Jejak yang Hilang
Bau dupa yang terbakar di altar keluarga masih menempel di jaket Li Wei, namun di dalam perpustakaan komunitas, udara terasa lebih dingin dan tajam. Rak-rak kayu jati yang biasanya menyimpan catatan sejarah Pecinan kini kosong, menyisakan kerangka lapuk yang berderit setiap kali angin malam menyusup lewat celah jendela.
Mei Ling bergerak di sampingnya, tubuhnya menyatu dengan bayang-bayang. Ia tidak bicara, hanya memberi isyarat dengan dagu ke arah laci arsip di sudut ruangan. "Paman Chen tidak sedang merenovasi tempat ini," bisik Mei Ling. Suaranya rendah, nyaris tak terdengar di atas detak jantung Li Wei yang memburu. "Dia sedang menghapus jejak. Siapa pun yang pernah terikat kontrak dengan jaringan ayahmu, namanya sedang dibersihkan dari catatan resmi."
Li Wei menatap laci bernomor 1984. Tangannya gemetar saat ia menyentuh permukaan kayu yang kasar. Sejak ia membakar dokumen pengalihan hak milik propertinya, ia bukan lagi sekadar ahli waris yang ingin pergi; ia adalah target. Setiap derit lantai di luar sana terasa seperti langkah kaki penjaga Paman Chen yang sedang memburu mangsa.
"Cari nama ayahku," perintah Li Wei. "Atau stempel lilin merah itu. Jika catatan orang tuamu dihapus, pasti ada salinan yang tertinggal di sini."
Mei Ling mengeluarkan kawat tipis dari saku jaketnya. Dengan keahlian yang lahir dari keputusasaan, ia membobol kunci laci dalam hitungan detik. Klik. Laci terbuka, memamerkan tumpukan berkas yang menguning. Saat mereka memilah lembaran-lembaran itu, suara sepatu bot menghantam lantai kayu di balik rak buku. Itu langkah yang disiplin, berat, dan tanpa ragu—ciri khas penjaga suruhan Paman Chen.
Li Wei menahan napas, menekan tubuhnya ke rak. Cahaya senter dari luar menyapu debu di udara, menembus celah-celah buku tua, nyaris mengenai wajahnya. Penjaga itu berbelok, dan saat ia menyadari kehadiran mereka, Li Wei tidak punya pilihan. Ia melompat, menghantamkan bahunya ke dada pria itu, lalu menggunakan sikutnya untuk melumpuhkan lawan dalam konfrontasi singkat yang hening namun mematikan.
"Pergi sekarang," desis Mei Ling, menarik Li Wei menjauh dari tubuh yang terkulai. Ia membentangkan selembar kertas yang ia temukan di sela berkas arsip. Itu adalah surat ancaman yang diterima orang tuanya sebelum mereka menghilang. Di pojok kiri bawah, stempel lilin merah—tanda kepemilikan jaringan atas nyawa seseorang—terpampang jelas.
"Orang tuaku tidak hilang karena utang uang, Li Wei," bisik Mei Ling, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad. "Mereka dilenyapkan karena mereka adalah saksi kunci yang mencoba mengungkap daftar nama di buku besar itu. Alasan yang sama dengan utang yang kini mengikat ayahmu—dan dirimu."
Kembali ke rumah, Li Wei mencoba mencocokkan kunci brankas yang ia temukan di barang peninggalan ayahnya dengan brankas di toko. Logam itu tidak bergeming. Frustrasi memuncak saat ia menyadari bahwa kunci itu bukan untuk harta benda. Ia menatap ke arah altar leluhur di ruang tengah. Dengan tangan gemetar, ia memasukkan kunci tersebut ke sebuah lubang tersembunyi di balik ukiran kayu altar.
Sebuah kompartemen rahasia terbuka. Di dalamnya, ia menemukan dokumen yang menjelaskan bahwa ayahnya bukanlah perantara biasa, melainkan algojo administratif yang menghapus jejak orang-orang yang melanggar janji jaringan. Li Wei terdiam, menyadari bahwa ia tidak hanya mewarisi utang, tapi juga dosa yang kini harus ia tebus sendiri.