Novel

Chapter 3: Palu yang Menghancurkan Muka

Aris mengungkap bukti korupsi Pak Surya di tengah ruang lelang, menghancurkan reputasi dan kontrak mertuanya secara publik. Kemenangan ini menandai pembalikan status Aris yang kini memegang kendali finansial atas keluarga mertuanya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Palu yang Menghancurkan Muka

Bau antiseptik yang masih menempel di jas Aris terasa kontras dengan aroma parfum mahal di ruang lelang. Di barisan depan, Pak Surya berdiri dengan dagu terangkat, membelakangi Aris seolah menantu itu hanyalah bayangan yang tak layak disapa. Maya, di samping ayahnya, menatap layar ponsel dengan gelisah, sesekali melirik Aris dengan tatapan yang lebih tajam dari belati.

"Jangan berani mendekat, Aris," bisik Maya saat Aris melangkah ke barisan kursi yang lebih dekat dengan meja panitia. "Ayah sudah mengamankan kontrak ini dengan Wijaya. Jika kau membuat keributan dan mempermalukan keluarga lagi, aku sendiri yang akan memastikan kau keluar dari rumah malam ini."

Aris tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Pak Surya yang tampak begitu kokoh, namun rapuh di mata Aris. Di balik saku jasnya, ponselnya terasa panas—sebuah perangkat yang berisi rekaman transaksi antara Pak Surya dan Wijaya, bukti bahwa tender ini hanyalah sandiwara untuk menutupi skandal korupsi yang lebih besar.

Di koridor samping, Hendra, pesaing utama Pak Surya, mencegat Aris. "Aris, berikan bukti itu padaku. Aku akan memberimu posisi direktur di perusahaanku setelah Surya jatuh," bisik Hendra dengan nada licin. Aris menatap pria itu dengan dingin. "Aku tidak mencari sekutu, Hendra. Aku mencari keadilan yang sudah lama hilang."

Moderator mengetuk palu kayu ke meja marmer. "Tender pembangunan kawasan bisnis pusat akan segera ditutup dalam hitungan detik. Penawaran terakhir dari PT Surya Abadi adalah yang tertinggi."

Pak Surya tersenyum tipis, sebuah kemenangan yang terasa di ujung lidahnya. Namun, sebelum palu itu jatuh untuk ketiga kalinya, Aris melangkah ke depan, mengabaikan tarikan tangan Maya yang mencoba menahannya.

"Tunggu," suara Aris tenang namun membelah kebisingan ruangan. Ia menatap langsung ke arah panitia. "Ada satu dokumen yang belum kalian periksa. Sebuah bukti transaksi ilegal yang dilakukan oleh pemenang tender saat ini."

Keributan pecah. Pak Surya berbalik, wajahnya merah padam. "Aris! Kau gila! Seret dia keluar!" teriaknya pada petugas keamanan.

Aris tidak bergeming. Ia menekan satu tombol di ponselnya, mengirimkan file digital ke layar proyektor utama. Seketika, mutasi rekening Pak Surya dan rekaman percakapan mengenai suap tender muncul di hadapan ratusan investor. Ruangan yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap. Wajah Pak Surya yang tadinya angkuh, kini memucat seperti kain kafan.

"Kontrak ini milik saya," ucap Aris dingin, suaranya menggema di ruangan yang kini terasa sempit bagi Pak Surya.

Moderator menatap tabletnya, lalu ke arah Pak Surya yang gemetar. "Tender ini... dibatalkan untuk PT Surya Abadi. Kami akan melakukan investigasi internal segera."

Aris mendekati mertuanya yang kini kehilangan pijakan. "Ini baru permulaan, Pak Surya. Semua akses rekening perusahaan sudah saya kunci. Selamat menikmati kehancuranmu."

Maya berdiri mematung, menatap suaminya dengan tatapan yang tak lagi penuh penghinaan, melainkan ketakutan yang nyata. Aris berbalik, meninggalkan ruang lelang dengan kepala tegak, sementara di belakangnya, Pak Surya mencoba mengakses rekening perusahaan melalui ponselnya, namun hanya menemukan layar yang terkunci rapat.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced