Perangkap Raka Lie
Balai komunitas bukan lagi sekadar tempat berkumpul; malam ini, ia adalah ruang tunggu vonis. Tiga hari setelah pemakaman Paman, udara di dalam ruangan terasa berat, berbau dupa sisa ritual dan debu tua yang tak pernah dibersihkan. Lina duduk di barisan depan, jemarinya yang dingin mencengkeram kunci brankas di balik saku jaketnya. Logam itu terasa seperti satu-satunya jangkar di tengah badai bahasa yang sengaja diputarbalikkan oleh para tetua.
Raka Lie berdiri di sisi meja utama, memancarkan aura sukses yang tidak alami. Ia memegang mikrofon dengan jemari yang terawat, senyumnya tipis, sopan, dan mematikan. “Lina,” suaranya bergema, tenang namun menekan. “Karena kita semua keluarga, mari bicara terbuka. Dana komunitas tidak bisa hilang begitu saja. Jika namamu yang tercatat dalam skema perbankan gelap, maka tanggung jawab itu mutlak milikmu.”
Kata ‘keluarga’ itu jatuh seperti palu hakim. Lina tidak menjawab. Ia membiarkan keheningan itu memanjang hingga terasa mencekik. Di sudut mata, ia melihat Maya Suryani berdiri kaku, memegang map administrasi begitu erat hingga buku jarinya memutih. Maya menatap Lina, sebuah isyarat penuh ketakutan yang jelas: jangan buka mulut jika kau belum siap hancur.
“Pengkhianatan?” Lina akhirnya bersuara, memotong dengung kipas angin tua di langit-langit. Ia mengeluarkan buku catatan berkode yang ia ambil dari ruang arsip. “Jika ini tentang pengkhianatan, Raka, mungkin kita harus bicara tentang mengapa namaku, ‘Tan Lian’, menjadi tumbal dalam setiap jalur pencucian uang yang kau kelola selama dua tahun terakhir.”
Ruangan itu membeku. Kong Atek, yang duduk di samping Raka, perlahan menundukkan kepala. Ia tidak lagi berpura-pura pikun; pria tua itu menatap meja dengan penyesalan yang dalam. Raka kehilangan ritme; senyumnya tetap terpasang, namun matanya bergetar. Ia baru menyadari bahwa meja ini, dan semua orang yang duduk di baliknya, tidak lagi berada di bawah kendalinya.
“Lina, jangan asal bicara,” Raka mencoba menekan, suaranya kini sedikit lebih tinggi, kehilangan keanggunan palsunya. “Kau hanya keponakan yang tidak tahu apa-apa tentang beban operasional jaringan ini.”
“Aku tahu cukup untuk tahu bahwa brankas utama tidak lagi berisi dana, melainkan bukti siapa yang sebenarnya mencuri,” balas Lina tegas. Ia bangkit dari kursinya, kunci brankas di tangannya berkilau di bawah lampu neon yang berkedip.
Suasana pecah. Para tetua mulai berbisik, keraguan yang selama ini dipendam kini meledak menjadi pertanyaan tajam tentang siapa yang mengatur pengiriman dan siapa yang selama ini memeras mereka. Kong Atek akhirnya mengangkat wajah, menatap Raka dengan tatapan yang menghancurkan legitimasi pemuda itu. “Lina benar, Raka. Sistem ini sudah retak karena keserakahanmu sendiri.”
Saat para tetua mulai bubar, Raka mendekati Lina. Ia tidak lagi berteriak. Dengan senyum yang masih tertahan di wajahnya, ia mencondongkan tubuh ke arah Lina, berbisik tepat di telinganya. “Kau pikir kau menang? Kau hanya baru saja memicu bom waktu. Jika kau membuka brankas itu, reputasi keluarga hancur. Dan jika kau berani melangkah lebih jauh, Maya akan menjadi orang pertama yang kehilangan segalanya. Aku bisa menghancurkan hidupnya dalam semalam, dan kau tahu aku tidak bercanda.”
Lina terpaku. Ancaman itu nyata, tajam, dan menyasar tepat pada kelemahannya. Raka menarik diri, memberikan tepukan ringan di bahu Lina seolah-olah mereka baru saja berbagi canda, lalu berjalan pergi dengan angkuh. Lina ditinggalkan di tengah balai yang mulai kosong, memegang kunci yang bisa menghancurkan Raka, namun kini menyadari bahwa harga untuk kebenaran mungkin adalah nyawa sahabatnya sendiri.