Kontrak di Atas Kehancuran
Lampu kristal di Ballroom Grand Menteng bukan sekadar penerangan; itu adalah sorot interogasi yang membakar kulit Arini. Di hadapannya, Direktur Utama perusahaan, Pak Baskoro, berdiri dengan wajah merah padam, melambaikan map berisi dokumen yang Arini tahu adalah jebakan. Arini berdiri tegak, jemarinya di balik punggung mencengkeram kain gaun hingga buku jarinya memutih. Jika ia dipecat dengan tuduhan penggelapan hari ini, akses medis anaknya di rumah sakit akan terputus dalam hitungan jam.
"Arini, jelaskan bagaimana dana proyek ini bisa mengalir ke rekening pribadi yang bahkan tidak terdaftar dalam sistem penggajian kita!" bentak Baskoro. Suaranya membelah kebisingan gala tahunan, menarik perhatian para kolega. Mereka berbisik, menatap Arini dengan tatapan yang menghakimi.
Arini menatap mata Baskoro tanpa berkedip. "Data itu dimanipulasi, Pak. Saya memiliki bukti bahwa akses admin saya digunakan saat saya sedang berada di luar kantor untuk audit lapangan. Beri saya waktu untuk mengakses server, dan saya akan menunjukkan siapa yang sebenarnya memindahkan dana tersebut."
"Jangan membual!" Baskoro melangkah maju, tangannya menyambar ponsel Arini yang tergeletak di meja prasmanan. "Serahkan ponselmu sekarang. Kita lihat apa yang ada di dalamnya, atau kamu keluar dari gedung ini dengan status kriminal."
Arini menahan napas. Ponsel itu adalah nyawanya. Di dalamnya tersimpan foto-foto anaknya, catatan pengobatan, dan kontak-kontak yang menjamin privasi kehidupan mereka di apartemen pinggiran Jakarta. Tepat saat Baskoro hendak menarik paksa tas kecilnya, musik orkestra berhenti mendadak, digantikan oleh keheningan yang mencekik.
Sebuah langkah kaki yang berat dan berwibawa memecah kesunyian. Bram. Pria itu melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang membalut tubuhnya dengan presisi yang mematikan. Matanya yang tajam langsung mengunci Arini, lalu beralih ke Baskoro dengan tatapan yang membuat sang Direktur mundur selangkah.
"Apa yang sedang terjadi di sini, Baskoro?" Suara Bram rendah, namun cukup kuat untuk menggetarkan isi ruangan.
"Bram… Pak Bram, saya hanya sedang menertibkan karyawan yang tidak jujur," gagap Baskoro, mencoba menyembunyikan kegugupannya di balik senyum palsu.
Bram tidak memedulikan alasan itu. Ia berjalan mendekati Arini, lalu tanpa ragu meraih pinggang wanita itu dan menariknya ke dalam pelukan yang terasa seperti sangkar. "Karyawan? Anda bicara tentang tunangan saya?"
Seluruh ballroom mendadak riuh. Arini menahan napas, menatap Bram dengan keterkejutan yang nyata. Pria ini—pria yang lima tahun lalu ia tinggalkan tanpa jejak—kini berdiri di sini, mengklaimnya sebagai milik di depan orang-orang yang ingin menghancurkannya.
Bram membawa Arini menjauh dari kerumunan, menuju sudut privat di dekat jendela besar yang menghadap lampu kota. "Jangan berterima kasih dulu," bisik Bram saat mereka sudah cukup jauh dari pendengaran orang lain. "Aku tidak menyelamatkanmu karena aku peduli. Aku melakukannya karena aku butuh seseorang yang bisa aku kendalikan untuk menutupi skandal pertunangan palsu yang sedang kubangun."
"Aku tidak akan menjadi pionmu, Bram," desis Arini, mencoba melepaskan diri.
Bram mencengkeram lengannya, tidak kasar namun tidak membiarkannya pergi. "Kau tidak punya pilihan. Aku memiliki data yang membuktikan bahwa Baskoro memanipulasi aksesmu. Aku bisa membersihkan namamu dalam satu malam, atau membiarkanmu hancur di sini dan melihat bagaimana rumah sakit itu mengusir anakmu besok pagi."
Arini membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir. "Bagaimana kau tahu tentang..."
Bram menarik Arini lebih dekat, membuat jarak di antara mereka lenyap. Ia membungkuk, bibirnya menyentuh telinga Arini, membisikkan ancaman yang paling ia takuti. "Aku tahu segalanya, Arini. Tentang apartemen sederhana di pinggiran Jakarta, tentang jadwal obatnya, dan tentang wajah yang kau sembunyikan dari dunia selama lima tahun ini. Jadi, kau akan tetap di sisiku sebagai tunanganku, atau aku akan memastikan kau tidak pernah melihatnya lagi."
Arini menatap mata Bram, mencari setitik belas kasih, namun yang ia temukan hanyalah predator yang sedang mengunci mangsanya. Ia terjebak. Bukan hanya oleh skandal kantor, tapi oleh rahasia yang kini menjadi sandera di tangan pria yang paling ingin ia hindari.