Novel

Chapter 2: Jebakan di Ruang Lelang

Aris memanfaatkan peran sebagai pesuruh untuk menyusup ke sistem lelang, mengungkap konspirasi antara Pak Surya dan Wijaya. Ia menolak tawaran langsung dari Hendra, memilih untuk memegang kendali penuh atas kehancuran mertuanya sendiri.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Jebakan di Ruang Lelang

Udara di dalam Gedung Lelang Kota terasa berat, berbau campuran antara karpet tua, parfum mahal yang menyengat, dan keringat dingin para spekulan. Aris berdiri di sudut ruangan, memegang tas kerja kulit milik Pak Surya. Tas itu kosong—dokumen tender asli yang seharusnya ada di sana telah disembunyikan Pak Surya di brankas pribadinya, sebuah langkah yang ia rencanakan untuk menyalahkan Aris jika tawaran mereka ditolak.

Pak Surya tertawa lebar, menjabat tangan para pesaing dengan senyum yang hanya menyentuh bibir. Maya berdiri di sampingnya, menatap Aris dengan tatapan tajam yang seolah ingin menghapus keberadaan suaminya dari ruangan itu.

"Ingat, Aris," bisik Pak Surya, suaranya sedingin es di balik topeng keramahannya. "Tugasmu hari ini hanya satu: jadi kambing hitam. Jika tawaran kita ditolak, kau yang akan menanggung malu di depan dewan direksi. Jangan berani membuka mulut, atau kau akan berakhir di jalanan malam ini juga. Kau hanyalah beban yang kebetulan kubawa untuk menutupi kegagalanku sendiri."

Maya melirik Aris, matanya menyiratkan kelelahan yang nyata. "Aris, diam saja. Jangan membuat Ayah malu dengan tingkahmu yang tidak tahu diri itu," desisnya tanpa menatap mata Aris.

Aris mengangguk patuh, menundukkan kepala untuk menyembunyikan kilatan tajam di matanya. Di balik kerah kemejanya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Hendra, rival abadi Pak Surya, berisi tawaran kerja sama yang akan meruntuhkan posisi mertuanya dalam hitungan detik. Aris tidak berniat melawan secara emosional. Ia membiarkan bahunya merosot, memainkan peran sebagai menantu yang ketakutan dan tidak berdaya.

Saat Pak Surya melangkah pergi untuk menemui panitia lelang, Aris menyelinap ke ruang kontrol teknis yang minim pengawasan. Jemarinya menari di atas terminal, menembus enkripsi sistem lelang yang ternyata jauh lebih rapuh dari yang diiklankan. Di layar monitor, kebenaran terpampang telanjang: sistem ini telah disabotase dari dalam. Pak Surya tidak sekadar berbuat curang; ia telah menjual informasi tender kepada taipan properti bernama Wijaya. Namun, Wijaya justru berbalik menjebak Pak Surya agar terjerat dalam skandal korupsi yang lebih besar. Aris menyalin seluruh log transaksi, bukti transfer suap, dan skrip sabotase tersebut ke dalam cloud pribadinya. Kini, ia memegang kendali atas dua arah serangan.

Saat Aris melangkah keluar menuju area parkir VIP, sebuah sedan hitam menghadang jalannya. Kaca jendela turun, menampakkan Hendra yang tersenyum sinis. Ia melemparkan amplop tebal ke dasbor.

"Aris, menantu yang selalu diinjak-injak," sapa Hendra. "Aku tahu kau benci mertuamu. Berikan aku akses ke data tender rahasia Surya, dan posisi direktur di perusahaanku jadi milikmu."

Aris memungut amplop itu, menimbangnya dengan santai. Tatapannya tidak lagi menunduk; ia menatap Hendra tepat di mata. "Tawaran yang menarik, Pak Hendra. Tapi posisi direktur terlalu kecil untuk seseorang yang memegang kunci kehancuran Surya. Saya tidak butuh disuap. Saya butuh mitra untuk menghancurkannya hingga ke akar."

Hendra tergelak, namun tawanya terdengar sumbang. Ia menyodorkan map tipis dari balik jasnya. "Saham? Itu hanya kertas jika kau tidak punya nyali."

Aris tidak menyentuh map itu. Ia memutar kunci mobil Pak Surya yang ia ambil dari meja makan tadi, memainkannya di antara jemari. Ia tahu, di dalam ruang lelang, Pak Surya sedang bersiap melakukan langkah terakhirnya. Aris tersenyum tipis. Ia telah memegang kendali. Pesaing bisnis Pak Surya mungkin menawarkan kerjasama, namun Aris memiliki rencana sendiri yang jauh lebih berbahaya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced