Novel

Chapter 1: Bahasa yang Membuang

Maya dipaksa menghadiri rapat komunitas untuk menutupi skandal keuangan keluarga. Di sana, ia dikucilkan melalui penggunaan bahasa Hokkien yang sengaja tidak ia pahami. Di bawah tekanan, ia menandatangani dokumen jaminan yang mengikatnya pada utang keluarga. Setelah rapat, ia menemukan buku kas tersembunyi milik Nenek Lim yang membuktikan bahwa dana komunitas telah dialihkan oleh pamannya, Awi Tan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bahasa yang Membuang

Maya baru saja meletakkan tasnya di kursi plastik paling belakang ketika suara Awi Tan memotong udara balai komunitas. Suaranya rapi, dingin, dan terukur seperti map yang baru disetrika.

“Jangan pakai nama itu di sini,” ujar Awi dalam Hokkien yang jatuh cepat dan tajam. Beberapa kepala menoleh, mata mereka menatap Maya dengan campuran rasa ingin tahu dan penghakiman. “Kalau mau mewakili keluarga, belajar dulu bahasa keluarga. Jangan datang sebagai orang asing yang hanya tahu cara meminta.”

Maya menahan napas. Di atas meja panjang, di bawah lampu neon yang mendengung, tumpukan kertas, segelas teh yang sudah dingin, dan satu map cokelat tampak mencolok. Aroma dupa dari altar kecil di sudut bercampur dengan bau kopi sachet dan kertas tua yang lembap. Ini bukan sekadar rapat warga; ini adalah sidang tertutup. Ia datang hanya untuk satu tujuan: duduk sebentar, mendengarkan, lalu pergi. Ayahnya masih demam di rumah, dan Awi yang menelepon pagi tadi hanya berkata singkat, “Datang saja. Cukup tanda tangan kalau diminta.”

Kalimat itu sekarang terasa seperti jerat. Maya menatap Awi, lalu ke barisan wajah yang menunggu reaksinya. Beberapa orang mengenalnya sebagai “Maya Tan.” Yang lain, para tetua, memanggilnya dengan nama yang dipotong setengah, seakan nama lengkapnya terlalu mahal untuk diucapkan. Di ruang ini, bahasa adalah mata uang, dan Maya baru saja menyadari bahwa ia tidak punya cukup simpanan untuk membeli posisi tawar.

“Dana perlindungan komunitas tidak bisa menguap begitu saja, Awi,” suara Lina Suryani memotong ketegangan. Lina berdiri, tangannya mencengkeram pinggiran meja. “Warga butuh jawaban. Bukan sekadar janji di atas kertas yang kau bawa-bawa setiap bulan.”

Awi tidak bergeming. Ia melirik Maya sekilas, sebuah tatapan yang mengandung instruksi bisu: diam dan jangan membantah. “Lina, kau tidak mengerti struktur di balik ini. Ini masalah internal keluarga yang sedang kami selesaikan.”

“Masalah internal?” Lina tertawa pendek, sinis. “Uang yang hilang itu uang kami semua. Dan sekarang kau membawa anak ini untuk apa? Menjadi tameng?”

Maya merasa lantai di bawah kakinya bergoyang. Ia bukan tameng. Ia hanya orang luar yang dipanggil untuk menanggung beban yang tidak ia buat. Saat rapat berakhir dengan kebuntuan yang dipaksakan, Awi menarik Maya ke ruang belakang. Pintu kayu tua itu berderit saat ditutup, mengunci mereka dalam kesunyian yang menyesakkan.

“Ini cuma formalitas,” kata Awi dalam bahasa Indonesia yang dipilih agar semua orang bisa mengerti, tapi tetap terasa dingin. Ia menyodorkan map cokelat itu. “Keluarga yang baik tidak menunggu orang lain menanggung malu. Tanda tangani ini, dan kau bisa kembali ke duniamu yang jauh itu.”

Maya tidak menyentuh map itu. “Kenapa aku? Kenapa bukan yang lain?”

“Karena yang lain punya alasan untuk tidak hadir. Kau yang paling mudah dihubungi.”

Kata ‘mudah’ itu menghantam ulu hatinya. Di sudut ruangan, Nenek Lim yang sedari tadi diam tiba-tiba bergerak. Wanita tua itu memegang lengan Maya, matanya yang keruh menatap tajam, lalu memberikan isyarat rahasia ke arah rak buku tua di sudut kamar pribadinya. Sebuah pesan tanpa suara: jika kau tidak menandatangani, kau akan kehilangan segalanya. Dengan tangan gemetar, Maya membubuhkan tanda tangannya. Ia baru saja mengikat dirinya pada utang yang bukan miliknya, menyerahkan kemandiriannya kepada paman yang tidak pernah menganggapnya keluarga.

Setelah Awi pergi, Maya menyelinap ke kamar Nenek Lim. Bau apak dan dupa dingin menyambutnya. Jemarinya menyisir laci meja rias yang terkunci setengah, hingga menyentuh sesuatu yang keras dan bersudut tajam di balik tumpukan kain sutra. Sebuah buku kas tua.

Maya membukanya. Halaman demi halaman menunjukkan aliran remitansi yang tidak pernah sampai ke tempat yang diklaim Awi. Angka-angka itu tidak berbohong; dana komunitas itu tidak hilang, ia dialihkan. Maya memegang bukti pengkhianatan yang bisa menghancurkan reputasi Awi, namun sekaligus menjebaknya dalam bahaya yang lebih besar. Ia bukan lagi sekadar penonton; ia adalah saksi yang sekarang memegang kunci kehancuran jaringan ini.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced