Novel

Chapter 5: Bayang-bayang Ibu Sien

Lina mengonfrontasi Ibu Sien di rumah sewaannya, mengungkap bahwa ibunya adalah arsitek utama penggelapan dana yang menggunakan identitas Lina sebagai tumbal. Ibu Sien menolak mengakui Lina sebagai keluarga, menegaskan bahwa pengorbanan Lina adalah harga untuk bertahan hidup di jaringan. Lina meninggalkan tempat itu dengan tekad bulat, namun segera menerima pesan misterius yang mengindikasikan adanya instruksi rahasia dari mendiang pamannya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bayang-bayang Ibu Sien

Tiga hari setelah pemakaman Paman, udara di pinggiran kota pelabuhan terasa lebih pengap. Lina berdiri di depan rumah sewaan yang alamatnya ia temukan tertulis setengah terhapus di kertas bon tua. Tidak ada sambutan hangat di sini. Hanya dengung kipas tua yang berdecit patah-patah, seolah sengaja menutupi suara apa pun yang terjadi di dalam.

Lina mengetuk sekali, keras. "Bu Sien."

Beberapa detik kemudian, pintu berderit terbuka, terganjal rantai pengaman. Wajah Ibu Sien muncul setengah—rambutnya disanggul asal, matanya lebih tajam daripada foto keluarga yang dulu tersimpan rapi di lemari Paman. Tidak ada sisa kasih sayang di sana, hanya tatapan siaga seorang arsitek yang merasa terganggu.

"Kau salah alamat," suara Ibu Sien datar. "Nama di kontrak ini Sien Tan. Bukan kau."

Lina tidak mundur. Ia mengangkat buku catatan berkode yang ia curi dari arsip balai komunitas. "Semua jejak yang saya ikuti berhenti di sini, Bu. Nama 'Tan Lian' yang dipakai untuk menutupi lubang dana komunitas, paspor saya yang disita, dan utang yang tiba-tiba jatuh ke pundak saya. Semuanya bermuara di sini."

Ibu Sien mematung, lalu perlahan membuka rantai pintu. Ia mempersilakan Lina masuk ke ruang tamu yang berbau dupa dan minyak angin. Di meja rendah, sebuah amplop transfer yang dilipat rapi ditekan oleh batu kecil, tampak seperti benda yang sengaja dipamerkan.

"Duduklah," ucap Ibu Sien dingin. "Kalau kau datang untuk marah, kau terlambat. Kalau untuk bertanya, pilih kata-katamu dengan hati-hati."

Lina melempar ponselnya ke meja, menampilkan bukti transaksi yang menghubungkan identitasnya dengan penggelapan dana. "Ini bukan salah ketik. Ini nama saya yang dijual sebagai tumbal agar posisi Ibu tetap aman di mata jaringan."

Ibu Sien tertawa kecil, suara kering tanpa kehangatan. "Jaringan ini bukan soal uang, Lina. Ini soal bertahan hidup. Jika namamu tidak dikorbankan, maka namaku yang akan dihapus dari ledger. Dan kau tahu apa artinya itu bagi seseorang seperti kita? Kita akan lenyap tanpa jejak."

"Jadi Ibu memang sengaja membuang saya?" tanya Lina, suaranya bergetar menahan amarah.

Ibu Sien berdiri, memangkas jarak hingga Lina bisa mencium aroma melati yang pekat dari pakaiannya. Ia melirik ke arah jendela, ke arah sosok pria berjaket gelap yang berdiri di bawah lampu jalan—pengawas yang sama yang mengikuti Lina sejak hari pemakaman. "Kamu pikir kamu bisa membongkar ledger itu? Kamu hanya orang luar yang kebetulan punya nama yang sama dengan utang yang harus dibayar. Jangan coba-coba mengubah takdir yang sudah ditulis untukmu."

Lina menatap mata ibunya—tidak ada penyesalan, hanya dinginnya sistem yang telah menelan Paman dan kini menargetkannya. "Saya bukan pion, Bu. Saya akan membongkar semuanya, dan Ibu akan jadi orang pertama yang harus bertanggung jawab."

"Kamu tidak pernah jadi bagian dari keluarga ini, jadi jangan coba-coba mengubah takdirnya," desis Ibu Sien.

Lina berbalik, meninggalkan rumah itu dengan dada sesak. Saat ia berjalan menjauh di trotoar retak, ponselnya bergetar di saku. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:

Tukar jam 14.10 di loket pengiriman tua, amplop krem tiga lipat, nama penerima ditulis pakai aksara lama. Jangan bawa buku catatan. Pamanmu yang atur jumlahnya. Kalau kamu baca ini, berarti mereka belum ambil semua.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced