Jejak di Balik Amplop
Kursi-kursi plastik di balai komunitas masih tersusun setengah melingkar, menyisakan aroma teh melati yang mendingin dan sisa napas orang-orang yang baru saja pergi. Maya berdiri di tengah ruangan, jemarinya mencengkeram salinan dokumen jaminan hingga sudut kertas itu melukai telapak tangannya. Nama yang ia bubuhkan di atas kertas itu bukan sekadar tinta; itu adalah jerat yang mengikatnya pada utang yang tak pernah ia minta.
Awi Tan muncul dari balik panggung, kemejanya tetap kaku, tanpa satu helai pun yang keluar jalur. Ia menatap kertas di tangan Maya dengan ketenangan yang terasa seperti penghinaan.
“Jangan dibaca di sini,” ujar Awi pelan. Suaranya datar, tanpa emosi. “Orang-orang sudah lelah. Simpan saja.”
“Aku baru saja menandatangani sesuatu yang mengikatku pada utang yang bukan buatanku, Paman,” balas Maya. Suaranya membelah kesunyian ruang rapat, tajam dan menuntut. “Kau bilang ini hanya formalitas untuk administrasi komunitas.”
Awi menoleh ke pintu, memastikan tidak ada yang tersisa di luar. Suara samar percakapan Hokkien dan Indonesia pasar yang tadi mengucilkannya kini telah hilang, namun efeknya masih terasa—sebuah dinding bahasa yang sengaja dibangun untuk membuatnya merasa asing di keluarganya sendiri.
“Itu perlindungan,” kata Awi. “Nama keluarga yang menjamin. Jangan panik.”
“Perlindungan atas siapa? Atasku, atau atas namamu?”
Awi melangkah mendekat, menurunkan suaranya hingga terdengar intim namun mengancam. “Kalau dana itu tidak kembali, yang pertama dicari bukan aku. Kau cukup dekat untuk dimintai tanda tangan, tapi cukup jauh untuk dikorbankan jika keadaan memburuk.”
Kalimat itu menghantam dada Maya. Ia bukan sekadar keponakan; ia adalah tumbal administrasi yang sudah disiapkan. Maya melipat dokumen itu, memasukkannya ke dalam tas dengan tangan gemetar. “Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya kutandatangani.”
“Lakukan diam-diam,” sahut Awi, matanya dingin. “Jangan libatkan Lina. Jangan buat Nenek khawatir.”
Maya tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah keluar menuju udara Chinatown yang lembap. Ia tidak pulang ke kamar sewanya, melainkan menuju rumah Nenek Lim. Ia butuh jawaban yang tidak disaring oleh kepalsuan Awi.
Rumah Nenek Lim berbau obat gosok dan kertas tua. Maya masuk ke ruang kerja Nenek yang penuh dengan barang-barang yang disusun seperti menahan waktu. Di laci bawah meja, ia menemukan buku kas kecil bersampul kain cokelat. Saat ia membukanya, napasnya tertahan.
Buku itu bukan catatan belanja biasa. Ada deretan angka, inisial, dan kode remitansi yang menunjukkan aliran dana komunitas tidak pernah sampai ke pos bantuan yang dijanjikan. Dana itu dialihkan ke rekening pribadi atas nama Awi Tan. Dan di baris terakhir, tertulis dengan tekanan pensil yang hampir merobek kertas: Nama pengganti tetap atas Maya.
“Nak,” suara Nenek Lim memecah kesunyian dari ambang pintu. Matanya yang tua menatap buku kas itu tanpa keterkejutan.
Maya mengangkat buku itu, suaranya bergetar. “Awi mengalihkan dana komunitas. Dan dia memakai namaku sebagai tameng.”
“Kau pikir Awi mulai dari kosong?” Nenek Lim duduk perlahan, wajahnya lelah. “Dana perlindungan itu soal siapa yang didengar saat keadaan genting. Awi melakukan apa yang dia percaya benar untuk menjaga nama keluarga.”
“Ini pencurian, Nenek!”
“Ini sejarah,” potong Nenek Lim. “Dan keluargamu sudah tahu lebih lama daripada yang kau kira.”