki tangan mertuanya kini ada di genggamannya.

Tak lama berselang, di sebuah sudut privat Kafe Elit Metropolis, Aris bertemu dengan perwakilan Grup Artha Kencana. Pria berjas bespoke di depannya menatap Aris dengan intensitas kalkulatif.

"Pak Surya sudah habis, Aris," ujar pria itu, membuka map berisi dokumen tender yang disembunyikan. "Kami punya modal dan ambisi untuk menguasai proyek ini. Anda punya akses ke sistem. Bergabunglah dengan kami, dan posisi eksekutif di grup kami menanti."

Aris menyesap kopi hitamnya, matanya menatap tajam ke dokumen itu. "Tawaran eksekutif? Anda ingin menjadikan saya pion baru untuk hierarki Anda," Aris meletakkan cangkirnya dengan denting halus. "Saya tidak mencari tuan baru. Saya menawarkan kemitraan setara. Saya memegang kunci akses informasi tender ini, dan Anda membutuhkan saya untuk memastikan proyek ini berjalan tanpa hambatan hukum. Kita bermitra, atau saya akan memberikan data ini kepada pesaing Anda yang lain."

Utusan itu terdiam, menyadari bahwa Aris bukan lagi menantu pesuruh yang bisa dibeli dengan janji jabatan. Aris kini memiliki dukungan modal besar di luar jangkauan keluarga Surya.

Kembali ke kediaman keluarga, suasana ruang tamu terasa mencekam. Maya duduk di sofa beludru, jemarinya bergetar saat mencoba menyentuh tangan Aris. Aris menarik tangannya dengan gerakan tegas, menciptakan jarak yang tak bisa dijembatani oleh air mata.

"Aris, tolong. Hentikan semua ini," suara Maya parau. "Ayah sudah tua. Jika kau terus membekukan akses keuangan dan membiarkan bukti korupsi itu tersebar, keluarga kita akan hancur. Nama baik kita dipertaruhkan."

Aris menatap Maya dengan dingin. "Nama itu sudah lama membusuk karena kerakusan ayahmu, Maya. Kau tidak sedang membela martabat keluarga; kau hanya takut kehilangan gaya hidupmu."

Aris memutar rekaman suara dari ponselnya—pengakuan Pak Surya yang melibatkan Maya dalam penandatanganan dokumen fiktif. Mata Maya melebar, wajahnya kehilangan warna. "Kau... kau tahu?"

"Aku tahu segalanya," jawab Aris datar. Kepercayaan yang pernah ada di antara mereka kini telah mati sepenuhnya. Maya memohon pada Aris untuk diam, namun Aris melihat pengkhianatan di matanya.

Di ruang kerja Pak Surya, Aris mengonfrontasi mertuanya yang terisolasi. Bau cerutu mahal di ruangan itu kini terasa seperti aroma kehancuran. Pak Surya mencoba meraih telepon, namun kabelnya sudah dicabut.

"Ini lelucon, Aris! Aku adalah pemilik perusahaan ini!" raung Pak Surya.

Aris menyodorkan dokumen suksesi. "Dunia sudah berubah, Pak. Budi sudah bicara. Semua jejak dana Anda ke luar negeri sudah di tangan komite audit. Anda bukan lagi patriark yang dihormati." Aris menandatangani dokumen suksesi yang akan membuang Pak Surya selamanya. Tidak ada jalan kembali.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced