Novel

Chapter 3: Pilihan yang Mengikat

Maya memaksa Nenek Lim mengakui bahwa Awi mencuri dana komunitas dan bahwa keluarga sudah lama tahu, lalu diberi kunci catatan penghubung yang membuka jaringan lebih luas. Ia menolak upaya Awi mengembalikan kontrol lewat bahasa dan sopan santun palsu, menghubungi Lina secara terputus, dan menerima pesan suara Rafiq yang terpotong tepat sebelum informasi penting. Di akhir bab, Maya menyadari ia sudah menjadi target pertama saat para penagih jejak mulai mendekat.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pilihan yang Mengikat

Malam itu belum genap lewat satu jam sejak rapat komunitas bubar, tapi tekanan dari balai masih menempel di kulit Maya seperti bau asap dupa yang tidak sempat dicuci. Di rumah keluarga Tan, suara televisi sengaja dipelankan, seolah-olah semua orang sedang menahan napas bersama rumah tua itu. Maya berdiri di depan kamar Nenek Lim dengan buku kas di tangan, dadanya naik turun cepat. Ia tidak datang untuk minta maaf. Ia datang untuk jawaban.

Ia mengetuk dua kali.

“Masuk,” kata Nenek Lim dari dalam, suaranya serak tapi tegas.

Pintu dibuka sedikit. Nenek Lim duduk bersandar di ranjang, selimut disampirkan rapi di kakinya, wajahnya yang keriput diterangi lampu kuning yang membuat segalanya tampak lebih pucat dari biasanya. Mata tuanya turun ke buku kas di tangan Maya, lalu kembali naik tanpa terkejut.

Jadi memang dia tahu, pikir Maya.

Maya melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. “Awi ambil uang itu,” katanya langsung, tanpa membuang napas untuk basa-basi. “Ke rekening pribadinya. Semua ada di sini.” Ia menaruh buku kas di meja kecil, dekat gelas obat dan mangkuk air yang sudah dingin.

Nenek Lim tidak menjawab. Ia hanya merapikan lipatan selimut di lututnya, satu gerakan kecil yang membuat amarah Maya ikut merambat naik. Gerakan itu terlalu tenang untuk kamar yang menyimpan pengkhianatan sebesar ini.

“Bilang ya atau tidak,” desak Maya. “Kamu tahu?”

Nenek Lim akhirnya menghela napas. “Kau pikir aku buta?”

Maya tertawa pendek, keras, tanpa humor. “Kalau tahu, kenapa diam?”

“Karena diam kadang satu-satunya cara rumah ini tetap berdiri.”

Itu bukan jawaban yang diinginkan Maya. Ia menahan tangan agar tidak gemetar saat menunjuk buku kas itu. “Rumah ini berdiri di atas pencurian?”

Nenek Lim menatapnya lama. “Di atas utang, Maya. Utang membuat orang bicara pelan. Utang membuat orang memilih siapa yang boleh jatuh lebih dulu.”

Kata-kata itu menghantam lebih dalam dari yang Maya mau akui. Sejak tanda tangannya di dokumen jaminan, ia sudah tahu utang bukan angka. Tapi mendengarnya dari mulut Nenek Lim—dengan tenang, hampir seperti resep lama—membuat dada Maya terasa sempit.

“Jadi kalian semua tahu,” kata Maya pelan.

Nenek Lim tidak menyangkal.

“Sejak kapan?”

“Lama.”

Maya menunggu penjelasan. Tidak ada.

“Lama bukan jawaban,” katanya, suaranya mengeras. “Aku dipanggil ke balai untuk jadi tameng, dipermalukan pakai bahasa yang sengaja kalian pakai supaya aku tak paham. Lalu ternyata keluarga ini sudah tahu Awi mencuri dari awal?”

Nenek Lim menutup mata sebentar, seolah pertanyaan itu melelahkannya. “Awi bukan mulai mencuri kemarin.”

“Dan kalian membiarkannya?”

“Kami membiarkan yang lebih besar tetap utuh.”

Maya membeku. Ada sesuatu dalam nada itu—bukan pembelaan, bukan pula penyesalan penuh. Lebih mirip pengakuan seorang yang sudah terlalu lama hidup di bawah bayang-bayang kebiasaan buruk dan menyebutnya bertahan hidup.

Nenek Lim membuka mata dan menatap Maya lebih tajam dari yang ia sangka orang tua itu mampu. “Kalau semua pecah sekaligus, yang tersisa bukan keluarga. Hanya nama di atas kertas dan orang-orang yang saling menuntut.”

“Nama keluarga sudah pecah begitu Awi memindahkan uang ke rekeningnya,” balas Maya. “Yang kalian lindungi cuma wajahnya.”

Ada kilat kecil di mata Nenek Lim. Bukan marah. Lebih seperti luka lama yang disentuh tanpa sengaja.

Maya merogoh tasnya dan mengeluarkan salinan halaman buku kas yang sempat ia foto. Ia menaruhnya di atas meja, tepat di samping buku asli. “Kalau aku bawa ini ke Lina, dana bantuan bisa ditarik sebelum besok. Orang-orang di bawah sudah kena tagih. Tiga kios kemarin, kurir yang ditahan di pos, itu semua karena uang perlindungan ini berhenti mengalir.”

Saat nama Lina disebut, wajah Nenek Lim tidak berubah, tapi tangannya berhenti bergerak. Maya menangkap itu.

“Jadi memang ini uang perlindungan,” kata Maya.

Nenek Lim diam terlalu lama.

“Bukan cuma dana komunitas,” lanjut Maya, kini lebih pelan, lebih tajam. “Bukan cuma masalah keluarga. Ini melibatkan orang-orang yang ditagih kalau aliran putus.”

Nenek Lim menekan bibirnya. Akhirnya ia berkata, “Kau belum lihat seluruh arusnya.”

“Itu artinya apa?”

“Artinya ada jalur yang tidak tercatat di buku itu.”

Maya merasa perutnya mengencang. “Jalur ke mana?”

Nenek Lim menggeleng kecil, tidak menjawab.

Maya mencondongkan badan, suara yang keluar dari tenggorokannya lebih rendah dari kemarahannya. “Aku bukan anak kecil yang bisa kalian suruh diam lalu dibayar dengan kata ‘demi keluarga’. Aku sudah tanda tangan jaminan itu. Kalau utang ini meledak, namaku ikut ditarik. Aku yang harus menanggungnya di depan publik. Jadi jangan bilang aku cuma lewat.”

Nenek Lim mengangkat pandangannya. “Itu justru sebabnya aku memberimu buku itu.”

“Untuk apa? Supaya aku jadi korban yang lebih rapi?”

“Supaya kau punya kunci.”

Kata itu membuat ruangan terasa lebih dingin.

Maya menatapnya. “Kunci apa?”

Nenek Lim mengulurkan tangan ke laci kecil di samping tempat tidur. Gerakannya lambat, tapi tidak ragu. Dari dalam laci, ia mengambil sehelai kertas terlipat tiga, ujungnya sudah lembek dimakan usia. Bukan uang. Bukan amplop. Maya melihat sebuah cap lama di sudutnya, lalu garis tinta yang sudah mulai pudar.

Nenek Lim tidak langsung menyerahkan. “Buku kas itu cuma setengah pintu. Ini yang membuka sisanya.”

Maya mengambil kertas itu. Di atasnya ada serangkaian angka, nama, dan satu kode pendek yang tidak ia mengerti sepenuhnya, kecuali satu hal: itu bukan catatan biasa. Ada tanda yang sama di beberapa halaman buku kas—seperti penanda jalur, bukan transaksi.

“Ini apa?”

“Catatan penghubung.”

Maya menatapnya lama. “Awi pakai ini?”

Nenek Lim mengangguk sekali.

Jantung Maya berdebar lebih keras. Jadi memang bukan sekadar pemindahan uang. Ada lapis lain, jalur yang sengaja disembunyikan di bawah bahasa keluarga dan tata tertib rapat. Semua orang di balai kemarin bicara seolah ini soal salah transfer atau kekhilafan administrasi. Padahal ada jaringan di belakangnya—jaringan yang bergerak lewat bantuan, remitansi, dan rasa malu.

“Kalau ini ada di tangan aku, kenapa baru sekarang?”

“Karena sekarang kau sudah tidak bisa pura-pura tidak melihat.”

Maya hampir tertawa lagi, tapi yang keluar hanya napas yang patah. Pura-pura tidak melihat. Selama ini itulah yang diminta keluarganya: diam, menunduk, menunggu orang lain mengatur. Bahkan bahasa yang mereka pakai di ruang rapat tadi malam dipilih bukan untuk bicara, tapi untuk memisahkan. Untuk mengingatkan siapa yang dianggap paham, siapa yang boleh ikut duduk, siapa yang harus mendengar dari pinggir.

Maya menatap Nenek Lim, dan untuk pertama kalinya ia tidak melihat hanya seorang tua yang rapuh. Ia melihat penjaga gerbang yang sudah terlalu lama memutuskan siapa masuk dan siapa dikorbankan.

“Kalau aku buka ini, Awi jatuh.”

“Kalau kau diam, orang lain yang jatuh lebih dulu.”

Maya menggenggam kertas itu lebih erat. Di balik pintu kamar, rumah terasa sangat sunyi. Tapi sunyi itu tidak menenangkan. Sunyi seperti menunggu sesuatu pecah.

Ia ingin bertanya lagi, ingin memaksa Nenek Lim menjelaskan siapa lagi yang terlibat, kenapa buku kas disembunyikan di kamarnya, kenapa keluarga bisa tahu begitu lama dan tetap membiarkan Awi menyiapkan tumbal. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, ponselnya bergetar di saku.

Lina.

Maya menatap layar, lalu mengabaikan panggilan itu. Belum waktunya.

Nenek Lim memperhatikan getaran kecil di sakunya. “Lina sudah mulai menghitung orang yang kehilangan uang,” katanya.

“Bagus. Biarkan dia tahu.”

“Kalau dia tahu semua, dia akan datang ke sini. Dan kalau dia datang, Awi juga akan tahu kau sudah membuka halaman yang tidak seharusnya.”

Maya menatap buku kas, lalu kembali ke wajah Nenek Lim. “Jadi aku harus tetap diam?”

Untuk sesaat, Nenek Lim tampak seperti akan menjawab. Namun yang keluar justru suara pintu depan rumah yang dibuka keras, disusul langkah cepat di lorong dan nada bicara yang terlalu rapi untuk disebut santai.

“Ada tamu untuk Maya?” suara Awi terdengar dari luar, dibungkus sopan santun yang tebal seperti lapisan gula di atas racun. Ia belum masuk ke kamar, tapi kehadirannya sudah memenuhi rumah.

Maya membeku.

Nenek Lim menutup mata sekali, sangat singkat. Lalu ia berkata tanpa menoleh, “Sembunyikan itu.”

Maya ragu hanya sepersekian detik. Suara langkah Awi mendekat, diikuti panggilan halus yang memerintahkan seluruh rumah untuk patuh. Maya memasukkan catatan itu ke balik kaus dalamnya, menekan buku kas ke dalam tas, dan berdiri tepat saat pintu kamar terdorong terbuka.

Awi berdiri di ambang, rapi seperti biasa: kemeja disetrika, rambut disisir mundur, wajahnya tenang seolah tidak ada apa pun yang mengalir keluar dari rumah ini selain kehormatan. Ia memandang Maya, lalu Nenek Lim, dan senyum tipisnya tidak pernah menyentuh mata.

“Maaf mengganggu,” katanya dalam Hokkien yang dipilih dengan teliti, lembut, merendahkan, seolah bahasa itu sendiri adalah pagar. “Ada urusan keluarga yang perlu dibicarakan. Di luar.”

Maya merasakan darahnya naik. Ia mengenali permainan itu. Menggeser panggung, memindahkan penonton, lalu memaksa orang lain mengikuti bahasanya agar ia tetap jadi pusat.

Awi menatap Maya lebih lama dari yang nyaman. “Kau belum pulang sejak rapat. Orang-orang bertanya.”

“Aku juga punya pertanyaan,” jawab Maya dalam Indonesia pasar yang tegas.

Satu detik saja, senyum Awi mengeras.

“Bukan di sini,” katanya.

Tapi Maya sudah mengambil keputusan di dalam kamar yang sempit itu. Ia menutup tasnya, mengangkat dagu, dan melangkah melewati Awi tanpa menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak membiarkan bahasa pamannya menentukan posisi tubuhnya.

Di ruang tengah, ia melihat ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari nomor tak dikenal—satu pesan suara masuk, lalu berhenti di tengah. Seperti seseorang yang sempat lari, sempat bicara, lalu diseret diam-diam.

Nama Rafiq muncul di layar beberapa detik kemudian sebelum layar padam sendiri karena panggilan berikutnya masuk.

Maya belum sempat menekan play ketika suara pesan itu bergetar keluar: napas buru-buru, latar kendaraan, lalu satu kalimat yang terpotong di ujungnya.

“...jangan buka halaman empat puluh dua, itu bukan utang biasa, itu—”

Sambungan putus.

Maya menatap layar, lalu mengangkat wajah ke arah lorong rumah yang kini terasa terlalu panjang.

Di ujung sana, dua pria asing yang tadi malam hanya bayangan di pasar kini berdiri di depan pintu pagar, menunggu dengan sabar yang tidak ramah. Dan di belakang mereka, Awi sudah mulai memanggil namanya lagi, kali ini bukan sebagai keponakan, melainkan sebagai orang yang wajib menjawab.

Maya sadar, untuk pertama kalinya, ia bukan lagi penonton yang kebetulan memegang bukti. Ia sudah berada di tengah jalur yang putus itu—dan orang pertama yang akan dicari para penagih jejak adalah dirinya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced