Novel

Chapter 6: Harga Sebuah Nama

Li Wei menghadapi Paman Chen di kedai teh dan menggunakan bukti dokumen eksekusi untuk menantang otoritasnya. Paman Chen membalas dengan ancaman pemerasan personal, namun Li Wei menyadari bahwa ia tidak lagi peduli pada reputasi luarnya. Bab berakhir dengan Li Wei menyadari ada penyusup di dalam rumahnya saat ia sedang mengamankan bukti.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Nama

Bau dupa yang menyengat dan sisa abu di altar keluarga Li bukan lagi sekadar aroma ritual bagi Li Wei; itu adalah bau bukti kejahatan. Di tangannya, stempel naga perunggu terasa dingin dan berat, sebuah simbol otoritas yang digunakan ayahnya untuk mengesahkan eksekusi administratif. Di atas meja altar, dokumen-dokumen yang ia tarik dari kompartemen rahasia berserakan—daftar nama penduduk Pecinan yang telah 'dihapus' karena melanggar janji darah. Nama orang tua Mei Ling tertulis di sana, disandingkan dengan stempel lilin merah yang menjadi otorisasi mutlak.

Li Wei tidak lagi melihat ayahnya sebagai akuntan yang dihormati, melainkan sebagai algojo yang menjaga stabilitas jaringan dengan darah. Ia memegang bukti yang bisa menghancurkan reputasi keluarga, sekaligus menjadi alasan mengapa Paman Chen begitu terobsesi menguasai rumah ini. Jika rumah ini jatuh, rahasia ini akan terkubur selamanya.

*

Kedai Teh Tua terasa menyesakkan. Paman Chen duduk di seberang meja, menuangkan teh dengan presisi yang menakutkan. Di luar, hiruk-pikuk pasar Pecinan terdengar seperti dengung yang tidak berarti dibandingkan ketegangan di antara mereka.

"Ayahmu tahu kapan harus membakar dokumen yang tidak seharusnya dilihat orang lain," ujar Paman Chen pelan, meletakkan cangkir porselen dengan denting tajam. "Dia mengerti bahwa ketertiban membutuhkan pengorbanan. Kamu? Kamu hanya membuat kekacauan dengan rasa ingin tahumu yang naif."

Li Wei menatap cangkir tehnya tanpa menyentuhnya. "Saya bukan ayah saya, Paman. Dan saya tidak di sini untuk mengenang masa lalu. Saya di sini karena Anda terus mencoba mencuri properti yang bukan milik Anda."

Paman Chen terkekeh, suara tawa kering yang tidak mencapai matanya. Ia mencondongkan tubuh, aroma dupa murahan yang selalu melekat pada pakaiannya menyeruak. "Properti? Kamu pikir ini tentang tanah? Ini tentang kelangsungan hidup komunitas. Tapi jangan lupa, kau tidaklah bersih. Aku tahu apa yang terjadi di tempat kerjamu di luar sana sebelum kau kembali. Kegagalan besar yang membuatmu dipecat dengan tidak hormat, bukan?"

Jantung Li Wei berdegup kencang, namun ia tidak lagi merasa terintimidasi. Ia menyadari bahwa reputasinya di luar tidak lagi berarti dibandingkan dengan keselamatan penduduk Pecinan yang terancam oleh jaringan ini.

"Silakan sebarkan itu, Paman," balas Li Wei dingin. "Jika itu cara Anda untuk menutupi kejahatan yang tertulis di buku besar, lakukanlah. Komunitas ini akan tahu siapa yang sebenarnya menghancurkan mereka. Saya memegang dokumen eksekusi yang ditandatangani oleh tangan Anda sendiri."

Paman Chen tertegun, matanya menyipit dengan kebencian yang mendalam. "Kau tidak tahu apa yang kau pertaruhkan, Li Wei. Jika kau berani mengungkapnya, aku akan memastikan namamu tidak lagi memiliki tempat di mana pun—baik di luar sana, maupun di sini. Aku akan membongkar setiap rahasia memalukan yang kau bawa pulang dari kota."

Li Wei berdiri, kursinya berderit keras di lantai kayu. "Rahasia saya tidak akan membunuh siapa pun, Paman. Tapi rahasia Anda? Itu sudah cukup untuk menghancurkan seluruh Pecinan."

*

Li Wei kembali ke rumah dengan perasaan terancam. Ia bergegas menuju ruang tengah, berniat menyembunyikan tas berisi dokumen tersebut di bawah lantai kayu yang longgar. Namun, tepat saat ia menekan papan kayu itu, sebuah suara derit halus memecah keheningan rumah. Bukan suara tikus, bukan pula embusan angin malam. Itu adalah suara langkah kaki yang diseret, berat dan disengaja, tepat di balik dinding pemisah antara ruang tengah dan dapur. Li Wei membeku. Ia baru saja membedah rahasia ayahnya, namun kini ia menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian di dalam rumahnya sendiri. Ia telah dikepung, dan bukti yang ia pegang kini menjadi satu-satunya senjata sekaligus beban yang bisa menghancurkan hidupnya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced