Novel

Chapter 5: Kode di Balik Sunyi

Maya berhasil memecahkan kode dalam rekaman Rafiq yang menunjuk ke brankas rahasia di bawah toko keluarga, bukan di balai komunitas. Ia menghadapi Awi yang datang dengan kedok kepedulian, namun Maya berhasil membalikkan tekanan dengan menunjukkan bahwa ia tahu kebohongan Awi. Nenek Lim memberikan petunjuk terakhir yang mengonfirmasi bahwa keluarga sudah lama mengetahui pengkhianatan Awi.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kode di Balik Sunyi

Di luar jendela rumah Nenek Lim, dua pria asing itu tidak pernah benar-benar diam. Mereka mondar-mandir di gang sempit Chinatown dengan ritme yang disengaja—satu langkah, berhenti, menyalakan pemantik, lalu menatap pintu rumah. Mereka bukan penagih utang biasa yang punya riwayat kenal dengan keluarga; mereka adalah orang suruhan Awi yang dibayar untuk memastikan tidak ada yang keluar sebelum waktunya.

Di dalam, Rafiq meringkuk di kursi kayu, napasnya berbunyi seperti gesekan amplas. Tangannya menekan perut yang dibalut kain kotor. Maya tidak membiarkannya bicara. Ia hanya menempelkan ponsel ke telinga, memutar ulang rekaman suara Rafiq untuk kesepuluh kalinya.

“Empat… dua… papan… bawah nama lama.”

Maya menatap papan pengumuman komunitas di dinding ruang tengah. Selama ini, ia menganggap papan itu sekadar pajangan tua tempat Nenek Lim menempelkan jadwal arisan atau nota belanja. Sekarang, ia melihatnya sebagai peta.

“Balai,” bisik Rafiq, suaranya parau. “Mereka akan mengira itu balai komunitas. Awi sengaja membiarkan rumor itu beredar.”

“Karena balai adalah tempat di mana dia memegang kendali bahasa,” sahut Maya. Ia menekan tombol pause. “Tapi kau bilang ‘nama lama’. Itu bukan balai. Itu toko keluarga.”

Maya meraih kertas berkode pemberian Nenek Lim. Ia menghubungkan angka empat dan dua dengan posisi kertas di papan pengumuman. “Yang merah,” gumamnya. Di sudut papan, ada cap stempel merah yang memudar—tanda untuk pengumuman mendesak yang hanya dipahami warga lama. Maya menarik kertas itu. Di baliknya, tertulis koordinat lantai kayu di bawah toko keluarga.

Ketukan di pintu serambi memutus keheningan. Tiga kali. Rapi. Terlalu sopan.

“Maya,” suara Awi terdengar dari luar, tenang dan berwibawa. “Aku hanya ingin memastikan Mama baik-baik saja. Jangan salah paham.”

Maya memberi isyarat diam pada Rafiq. Nenek Lim, yang duduk di kursi goyang, hanya memutar benang merah di tangannya tanpa menoleh. Maya membuka pintu sedikit saja.

Awi berdiri di sana, kemejanya licin tanpa kusut. Di belakangnya, dua pria asing itu berhenti bergerak. Pesan itu jelas: kami tahu kau di sini.

“Aku tidak sendiri, Paman,” kata Maya, tubuhnya menghalangi pandangan ke arah Rafiq.

Awi tersenyum, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Tentu. Tapi keluarga harus menjaga muka, Maya. Dana komunitas, nama baik… semuanya rapuh. Jangan sampai kau membawa barang yang tidak perlu keluar dari rumah ini.”

“Barang apa?”

“Catatan yang bisa merusak nama keluarga jika jatuh ke tangan yang salah,” jawab Awi, suaranya merendah seperti nasihat seorang ayah. “Kau orang pintar. Kau tahu bedanya bertanggung jawab dan sekadar membuat kekacauan.”

Maya merasakan buku kas di tasnya seberat timah. Ia menatap Awi, lalu dengan sengaja bertanya, “Kalau memang hanya soal nama baik, kenapa kau tidak bilang dari awal bahwa dana itu disimpan di bawah lantai toko, bukan di balai?”

Senyum Awi membeku. Untuk sepersekian detik, topeng keteraturannya retak. “Siapa yang bilang begitu?”

“Orang yang masih ingat ke mana uang itu dialihkan,” balas Maya tajam.

Awi menatapnya lama, lalu tertawa kecil yang terdengar hambar. “Istirahatlah. Kita bicara besok di balai. Gunakan bahasa yang pantas.”

Saat Awi berbalik pergi, Maya tahu perang ini bukan lagi soal uang. Ini soal otoritas. Awi tidak hanya mencuri dana; dia mengatur siapa yang boleh bicara dan bahasa apa yang dianggap sah. Begitu pintu tertutup, Maya menatap Nenek Lim. Sang nenek menunjuk ke arah papan pengumuman sekali lagi, kali ini ke sudut yang paling tersembunyi.

Maya mengambil kertas petunjuk yang terselip di sana. Itu bukan sekadar angka. Itu adalah kunci brankas di bawah toko keluarga.

“Keluarga sudah tahu lebih lama,” bisik Nenek Lim.

Maya menggenggam kertas itu. Ia tidak lagi merasa sebagai orang luar yang tersesat. Ia adalah orang yang memegang kunci, dan besok, di balai komunitas, ia tidak akan lagi meminta izin untuk bicara.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced