Novel

Chapter 1: Nama yang Dihapus dari Daftar

Lina Tan terjebak dalam jebakan keluarga saat menghadiri pemakaman pamannya. Di balai komunitas, ia dipaksa menanggung utang kolektif keluarga dan mendapati paspornya telah disita, memaksanya untuk terlibat dalam rahasia jaringan yang selama ini ia hindari.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Nama yang Dihapus dari Daftar

Bau dupa yang menusuk hidung dan suara kipas angin gantung yang berderit ritmis menjadi satu-satunya musik di balai komunitas malam itu. Lina Tan berdiri di sudut ruangan, berusaha menyatu dengan bayang-bayang pilar beton yang retak. Ia hanya ingin menyelesaikan formalitas pemakaman pamannya—memberikan penghormatan terakhir, mencatat nama di buku tamu, lalu menghilang kembali ke kehidupan pribadinya yang tidak melibatkan urusan utang-piutang keluarga besar Tan.

Namun, suasana di balai komunitas itu tidak mengizinkan ketidakpedulian. Para tetua duduk di barisan depan dengan wajah batu, berbisik dalam dialek Hokkien yang tajam. Bahasa itu seperti pagar kawat berduri; Lina memahami setiap suku katanya, namun ia tahu ia tidak diizinkan masuk ke dalam lingkaran percakapan mereka. Baginya, bahasa di sini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan kunci akses. Dan saat ini, pintu itu terkunci rapat untuknya.

"Lina," suara parau itu memutus lamunannya. Kong Atek, pria tua yang selama puluhan tahun memegang arsip tak resmi komunitas, memanggilnya dari podium kayu yang tampak rapuh.

Lina tertegun. Ia tidak berniat maju. "Saya hanya datang untuk melayat, Kong," jawabnya, suaranya sedikit bergetar namun berusaha ia tegakkan.

"Ini bukan soal melayat," sahut Raka Lie, sepupunya yang berdiri di samping Kong Atek. Raka mengenakan setelan jas yang terlalu rapi untuk acara duka, dengan senyum yang tidak sampai ke matanya. "Ini soal tanggung jawab. Nama keluarga Tan harus tetap bersih, bukan?"

Lina menatap Raka, lalu beralih ke deretan kursi kayu tempat para tetua duduk. Mereka tidak menatapnya; mereka menatap lantai, seolah-olah keberadaan Lina adalah noda yang tidak perlu diakui. "Saya tidak pernah menandatangani dokumen apa pun tentang dana ini," sahut Lina, suaranya kini lebih tajam. "Saya bahkan tidak tahu dana komunitas ini dikelola dengan cara seperti apa. Bagaimana bisa utang ini menjadi beban saya?"

Kong Atek menyesap tehnya dengan gerakan lambat. Ia tidak menoleh. "Dalam dialek yang kita pakai di sini, Lina, ada istilah untuk mereka yang tidak tahu tapi tetap harus membayar: bu-yi. Anak yang lupa jalan pulang, tapi tetap dipaksa menanggung atap yang runtuh."

Bahasa itu—campuran dialek yang sengaja dipilih untuk mengucilkannya—menghantam Lina lebih keras daripada teriakan. Ia menyadari ini bukan sekadar pertemuan keluarga. Ini adalah jebakan.

Kong Atek menepuk meja arsip dua kali, pelan tapi cukup keras untuk memotong dengung kipas tua. Ia menggeser buku besar komunitas ke tengah meja pengumuman. Sampulnya kusam, sudutnya mengelupas, tapi tangan tua itu memegangnya seperti sesuatu yang bisa menggigit. “Menurut catatan,” ujarnya dalam Hokkien yang cepat, lalu berhenti sejenak, memberi ruang bagi yang paham untuk saling melirik.

Ibu Sien, yang dari tadi duduk kaku di baris depan, tidak menatapnya. Itu lebih buruk daripada marah. Itu cara orang menutup pintu tanpa suara.

Lina merasakan kulit tengkuknya mengencang saat Kong Atek menyebut namanya sekali lagi dengan nada final. Tidak ada lagi ruang tawar-menawar. Di depan semua orang, ia dinyatakan sebagai satu-satunya penanggung jawab atas hilangnya dana yang seharusnya menjadi jaring pengaman bagi keluarga besar. Saat itulah ia melihat petunjuk paling mengancam: di atas meja, di samping buku catatan berkode tersebut, tergeletak paspornya yang seharusnya tersimpan aman di tasnya. Dokumen itu telah berpindah tangan.

Lina berdiri di bawah tatapan kebencian yang terencana, tahu bahwa ia baru saja dijebak sebagai penanggung jawab, dan bahwa untuk pertama kalinya, jarak fisik yang ia bangun selama bertahun-tahun tidak lagi cukup untuk melindunginya. Ia terjebak di kota ini, terikat pada utang yang tak pernah ia buat, dengan paspor yang kini menjadi sandera di tangan mereka yang paling ia hindari.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced