Novel

Chapter 5: Bayang-bayang di Pasar

Li Wei mengonfirmasi bahwa ayahnya adalah algojo jaringan bawah tanah setelah berbicara dengan Pak Tan di pasar. Paman Chen mencoba mengintimidasi Li Wei di depan rumah, namun Li Wei berhasil masuk dan membuka kompartemen rahasia di altar keluarga yang berisi dokumen eksekusi jaringan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bayang-bayang di Pasar

Pasar Pecinan tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya berganti napas. Di balik kepulan asap kedai teh yang menyesakkan, Li Wei mematung. Di seberang meja, Paman Chen sedang menggeser sebuah stempel lilin merah di atas meja kayu yang penuh noda. Lawan bicaranya, seorang pria berjaket kulit yang gemetar, menatap stempel itu seolah melihat vonis mati.

"Utangmu bukan sekadar angka, Tan," suara Chen rendah, berwibawa, namun mematikan. "Ini janji darah. Jika uang tak cukup, properti keluargamu yang akan menjadi jaminan bagi jaringan."

Li Wei mencengkeram pinggiran meja hingga buku jarinya memutih. Ingatan tentang bekas luka stempel yang sama di lengan Pak Tan beberapa hari lalu menghantamnya. Ia menyadari dengan ngeri: ayahnya dulu mungkin sering duduk di posisi yang sama, bukan sebagai korban, melainkan sebagai algojo administratif yang memastikan setiap 'janji' terselesaikan dengan cara yang paling kejam. Sebelum Chen sempat melirik ke arah sudut kedai, Li Wei bangkit, meninggalkan uang, dan menghilang ke dalam hiruk-pikuk pasar.

Ia menemukan Pak Tan di lapak kainnya. Pria tua itu menyusun gulungan sutra dengan jemari yang terus bergetar.

"Aku tidak bisa bicara, Nak," bisik Pak Tan tanpa menoleh. "Chen punya mata di setiap lubang kunci. Jika aku buka mulut, besok tokoku rata dengan tanah."

Li Wei meletakkan kunci besi tua yang ia temukan di perpustakaan ke atas meja kayu. "Ayahku menyimpannya. Aku tidak akan membiarkan properti ini jatuh ke tangan Chen. Paman tahu kunci ini untuk apa, bukan?"

Pak Tan melirik kunci itu dengan tatapan ngeri. "Kau mencari di buku besar, tapi itu hanya umpan. Ayahmu adalah algojo. Semua catatan asli, daftar nama, dan perintah eksekusi... itu tidak ada di buku besar. Itu ada di altar rumahmu."

Kebenaran itu menghantam Li Wei lebih keras dari pukulan fisik mana pun. Ia bergegas kembali ke rumah, namun langkahnya terhenti di mulut lorong. Siluet Paman Chen berdiri membelakangi pintu kayu rumah keluarga Li.

"Kau terlambat, Wei," suara Chen memecah kesunyian. Ia berbalik, wajahnya yang keriput tertimpa cahaya temaram lampu jalan. "Aku sudah lama menunggu untuk bicara tentang masa depan properti ini—dan masa depanmu yang berantakan di luar sana."

"Aku tidak punya waktu untuk sandiwara, Paman. Pergilah," desak Li Wei, tangannya mencengkeram kunci di saku celananya.

Chen melangkah maju. "Sandiwara? Kau pikir membakar dokumen pengalihan hak itu akan menghapus jejak? Ayahmu mungkin algojo yang hebat, tapi dia tidak pernah bisa menghapus nama keluarga dari catatan kami. Jika kau tidak menyerahkan apa yang kau cari, aku akan memastikan seluruh Pecinan tahu rahasia memalukan apa yang kau bawa pulang dari kota."

Li Wei tidak menanggapi gertakan itu. Ia berhasil menerobos masuk dan mengunci pintu tepat di depan wajah Chen yang mulai menggedor dengan ancaman yang semakin liar. Di dalam rumah yang berbau dupa cendana, Li Wei berdiri di depan altar leluhur. Dengan tangan gemetar, ia menekan mekanisme rahasia di balik ukiran kayu cendana. Terdengar bunyi klik yang kering. Sebuah laci kecil meluncur keluar, memamerkan tumpukan dokumen yang diikat benang merah. Saat ia memegang stempel lilin naga yang tersimpan di sana, ia sadar: kunci ini bukan untuk brankas toko, melainkan untuk rahasia kelam yang selama ini ayahnya jaga dengan darah.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced