Harga Sebuah Nama
Malam sebelum rapat besar itu, toko keluarga Tan terasa seperti menahan napas. Lampu depan sudah dipadamkan, namun di ruang belakang, satu bohlam kuning bergetar di atas meja jahit, menyinari debu yang menari di udara. Maya menyelinap masuk melalui pintu samping yang macet. Di saku jaketnya, kunci brankas terasa dingin—sebuah beban logam yang kini menjadi satu-satunya jaminan atas hidupnya.
Rafiq duduk di dekat lemari gulung kain, lengan kirinya dibalut kain yang mulai mengeras oleh darah kering. Wajahnya pucat, namun matanya tetap awas, memindai kegelapan toko.
“Kau lama,” bisiknya, suaranya serak.
“Aku harus memastikan tidak ada yang membuntuti,” jawab Maya. Ia meletakkan tas kain di atas meja, mengeluarkan buku kas yang ia ambil dari bawah lantai toko. “Rafiq, katakan padaku. Apa yang sebenarnya Awi jual?”
Rafiq menggeser sebuah map tebal ke arah Maya. “Bukan sekadar uang, Maya. Dia menjual data. Nama warga, alamat lama di kampung, nomor remitansi, hingga siapa yang paling rentan untuk ditekan. Dia menjadikan kehidupan orang-orang ini komoditas bagi pihak luar yang tidak punya ikatan dengan komunitas kita.”
Maya membuka map itu. Baris-baris angka dan nama yang ia kenal kini tampak seperti daftar mangsa. Di samping nama-nama itu, ada catatan tangan Awi: dipindah, ditahan, dialihkan. Tanda tangan Awi di bawah kolom otorisasi tampak seperti stempel kesopanan yang digunakan untuk merampas isi laci orang lain.
“Dia membangun jaringan sendiri di atas kehancuran kita,” lanjut Rafiq. “Dia menggunakan bahasa soal kehormatan untuk menutupi kerja kotornya. Siapa yang tidak fasih Hokkien, siapa yang tidak bisa mengikuti aturan rapat, mereka diisolasi. Awi yang memegang kunci aksesnya.”
Maya merasakan kemarahan yang dingin. Ia bukan lagi orang luar yang mencoba lari; ia adalah saksi yang memegang bukti kehancuran. “Kalau ini keluar besok, siapa yang pertama kali hancur? Aku atau keluarga?”
“Kalau Awi sempat menata cerita, kau yang akan jadi tumbalnya,” jawab Rafiq getir. “Orang luar yang membawa malu. Itu narasi yang paling mudah dijual.”
Suara pintu geser terbuka. Nenek Lim muncul, tubuhnya kecil dalam kebaya abu-abu. Ia berjalan mendekat, menatap map di tangan Maya dengan mata yang tajam, seolah sudah melihat akhir dari semua ini. Tanpa sepatah kata pun, ia menyelipkan selembar kertas berkode ke telapak tangan Maya. Ujung jarinya dingin, namun tekanannya tegas.
“Keluarga sudah tahu lebih lama dari yang kau kira,” bisik Nenek Lim. “Yang mereka tak tahu adalah kapan ada yang cukup berani membuka mulut. Jangan beri dia panggung penuh. Ambil suara dulu, baru ambil nama.”
Lina Suryani muncul dari pintu belakang, membawa kantong plastik berisi mi kering. Ia berhenti, menatap map dan buku kas di meja. Wajahnya mengeras. “Ini bukan lagi soal pengalihan dana. Ini penjualan kepercayaan. Kalau warga tahu, Awi habis.”
“Kalau warga tahu tanpa urutan yang tepat, yang habis bukan cuma dia,” potong Maya. “Bisa-bisa orang tua yang tanda tangan bantuan ikut terseret. Kita butuh bukti yang menjatuhkan Awi, bukan menghancurkan orang-orang yang selama ini diam karena takut.”
Maya menatap daftar nama yang dijual Awi. Ia menyadari satu hal krusial: Awi tidak hanya mencuri uang. Ia mengatur siapa yang boleh bicara, bahasa apa yang dianggap sah, dan siapa yang bisa disebut keluarga. Besok, di balai komunitas, Maya tidak akan datang sebagai orang yang meminta maaf atas utang yang bukan miliknya. Ia akan datang sebagai orang yang memegang kunci untuk meruntuhkan tembok bahasa yang dibangun Awi.
Ia memejamkan mata, menyusun kalimat pembuka di kepalanya. Besok, satu kalimat yang diucapkan dalam campuran bahasa akan cukup untuk membuat orang-orang lama berhenti memihak Awi. Itu adalah pertaruhan terakhirnya.