Novel

Chapter 1: Bau Antiseptik dan Penghinaan

Aris menghadapi tuduhan palsu dari mertuanya, Pak Surya, terkait hilangnya dokumen tender di rumah sakit. Aris tetap tenang karena ia memiliki bukti digital bahwa Pak Surya sengaja menyabotase tender tersebut demi suap pribadi. Bab berakhir dengan Aris memegang kartu as dan menerima tawaran dari pesaing bisnis Pak Surya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bau Antiseptik dan Penghinaan

Bau antiseptik di koridor VIP Rumah Sakit Medika Utama menusuk tajam, bercampur dengan aroma parfum mahal yang memuakkan dari keluarga besar mertua Aris. Aris berdiri kaku di dekat pintu ruang ICU, membiarkan bahunya merosot sedikit agar terlihat lebih lemah—sebuah kamuflase sempurna bagi siapa pun yang meremehkannya.

"Kamu benar-benar tidak berguna, Aris!" suara Pak Surya menggelegar, dingin dan tajam. Pria itu berdiri di depan kolega bisnisnya, setelan jas mahalnya tampak kontras dengan kepanikan yang ia paksakan di wajahnya. "Tender proyek pembangunan kota itu adalah masa depan keluarga kita. Bagaimana bisa dokumen penilaian teknis yang krusial itu hilang dari brankas kantor?"

Maya, istrinya, berdiri di samping Pak Surya. Ia membuang muka, keengganan terpancar dari cara ia merapatkan bibir. Maya tidak membela; ia justru terlihat malu memiliki Aris sebagai suami. Bagi keluarga besar ini, Aris hanyalah parasit yang menumpang hidup.

"Aku sudah memeriksa brankasnya, Pak. Tidak ada tanda pembobolan," jawab Aris tenang, suaranya datar namun stabil. "Dokumen itu tidak hilang. Ada yang memindahkannya."

Pak Surya mendekat, napasnya yang beraroma kopi mahal menerpa wajah Aris. "Jangan mencoba melimpahkan kesalahan! Kamu satu-satunya yang punya akses ke ruang arsip kemarin malam. Kamu sengaja menghilangkannya agar kita gagal, bukan? Supaya kamu punya alasan untuk memeras keluarga ini?"

Aris tidak berteriak. Ia tidak mencoba meyakinkan mereka akan ketidakbersalahannya. Ia hanya berdiri tegak, memperhatikan bagaimana kepanikan di wajah Pak Surya bukan berasal dari kerugian proyek, melainkan dari ketakutan akan audit yang akan segera menyusul jika dokumen itu benar-benar lenyap. Aris tahu, Pak Surya sedang melakukan manuver untuk membuangnya sebagai kambing hitam sebelum rahasia korupsinya terbongkar oleh pihak berwenang.

"Keluar dari sini, Aris. Kamu sudah membuat kami cukup malu hari ini," desis Maya, suaranya penuh penghinaan. Aris berbalik tanpa sepatah kata pun, meninggalkan koridor yang riuh oleh bisikan kolega bisnis yang merendahkannya.

Aris tidak pergi jauh. Ia mencari sudut ruang tunggu yang sepi, jauh dari jangkauan kamera pengawas rumah sakit. Layar ponselnya yang retak menyala, menampilkan antarmuka yang sangat kontras dengan penampilannya yang lusuh. Jemarinya bergerak lincah, membuka folder tersembunyi yang ia beri sandi khusus. Di sana, file tender asli yang dinyatakan 'hilang' tersimpan rapi, lengkap dengan stempel digital dan audit internal yang belum sempat dihapus oleh Pak Surya.

Aris menahan napas saat melihat detail transaksi yang terlampir. Mertuanya tidak hanya menghilangkan dokumen; ia menjual informasi harga penawaran kepada pesaing terberat keluarga untuk mendapatkan suap pribadi. "Bodoh," gumam Aris dingin. Ia menemukan jejak digital yang menghubungkan Pak Surya dengan perusahaan cangkang di luar negeri. Ini bukan sekadar kelalaian; ini adalah sabotase sistemik yang akan meruntuhkan seluruh struktur bisnis keluarga mertuanya.

Saat ia melangkah keluar menuju parkiran, seorang pria dengan setelan jas gelap—pesaing bisnis utama Pak Surya—mendekatinya. Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan perhitungan.

"Saya tahu apa yang terjadi di dalam sana, Aris," ujar pria itu sembari menyodorkan kartu nama. "Pak Surya akan segera jatuh. Jika kamu punya sesuatu yang bisa mempercepat prosesnya, saya punya tawaran yang jauh lebih menarik daripada sekadar menjadi menantu yang tidak dianggap."

Aris menatap kartu nama itu, lalu menatap layar ponselnya. Bukti korupsi Pak Surya sudah tersimpan aman. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, ia bukan lagi pion yang bisa dikorbankan. Ia memegang kunci untuk meruntuhkan segalanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced