Rantai yang Putus
Sisa rapat komunitas masih menempel di tenggorokan Maya, pahit seperti ampas teh yang tertinggal. Di layar ponselnya, pesan suara Rafiq berulang untuk kelima kalinya. Selalu berhenti di titik yang sama: napas yang tertahan, bunyi gesekan kain, lalu suara pemuda itu pecah. “Kalau mereka cari aku, jangan—” Sisanya hanyalah statis yang menusuk telinga.
Maya berdiri di gang sempit di belakang deretan ruko Chinatown, jemarinya mencengkeram tali tas berisi buku kas Nenek Lim. Kertas berkode yang diberikan Nenek Lim terselip di saku, terasa berat seolah menyimpan beban seluruh keluarga. Di depan rumah keluarga Tan tadi, dua pria asing telah menunggu—diam, tenang, dengan tatapan yang tidak mencari keramahan. Mereka adalah penanda bahwa jaringan perlindungan keluarga telah retak, dan Awi Tan tidak lagi menggunakan bahasa Hokkien untuk mengusir Maya; ia menggunakan tangan-tangan luar untuk membungkam siapa pun yang tahu kebenaran.
Kamar sewa Rafiq berada di lantai dua, diakses lewat tangga besi berkarat yang mengeluh di bawah setiap pijakan. Bau rokok murah dan sisa obat menyambutnya. Kamar itu berantakan; kasur tipis tergeletak di lantai, kabel charger tercabut paksa. Di sudut ruangan, Maya menemukan bekas gesekan debu dan selembar kertas yang terinjak. Ia memungutnya—sebuah catatan kecil dengan pola angka yang familiar.
Langkah kaki terdengar dari bawah tangga. Yakin, terukur, tanpa keraguan.
Maya memadamkan layar ponsel. Ia tidak bisa lari ke arah yang sama dengan mereka. Ia meraih kabel charger yang tergeletak, memutar-mutarnya sejenak, lalu menatap jendela kecil yang menghadap dinding ruko. Terlalu sempit, tapi ia tidak punya pilihan. Saat gagang pintu berderit, Maya menjatuhkan gelas plastik di meja untuk memancing perhatian, lalu melompat keluar jendela tepat saat pintu terbuka.
Ia mendarat di tumpukan karung kosong di lorong belakang. Lututnya menghantam beton, rasa sakitnya tajam, namun ia langsung berlari menuju pasar malam. Pasar malam adalah labirin yang ia butuhkan; di sana, identitas seseorang bisa hilang di antara tumpukan ikan asin dan teriakan pedagang.
Di tengah keramaian, Maya kembali memutar pesan suara Rafiq dengan volume rendah. Kali ini, ia mengabaikan rasa takutnya dan fokus pada latar belakang suara. Bunyi logam. Gesekan. Dan bisikan Rafiq: “...toko keluarga, bawah lantai—jangan kasih ke Awi—”
Toko keluarga.
Maya berhenti di depan kios obat gosok. Penjualnya, seorang perempuan tua dengan rambut digulung ketat, menatapnya tajam. “Cari siapa?”
“Anak kurir. Jaket abu-abu,” jawab Maya, meletakkan selembar uang di meja. “Dia ke mana?”
Perempuan itu melirik ke arah gang di belakang kios mi. “Dia tidak lewat depan. Ada orang menunggu di sana. Bukan orang sini. Badannya dingin.”
Maya tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia menyelinap ke gang belakang, mengikuti bau minyak goreng yang melekat di dinding. Di ujung gang, ia melihat sosok jaket abu-abu menghilang di balik pintu baja toko jahit tua. Namun, langkah kaki di belakangnya semakin dekat. Dua pria dari kamar sewa telah menyusul.
Maya memotong ke kiri, bersembunyi di antara peti-peti kayu. Ia menahan napas saat pria-pria itu lewat, menatap ke arah pasar dengan mata yang hanya mencari target. Begitu mereka lewat, Maya berlari menuju pintu baja toko jahit. Ia mendorongnya hingga terbuka, masuk ke ruang simpan yang lembap dan gelap.
Di pojok ruangan, Rafiq meringkuk. Wajahnya pucat, pelipisnya terluka. “Jangan dekat-dekat,” bisiknya serak. “Mereka cari kamu.”
“Aku tahu,” jawab Maya, berjongkok di sampingnya. Ia mengeluarkan air mineral dan menyodorkannya. “Apa yang mereka cari?”
“Jalur itu,” Rafiq menunjuk ke arah lantai. “Bukan cuma buku kas. Ada brankas di bawah lantai toko keluarga. Awi menyimpan segalanya di sana—remitansi, catatan utang, bukti pengalihan dana. Itu pusat dari semua yang dia sembunyikan.”
Ketukan keras terdengar di pintu baja. Suara lelaki asing di luar berkata, “Buka. Kami tahu kalian di dalam.”
Maya menatap Rafiq, lalu menatap kertas berkode di tangannya. Ia bukan lagi orang luar yang bisa lari. Ia adalah kunci yang memegang bukti kehancuran Awi.
“Bisa jalan?” tanya Maya tegas.
Rafiq mengangguk lemah.
“Kita keluar lewat belakang,” perintah Maya. “Kamu tunjukkan jalannya. Aku akan mengambil apa yang seharusnya tidak pernah disembunyikan Awi.”
Di luar, pintu mulai digedor. Maya tidak lagi merasa takut; ia merasa marah. Awi telah menjadikannya tumbal, dan sekarang, ia akan memastikan tumbal itu membawa seluruh struktur kekuasaan pamannya runtuh. Ia bukan lagi sekadar keponakan yang diasingkan; ia adalah pemilik rahasia yang akan menentukan akhir dari jaringan ini.