Novel

Chapter 4: Retakan di Dinding Toko

Lina menelusuri toko-toko dalam buku catatan dan mengungkap bahwa dana komunitas dialihkan untuk menutupi utang pribadi Ibu Sien, dengan dirinya sebagai tumbal. Ia dikonfrontasi oleh Raka Lie di gang pasar, namun berhasil meloloskan diri. Bab berakhir dengan Lina menyadari ia diawasi oleh pengawas pamannya dan menerima peringatan dingin dari Ibu Sien.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Retakan di Dinding Toko

Tiga hari setelah pemakaman pamannya, buku catatan berkode di saku Lina terasa lebih berat daripada tumpukan uang. Itu bukan sekadar kertas; itu adalah daftar dosa yang dipaksakan atas namanya. Sore itu, ia tidak lagi berjalan sebagai pengamat. Ia adalah ancaman yang bergerak di antara etalase toko kelontong yang berbau teh pekat dan kayu lembap.

Di toko pertama, Ah-Ming menatapnya dengan tangan gemetar di atas tumpukan amplop cokelat—lipatan yang sama persis dengan yang ia temukan di ruang arsip balai komunitas.

"Paman," bisik Lina, suaranya tajam. "Siapa yang memakai nama Tan Lian untuk transfer ini?"

Ah-Ming menutup amplop itu dengan telapak tangannya, matanya liar mencari bayangan di balik pintu. "Jangan sebut nama itu. Pergi, Lina. Mereka tidak cuma mengambil uang, mereka mengambil napasmu."

"Dana itu tidak hilang, kan?" Lina menekan buku catatannya ke meja. "Ini sistem. Siapa yang datang?"

Ah-Ming menggeleng, wajahnya pucat pasi. "Ada orang yang membawa daftar. Bilang ini jalur biasa. Kalau aku bicara, toko ini habis. Anak-menantuku, istriku... mereka semua bisa jadi tumbal."

Lina meninggalkan toko itu dengan dada sesak. Ia bukan lagi orang luar; ia adalah saksi yang mulai mengerti bahwa di Pecinan ini, kebenaran adalah komoditas yang terlalu mahal untuk dibayar dengan nyawa.

Di toko kedua dan ketiga, polanya sama. Ketakutan yang membeku, amplop dengan cap komunitas yang pudar, dan mata yang menghindar. Sampai di toko terakhir, seorang lelaki kurus akhirnya bicara setelah memastikan pintu besi tertutup rapat.

"Bukan dicuri," katanya lirih. "Dialihkan. Untuk bayar utang pribadi Ibu Sien. Orang besar selalu punya cara membuat urusan mereka menjadi beban semua orang."

Nama itu menghantam Lina. Ibu Sien—sosok yang selalu duduk tegak di balai komunitas dengan tatapan dingin—ternyata adalah arsitek di balik lubang dana yang kini menjerat leher Lina. Ia bukan sekadar bibi; ia adalah pemegang kendali yang menggunakan identitas Lina sebagai tumbal untuk menutupi masalah lama yang tidak boleh naik ke permukaan.

Saat Lina keluar, langkah di belakangnya berubah. Tidak lagi acak. Raka Lie berdiri di mulut gang, jaket gelapnya menyerap cahaya sore. Dua pria di belakangnya menunggu dengan tangan di saku.

"Kau makin berani, Lina," suara Raka dingin, tanpa hangat. "Kau tidak mengerti. Yang kau bawa itu bukan milikmu. Kalau kau terus main jalan sendiri, bukan cuma kau yang kena."

"Dana itu untuk utang Ibu Sien, kan?" tantang Lina.

Raka maju selangkah. "Buat jaringan, yang penting lubangnya tertutup. Orang yang namanya lemah, dompetnya kosong, suaranya tidak didengar—itu yang dipakai. Kau tahu itu sekarang. Jangan pura-pura kaget."

Lina tidak menunggu. Ia menghantam bahu Raka, memutar tubuh, dan berlari ke lorong sempit yang ia kenal sejak kecil. Napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar. Ia berhasil lolos, tapi ia tahu Raka tidak benar-benar mengejarnya sampai mati. Raka membiarkannya pergi untuk melihat ke mana ia akan membawa bukti itu.

Ketika ia kembali ke balai komunitas, malam sudah turun. Ia merasa telanjang di bawah tatapan orang-orang tua yang menghitung sayur di bangku plastik. Di sudut lorong, ia merasakan kehadiran itu lagi—pria yang sama yang dulu mengawasi pamannya. Pengawasan itu nyata, fisik, dan tidak lagi bersembunyi.

Di depan pintu samping balai, Ibu Sien berdiri dengan tas belanja di tangan. Ia tidak terkejut melihat Lina. Ia hanya menatapnya dengan dingin, seolah Lina hanyalah debu yang mengganggu kebersihan lantai.

"Kamu tidak pernah jadi bagian dari keluarga ini," ucap Ibu Sien datar, suaranya memotong udara seperti pisau. "Jadi jangan coba-coba mengubah takdirnya."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced