Buku Catatan di Balik Laci
Bau dupa sisa pemakaman itu masih menempel di serat mantel Lina, aroma cendana manis yang kini terasa mencekik. Tiga hari telah berlalu sejak namanya diseret ke dalam daftar utang kolektif di balai komunitas. Malam ini, gedung tua itu terasa seperti labirin yang menyempit. Suara kipas angin tua di langit-langit berderit ritmis, sebuah detak jam yang menghitung sisa waktu Lina di kota ini sebelum ia benar-benar terikat pada kewajiban yang tidak pernah ia minta.
Lina menyusuri lorong menuju ruang arsip. Ia tidak datang untuk mencari restu leluhur; ia datang untuk mengambil paspornya yang disita. Di saku mantelnya, kunci cadangan yang ia simpan sejak masa kecil—sebuah kenang-kenangan yang kini berubah fungsi menjadi alat pembongkar rahasia—terasa dingin dan tajam. Pintu kayu ruang arsip berderit pelan, membelah keheningan yang pekat. Di dalam, tumpukan ledger berdebu dan amplop transfer tertata rapi, menjaga rahasia yang mengikat nyawa setiap orang di Pecinan ini.
Lina langsung menuju laci kayu di sudut ruangan. Terkunci. Ia tidak membuang waktu; ia menggunakan penjepit kertas yang telah ia siapkan, memutar dan menekannya hingga bunyi klik yang tajam memecah kesunyian. Laci itu terbuka. Jantung Lina berdegup kencang, berharap melihat sampul paspornya. Namun, yang menyambutnya hanyalah bundelan catatan kecil berkode. Saat ia mulai menyalin deretan angka dari bundel tersebut, ia menyadari itu bukan catatan utang biasa. Itu adalah peta distribusi dana yang dialihkan—sebuah skema perlindungan yang sebenarnya telah retak dari dalam.
Kriet.
Suara langkah menyeret sandal di atas lantai kayu membuat jemari Lina gemetar. Ia segera mendorong buku itu kembali tepat saat bayangan seseorang muncul di ambang pintu. Kong Atek berdiri di sana, mengenakan kaus tipis yang tampak kebesaran di tubuhnya yang ringkih. Matanya yang keruh menatap Lina dengan tatapan kosong yang biasa ia gunakan untuk menepis pertanyaan orang-orang.
"Lina? Sudah larut. Kenapa masih di sini, Nak?" tanya Kong Atek. Suaranya serak, menyerupai gesekan kertas tua.
Lina mencoba mengatur napasnya. "Hanya mencari berkas almarhum Paman, Kong. Siapa tahu ada yang tertinggal."
Kong Atek masuk perlahan, langkahnya tidak lagi terdengar lemah. Ia berhenti tepat di depan meja, tangannya yang berbuku-buku menyentuh tepi meja kayu itu. "Berkas Pamanmu sudah terkunci rapat di dalam ledger komunitas. Kamu tahu itu, kan? Kamu yang membubuhkan tanda tangan di sana tadi siang." Lina merasakan dingin merayap di punggungnya. Kong Atek bukan sekadar penjaga gerbang; ia adalah arsitek dari jebakan ini. "Ingat, Lina, yang hilang dari daftar resmi seringkali adalah hal paling berharga yang harus dijaga. Jangan cari apa yang tidak ingin ditemukan."
Setelah Kong Atek pergi, Lina kembali ke meja catatan. Ia membuka bundel itu satu per satu. Di balik lapisan kertas karbon dan kuitansi remuk, ia menemukan daftar nama toko kecil yang tidak terdaftar secara resmi. Di baris kesepuluh, ia menemukan namanya sendiri: Tan Lian. Bukan namanya yang biasa, melainkan bentuk nama yang dipelintir, dengan angka identitas yang sama persis dengan kode di paspornya. Ia bukan sekadar penanggung jawab utang; ia adalah pion yang dipasang untuk menutupi lubang dana yang dicuri oleh seseorang di dalam lingkaran ini.
Lina segera keluar dari balai dan menuju warung mie di lorong belakang. Pukul tiga pagi, ia menekan ponselnya ke telinga, berharap mendapatkan jawaban dari Maya. Suara rekaman kantor administrasi yang terputus-putus terdengar di seberang: "...kalau nama Lina sudah masuk lampiran, jangan pakai jalur biasa. Pindahkan berkas ke laci kanan..."
Lina membeku. Notifikasi pesan lama yang baru muncul di ponsel pinjamannya mengonfirmasi kecurigaannya. Paspornya tidak hilang; paspornya telah dipindahkan sebagai jaminan agar ia tidak bisa keluar dari kota. Maya, yang seharusnya menjadi sekutunya, mengirimkan pesan suara singkat yang membuat napas Lina tercekat: "Lina, aku pernah melihat seseorang dikorbankan demi stabilitas jaringan yang sama. Jangan mencoba lari, karena mereka sudah memegang kunci hidupmu."