Novel

Chapter 2: Sandiwara di Bawah Sorotan

Arini berhasil melewati konfrontasi di ballroom berkat intervensi Bram, namun menyadari bahwa perlindungan tersebut adalah bentuk kendali baru. Bram mengungkapkan bahwa ia mengetahui keberadaan anak Arini dan menuntut Arini pindah ke kediamannya demi 'keamanan', yang sebenarnya adalah langkah untuk mengurung Arini dalam pengawasan ketatnya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Sandiwara di Bawah Sorotan

Lampu gantung kristal di Ballroom Hotel Grand Artha memantulkan cahaya yang terasa seperti bilah pisau di mata Arini. Di sampingnya, Bram berdiri dengan postur angkuh, tangannya melingkar di pinggang Arini. Cengkeramannya—meskipun terlihat lembut bagi para tamu—terasa seperti belenggu besi yang siap mengunci kapan saja.

"Jadi, Arini," suara melengking Siska, seorang sosialita yang haus skandal, memecah kebisingan orkestra. "Kami semua terkejut. Bram bukan tipe pria yang mengumumkan pertunangan secara mendadak. Apa yang sebenarnya terjadi di departemen keuangan sampai kau bisa mendapatkan perhatiannya secepat ini?"

Arini merasakan napasnya tertahan. Ini bukan sekadar pertanyaan tentang pertunangan; ini adalah interogasi mengenai status sosialnya yang mendadak naik dari pegawai biasa menjadi tunangan pria paling berpengaruh di kota ini. Jika ia salah bicara, narasi penggelapan dana yang sempat dituduhkan padanya akan kembali mencuat. Sebelum Arini sempat menyusun jawaban, Bram menarik pinggangnya lebih dekat. Aroma parfum kayu cendana pria itu menyelimuti ruang gerak Arini, membuatnya merasa tercekik sekaligus terjebak dalam otoritas yang tak terbantahkan.

"Pertanyaan yang menarik, Siska," sahut Bram dengan nada dingin yang menyiratkan ancaman. "Arini bukan sekadar rekan kerja. Dia adalah alasan mengapa aku bertahan di tengah kekacauan internal perusahaan ini. Dan bagi siapa pun yang berani mempertanyakan dedikasinya, silakan berurusan langsung dengan departemen hukumku."

Bram membawa Arini menjauh dari kerumunan, menuju area VIP. Di sana, Baskoro, rival bisnis Bram, sudah menunggu dengan seringai yang tak mencapai mata.

"Bram memang punya selera unik," ujar Baskoro. "Setelah lima tahun menghilang tanpa jejak, kau kembali dengan status sebagai tunangan? Ceritakan pada kami, latar belakang apa yang membuatmu begitu berharga hingga Bram rela mempertaruhkan reputasinya?"

Arini merasakan jemari Bram di pinggangnya mengencang. Itu bukan sentuhan kasih sayang, melainkan pengingat akan kontrak yang mengikatnya. Arini menatap lurus, menjaga martabatnya meski ia tahu Baskoro tengah mengujinya. "Nilai seseorang tidak diukur dari berapa lama ia menghilang, Pak Baskoro," jawab Arini dingin. "Tapi dari seberapa besar dampaknya saat ia memutuskan untuk kembali."

Bram memotong pembicaraan dengan langkah tegas, memposisikan dirinya di depan Arini seolah-olah ia adalah perisai—atau penjaga penjara. "Cukup, Baskoro. Fokuslah pada negosiasi proyek kita, bukan kehidupan pribadi tunanganku. Kecuali kau ingin aku membuka kembali dokumen manipulasi data yang kau lakukan tahun lalu."

Baskoro terdiam, wajahnya memucat seketika sebelum ia mundur dengan canggung. Bram segera menarik Arini ke lorong VIP yang sepi. Begitu pintu ruang tunggu tertutup, ia melepaskan rangkulannya dan menuangkan wiski dengan gerakan presisi.

"Baskoro bukan ancaman lagi," suara Bram berat. Ia berbalik, menatap Arini yang berdiri kaku. "Aku sudah melenyapkan bukti palsu yang ia gunakan untuk menjebakmu. Tapi jangan salah paham, Arini. Aku tidak melakukan itu karena aku peduli pada reputasimu."

Arini menegakkan punggung. "Lalu untuk apa? Aku hanya ingin hidup tenang."

Bram melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Arini bisa mencium aroma alkohol dari tubuh pria itu. "Hidup tenang? Dengan menyembunyikan bocah itu di apartemen sempit di pinggiran kota?"

Jantung Arini seakan berhenti. Ancaman itu nyata, dingin, dan mematikan. Bram tahu segalanya. Sebelum Arini sempat membalas, ponselnya bergetar hebat. Notifikasi berita masuk bertubi-tubi. Foto mereka berdua di ballroom tersebar luas dengan narasi yang menggiring opini publik menuju skandal masa lalu Arini.

"Lihat ini," Arini menunjukkan layar ponselnya dengan tangan gemetar. "Mereka mulai menggali identitas lamaku. Jika mereka menemukan keberadaan anakku, kau akan menghancurkan hidupnya, Bram!"

Bram tidak melirik ponsel itu. Ia justru menatap tajam ke arah pintu keluar hotel. "Itu konsekuensi yang harus kau tanggung demi kontrak kita, Arini. Dunia perlu percaya bahwa kau adalah milikku agar mereka berhenti mengincar posisimu—dan agar aku bisa mengawasimu dengan lebih mudah."

"Ini bukan perlindungan, Bram. Ini penjarahan," balas Arini tajam.

Bram hanya tersenyum tipis. "Mulai malam ini, kau tidak akan kembali ke apartemen itu. Kau akan pindah ke kediamanku. Demi keamananmu, tentu saja."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced