Novel

Chapter 9: Pilihan yang Tak Terelakkan

Lina mengonfrontasi Raka dan mengungkap bukti penggelapan dana di depan para tetua dan pejabat kota yang terlibat, meski ia tahu risikonya adalah kehancuran reputasi keluarga dan stabilitas ekonomi komunitas.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pilihan yang Tak Terelakkan

Kipas angin tua di ruang arsip balai komunitas berderit, memotong kesunyian yang mencekam. Lina menempelkan punggungnya ke lemari besi yang dingin, sementara Maya Suryani merapatkan map cokelat ke dada seolah itu adalah perisai. Di layar ponsel Maya, notifikasi perbankan berkedip merah: akun operasional komunitas dibekukan. Nama Raka Lie tertera sebagai otorisator tunggal.

"Dia mulai," bisik Maya. Suaranya datar, namun matanya menyimpan ketakutan yang nyata.

Lina mengambil ponsel itu. Bukan untuk mencari celah, melainkan untuk memastikan apa yang ia takutkan. Raka tidak perlu melakukan kekerasan fisik; ia cukup mematikan aliran uang, dan toko kelontong di gang belakang, kios obat, hingga penjual tahu pagi akan merasakan dampaknya sebelum matahari terbenam.

"Ini bukan cuma soal kamu, Maya," ujar Lina. "Dia ingin kita panik. Kalau kita panik, kita akan membuat kesalahan."

"Lalu apa? Kita lapor polisi?" Maya tertawa getir. "Dan bilang apa? Bahwa bendahara komunitas dibekukan karena kamu membawa buku catatan Paman yang berkode? Bahwa ledger ini dipakai untuk menyamarkan identitas 'Tan Lian'?"

Nama itu menggantung di udara, berat dan memuakkan. Identitas yang digunakan untuk menutupi penggelapan dana, kini menjadi jerat yang mencekik leher Lina sendiri.

Maya membuka map cokelatnya, mengeluarkan beberapa lembar cetakan yang lusuh. "Aku punya ini sejak minggu lalu. Raka memindahkan dana melalui vendor palsu, bukan ke brankas operasional, tapi ke akun yang melunasi utang orang luar. Jika ini masuk ke penyelidikan resmi, dia akan terseret kasus besar. Tapi, dia punya kenalan di kantor izin usaha. Dia bisa memutarbalikkan fakta dan membuatmu terlihat seperti pelaku utama yang mencoba kabur."

Lina membaca dokumen itu. Ada aliran uang yang dipotong-potong agar tampak seperti bantuan sosial, lengkap dengan stempel email dari kantor pemerintah setempat. Ini bukan sekadar korupsi keluarga; ini adalah jaringan yang lebih besar.

"Kalau kita diam, dia terus memakai Maya sebagai tali," kata Lina. "Kalau kita bongkar, dia akan menghancurkan Maya lebih dulu."

"Lalu apa rencanamu?"

Lina menatap kunci brankas di sakunya. "Kita tidak lapor diam-diam. Kita buka semuanya di depan umum. Di balai ini, saat semua orang ada di sana."

*

Di kedai teh samping balai, Kong Atek duduk sendirian. Tangannya gemetar saat ia menyerahkan buku catatan kecil yang pinggirnya menghitam. "Aku membiarkan sistem busuk ini berjalan karena aku takut komunitas ini pecah," akunya. "Tapi Raka sudah melampaui batas. Dia tidak lagi sekadar menutup mulut; dia menggunakan orang sebagai tumbal."

Lina menatap lelaki tua itu. "Kenapa sekarang?"

"Karena jaringan sudah retak dari dalam. Paman meninggalkan instruksi di jalur pengiriman tua. Brankas utama tidak hanya berisi bukti penggelapan, tapi juga daftar jaminan. Termasuk paspormu."

Lina menarik napas panjang. Paspornya bukan hilang; itu disita sebagai jaminan kontrol. Ia menggenggam kunci brankas itu erat-erat hingga ujung logamnya menekan kulit. Beban itu kini terasa nyata—bukan lagi milik orang lain, melainkan miliknya untuk dipikul.

*

Saat Lina melangkah kembali ke balai, Raka mencegatnya di tangga darurat. Ia memutar kunci mobil di jarinya, tampak sangat tenang. "Masih mau main keras?" tanyanya meremehkan. "Aku punya paspormu di sini. Ambil, serahkan kunci brankas dan buku itu, lalu pergi malam ini juga. Tak perlu lagi jadi alat keluarga yang tidak pernah mengakui darahmu."

Lina menolak amplop itu dengan ujung jarinya. "Aku tidak mau jadi pahlawan dari puing, Raka. Aku hanya ingin rumah ini berhenti memangsa orang yang tinggal di dalamnya."

Lina melangkah melewati Raka menuju podium. Ruangan itu penuh sesak. Di barisan depan, seorang pejabat kota dengan pin emas di dada duduk dengan angkuh, menatap panggung seolah ia pemilik ruangan. Lina mengenali wajah itu dari dokumen Maya.

Ia naik ke podium, menaruh buku catatan di atas mikrofon yang miring. Suasana ruangan mendadak hening. Raka berdiri di samping, senyumnya mulai retak.

"Kalau kamu buka semua, toko-toko di sini mati," bisik Raka tajam. "Kamu mau menghancurkan reputasi keluarga demi membuktikan kamu layak?"

Lina menatap pejabat kota itu, lalu ke arah para tetua yang menunggu. Pilihannya hari ini akan menentukan apakah ia akan tetap menjadi 'Tan Lian' yang terjerat, atau menjadi orang yang meruntuhkan jaringan untuk membangun sesuatu yang baru. Ia membuka buku catatan itu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced