Novel

Chapter 3: Jebakan Warisan

Arini menyusup ke ruang kerja Bram dan menemukan bahwa pertunangan mereka adalah syarat mutlak bagi Bram untuk menguasai warisan perusahaan. Bram memergokinya dan menawarkan kompensasi finansial, namun Arini menolak. Bram kemudian memaksa Arini menghadiri makan malam keluarga sebagai perisai, sebelum akhirnya menuntut Arini pindah ke apartemennya dengan ancaman akan mengungkap rahasia anaknya jika ia menolak.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Jebakan Warisan

Lampu koridor lantai eksekutif berkedip, menciptakan ritme monoton yang memuakkan. Pukul sepuluh malam. Kantor pusat sudah kosong, menyisakan keheningan yang terasa seperti ancaman. Arini tidak datang ke sini untuk bekerja; ia datang untuk mencari celah dalam kontrak yang mencekik napasnya. Dengan kartu akses duplikat yang ia ambil dari meja sekretaris, ia menyelinap masuk ke ruang kerja Bram. Ruangan itu dingin, didominasi warna monokrom yang mencerminkan pemiliknya.

Arini menarik laci meja yang terkunci, tangannya yang gemetar bergerak lincah mencoba kombinasi tanggal lahir mendiang ibu Bram. Klik. Laci itu terbuka. Di dalamnya, tumpukan dokumen tersusun rapi. Ia mengabaikan kontrak utama dan mencari berkas berlabel 'Keluarga Utama'. Saat ia membalik lembaran-lembaran itu, napasnya tertahan. Syarat Pengalihan Saham: Pernikahan sah sebelum kuartal ketiga.

Jantung Arini seolah berhenti. Pertunangan palsu mereka bukan sekadar sandiwara citra publik. Ini adalah syarat mutlak agar Bram bisa mendapatkan kendali penuh atas perusahaan keluarga. Arini hanyalah pion—sebuah perisai manusia yang dipasang untuk mengamankan kursi CEO.

"Mencari sesuatu yang berharga, Arini?"

Arini tersentak, refleks menyembunyikan lembaran kertas itu di balik punggungnya. Bram berdiri di ambang pintu, kemejanya sedikit terbuka di bagian kerah, menatapnya dengan intensitas yang lebih tajam dari pisau. Ia tidak marah, justru melangkah masuk dan duduk dengan santai di kursi kulitnya, menatap Arini seolah sedang mengamati pion yang baru saja salah langkah.

"Aku hanya tersesat," jawab Arini datar, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski kakinya terasa lemas.

Bram membuka laci, mengeluarkan cek kosong dan pena, lalu menggesernya melintasi meja. "Aku tahu kau terdesak. Hutangmu, posisi pekerjaanmu, dan tentu saja, kebutuhan untuk melindungi anakmu dari jangkauan Baskoro. Ambillah. Anggap ini kompensasi atas waktu yang kau habiskan bersamaku."

Arini menatap cek itu, lalu beralih menatap mata Bram dengan sorot kebencian yang dingin. "Hidupku dan masa depan anakku tidak bisa dinilai dengan angka di atas kertas ini. Aku bukan barang yang bisa kau beli, Bram." Ia meletakkan kembali dokumen warisan itu dengan tangan gemetar namun tegas. Bram tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tidak mencapai matanya. "Penolakanmu tidak mengubah fakta, Arini. Kontrak itu tetap berlaku, dan posisimu sekarang adalah milikku."

Belum sempat Arini memproses ancaman tersebut, Bram memaksanya hadir di sebuah makan malam keluarga yang mendadak. Restoran privat itu terasa seperti arena interogasi. Di seberang meja, Ibu Bram menatapnya dengan tatapan yang menguliti setiap detail masa lalu. "Lima tahun menghilang, lalu tiba-tiba kembali sebagai tunangan putra kami? Apa sebenarnya yang membuatmu begitu berharga sekarang?"

Arini merasakan napasnya tertahan. Bram meletakkan tangan di atas punggung kursi Arini, gestur posesif yang bagi publik tampak seperti perlindungan, namun bagi Arini terasa seperti rantai. "Dia tidak perlu menjadi berharga di mata siapa pun selain saya, Ibu," sahut Bram dingin. "Pertunangan ini adalah tentang stabilitas perusahaan."

Arini menyadari, ia bukan sedang dibela; ia sedang dikunci. Bram menggunakan kehadirannya untuk membungkam keluarga sekaligus memagari Arini agar tidak bisa melarikan diri.

Setelah makan malam, Bram menuntut Arini segera pindah ke apartemennya. Di lobi gedung yang dingin, Arini mencoba melawan. "Aku punya tempat tinggal sendiri. Ini adalah pengasingan, bukan perlindungan."

Bram melangkah maju, memangkas jarak hingga Arini terpaksa menengadah. "Di luar sana, orang-orang mulai menggali siapa wanita yang tiba-tiba menjadi tunanganku. Jika mereka menemukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka temukan—seorang anak, misalnya—kau tahu betul aku tidak bisa lagi menjamin keamananmu."

Ancaman itu menghantam Arini tepat di jantungnya. Ia tidak punya pilihan. Saat ia melangkah masuk ke apartemen Bram, sebuah mainan kecil milik anaknya terjatuh dari tasnya, menggelinding tepat di depan sepatu Bram. Arini membeku, napasnya tercekat saat Bram menunduk, menatap benda itu dengan tatapan yang mulai berubah menjadi kecurigaan tajam.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced