Novel

Chapter 7: Malam di Ruang Tengah

Li Wei dan Mei Ling menyusup ke altar keluarga di tengah ancaman penyusup yang dikirim Paman Chen. Mereka berhasil membuka brankas rahasia menggunakan stempel naga, mengungkap bukti pengkhianatan Paman Chen yang berkaitan dengan kematian orang tua Mei Ling.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Malam di Ruang Tengah

Aroma dupa cendana yang biasanya menenangkan kini terasa seperti jebakan yang mencekik. Li Wei berdiri di ruang tengah rumah keluarganya dalam kegelapan total, napasnya tertahan hingga dadanya terasa nyeri. Pintu belakang yang ia pastikan terkunci rapat dengan grendel besi kini terbuka sedikit, menyisakan celah sempit yang membiarkan angin malam membawa debu Pecinan masuk ke dalam, menggoyangkan nyala lilin di atas altar keluarga.

Ia tidak menyalakan lampu. Cahaya remang dari jalanan di luar, yang menembus kisi-kisi jendela, cukup untuk menunjukkan bahwa seseorang telah berada di sini. Lemari kayu jati tempat ia menyembunyikan buku besar bersampul kulit hitam tampak bergeser beberapa senti dari posisinya semula. Li Wei mendekat, langkahnya seringan mungkin di atas lantai kayu yang berderit. Reputasi luarnya yang hancur di mata Paman Chen tidak lagi berarti; yang tersisa hanyalah urgensi dingin untuk menjaga agar daftar utang darah di dalam buku itu tidak jatuh ke tangan yang salah.

Saat jemarinya menyentuh sampul kulit yang dingin, ia mendengar suara decit kayu di atas kepalanya. Seseorang tidak hanya masuk, tapi sedang bergerak di loteng. Langkah kaki itu berat, disengaja, dan sangat akrab dengan struktur rumah tua ini. Itu bukan langkah pencuri amatir. Itu adalah langkah seseorang yang tahu persis di mana letak ruang rahasia di bawah altar.

Li Wei membeku di samping altar saat mendengar langkah kaki di balik dinding, menyadari ia tidak bisa lagi bersembunyi. Tiba-tiba, sebuah tangan dingin mencengkeram pergelangan tangannya. Ia hampir memekik sebelum melihat wajah Mei Ling yang pucat pasi dalam keremangan cahaya bulan. Mei Ling memberi isyarat diam, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk ruang altar yang perlahan terbuka.

"Mereka dikirim Paman Chen," bisik Mei Ling, napasnya nyaris tak terdengar. "Mereka tidak mencari harta. Mereka mencari stempel naga dan dokumen eksekusi yang kau simpan."

Li Wei merasakan berat stempel lilin naga di saku jaketnya, benda yang menjadi simbol otoritas ayahnya sebagai algojo jaringan bawah tanah. Ia menatap Mei Ling, mencari kejujuran di balik ketakutan yang terpancar di mata wanita itu. "Kenapa kau mengambil risiko sebesar ini?"

"Karena mereka melenyapkan orang tuaku saat mereka mencoba membuka brankas yang sama dengan yang kau incar sekarang," jawab Mei Ling getir. "Aku tidak peduli lagi pada keselamatan pribadiku. Aku hanya ingin tahu di mana mereka membuang sisa hidup orang tuaku."

Pengakuan itu menghantam Li Wei lebih keras daripada ancaman di luar. Ia bukan lagi orang asing yang hanya sekadar singgah; ia kini terikat pada trauma yang sama dengan Mei Ling. Bersama-sama, mereka merayap menuju dudukan dupa di altar yang selama ini ia abaikan. Mei Ling membantu Li Wei menemukan tuas tersembunyi di bawah dudukan dupa yang sudah berkerak abu.

Suara langkah kaki di atap berhenti tepat di atas kepala mereka. Hantaman keras menghantam pintu depan, membuat seluruh struktur rumah bergetar.

"Jika kita membukanya sekarang," bisik Mei Ling, matanya menatap pintu yang mulai retak karena dobrakan, "tidak ada jalan kembali. Paman Chen akan tahu kita telah memegang bukti terkuatnya."

Li Wei menatap Mei Ling, melihat ketakutan yang dulu membuatnya lari dari Pecinan, namun kali ini, ia tidak bisa lagi melarikan diri. "Dia sudah tahu kita adalah ancaman," jawab Li Wei singkat. Ia mengisyaratkan Mei Ling untuk menekan sisi kayu yang retak. Dengan satu hentakan kuat, kayu itu terangkat, mengeluarkan suara derit yang memekakkan di tengah keheningan rumah.

Di bawah sana, tergeletak sebuah brankas besi berkarat dengan ukiran naga di permukaannya. Li Wei mengeluarkan stempel lilin merah dari saku ayahnya—stempel yang dulu ia anggap sekadar hiasan, kini menjadi kunci yang pas dengan lubang di tengah ukiran naga tersebut. Saat ia memutarnya, mekanisme besi di dalam brankas terbuka dengan bunyi klik yang tajam. Pintu depan rumah akhirnya jebol, membiarkan cahaya lampu jalan menyapu ruangan, namun Li Wei sudah menatap isi brankas: catatan pengkhianatan Paman Chen yang menghubungkan stempel naga dengan eksekusi orang tua Mei Ling.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced