Loyalitas yang Bersyarat
Tiga hari setelah pemakaman, nama 'Tan Lian' bukan sekadar label di atas kertas; itu adalah jerat yang mengencang di leher Lina. Ia membawa buku catatan bersampul hitam itu di dalam tas plastik, sensasi lembapnya menempel di telapak tangan seperti keringat dingin. Di luar balai komunitas, dunia tampak normal, namun di dalam, setiap langkahnya diawasi oleh mata-mata yang berpura-pura sibuk dengan urusan koperasi.
Lina mendorong pintu kantor administrasi tanpa mengetuk. Ruangan itu pengap, berbau debu dan tinta stempel. Maya Suryani, sahabat masa kecilnya, sedang menatap layar komputer dengan bahu tegang. Saat melihat Lina, Maya segera mematikan monitor.
“Taruh pelan,” bisik Maya, matanya melirik ke arah jendela yang menghadap lorong belakang. “Dinding di sini punya telinga.”
Lina meletakkan tas itu di meja besi. Bunyi plastik yang tipis terdengar nyaring di tengah dengung kipas tua. “Namaku sudah ada di ledger resmi, Maya. Buku ini cuma bukti tambahan. Kenapa pasporku ditahan? Kenapa aku yang harus jadi penanggung jawab utang yang tidak pernah kubuat?”
Maya tidak menjawab. Ia menarik buku itu dengan ujung jari, seolah benda itu bisa meledak. Ia membuka halaman yang penuh dengan coretan angka dan kode Mandarin. “Ini bukan catatan utang biasa. Ini aliran dana perlindungan. Nama-nama di sini ditulis bukan sebagai pemberi, tapi sebagai penutup lubang.”
“Perlindungan dari apa?”
“Dari pertanyaan,” jawab Maya dingin. Ia menunjuk deretan nama yang dicoret dan ditulis ulang. “Lihat polanya. Dana komunitas dipindahkan keluar, lalu ditambal menggunakan nama anggota yang tidak punya kuasa untuk membantah. Nama kamu, Tan Lian, adalah tumbal yang sempurna.”
Lina merasakan dunianya miring. “Mereka sengaja memakai identitasku?”
“Di mata jaringan, iya.” Maya menatap Lina dengan tatapan yang lebih buruk dari rasa kasihan—tatapan seseorang yang tahu pintu keluar sudah terkunci. “Aku pernah melihat ini sebelumnya. Ada orang lain yang dikorbankan demi stabilitas. Mereka butuh cerita yang rapi agar publik tidak curiga.”
“Siapa orang itu?”
Maya terdiam. Kipas tua di sudut ruangan berdecit, memutar udara panas yang menyesakkan. “Aku pernah disuruh diam. Aku takut, dan aku pikir kalau aku diam, luka itu berhenti di satu orang. Ternyata tidak.”
Sebelum Lina sempat mendesak, pintu terdorong pelan. Raka Lie melangkah masuk dengan setelan rapi dan senyum yang tidak mencapai matanya. Ia membawa map tipis, auranya mendominasi ruangan yang sempit itu.
“Lina,” suaranya halus, namun penuh tekanan. “Kamu membuat hari ini jadi sulit. Aku datang untuk membantu.”
“Bantuanmu selalu punya harga, Raka,” sahut Lina tajam.
Raka mendekat, aroma kopi dan parfum mahal menguar dari tubuhnya. “Kalau kamu mau tetap bernapas di kota ini, semua bantuan memang ada harganya. Serahkan buku itu. Aku bisa atur agar namamu tidak terlalu kotor di catatan orang-orang penting.”
“Atur, atau hapus?” sela Maya.
Raka melirik Maya dengan tatapan meremehkan. “Maya, kamu tahu sistem ini lebih aman jika dipegang oleh mereka yang mengerti risiko.” Ia meletakkan map di meja, berisi kertas transfer yang dilipat rapi. “Ini jalan keluar. Serahkan buku itu, dan aku pastikan keluargamu tidak ditekan di depan umum. Nama kamu bisa tetap bersih untuk sementara.”
Lina menatap map itu, lalu menatap Raka. “Kamu yang mencuri dana itu, bukan?”
Raka tidak membantah. Ia hanya menatap Lina dengan kesabaran yang dingin. “Kamu masih percaya ada satu tangan saja di balik ini? Sistem ini tidak sesederhana itu. Buku itu tidak akan membuatmu bebas, Lina. Justru sebaliknya, itu akan membuatmu sendirian.”
Setelah Raka pergi, ruangan terasa lebih dingin meski suhu udara tetap panas. Maya membuka buku catatan itu di halaman tengah, jarinya gemetar saat menunjuk satu baris kode.
“Aku pernah melihat orang itu dibawa keluar,” bisik Maya. “Bukan ke kantor polisi. Dibawa diam-diam supaya cerita tetap rapi. Mereka bilang itu demi stabilitas jaringan.”
Lina ingin bertanya siapa orang itu, namun suara langkah kaki di lorong membuat mereka membeku. Dua pasang sepatu berhenti di depan pintu, memastikan isi ruangan. Maya memberi isyarat agar Lina tidak keluar lewat pintu depan.
Saat Lina mengintip dari celah tirai, ia melihat seorang pria berdiri di lorong belakang. Bahunya tidak pernah santai, matanya menyapu area dengan kewaspadaan seorang pengawas. Itu adalah orang yang sama yang ia lihat di pemakaman pamannya.
Lina menyadari satu hal yang mengerikan: ia tidak hanya sedang dijebak oleh utang, ia sedang dipastikan tetap berada di jalur yang sama dengan pamannya—jalur yang ujungnya adalah penghapusan total demi menjaga rahasia jaringan tetap utuh.