Janji yang Mengikat
Aroma oli mesin yang tengik dan debu kain menyambut Li Wei saat ia mendorong pintu bengkel jahit Pak Tan. Lonceng di atas pintu berdenting lemah, suara yang terdengar seperti peringatan di tengah kesunyian gang belakang Pecinan. Pak Tan, pria tua dengan punggung yang melengkung permanen, tetap terpaku pada mesin jahit tua yang berderit. Ia tidak menoleh saat Li Wei meletakkan salinan catatan dari buku besar ayahnya di atas meja kayu yang penuh dengan potongan kain perca.
"Saya datang karena nama Anda ada di sini, Pak," ujar Li Wei, suaranya memecah keheningan yang menyesakkan.
Pak Tan berhenti menjahit. Ia menatap Li Wei dengan mata yang redup oleh ketakutan kronis. "Pergilah, Nak. Kamu tidak seharusnya membawa buku itu kembali ke sini. Ayahmu sudah membawa rahasia itu ke liang kubur. Jangan buka kembali luka yang sudah mengering."
"Ini bukan sekadar catatan utang uang, bukan?" Li Wei mendekat, menekan ujung meja dengan tangannya. "Paman Chen menginginkan rumah itu karena ada sesuatu di sana. Sesuatu yang mengikat kalian semua."
Pak Tan menarik napas panjang, lalu perlahan menggulung lengan kemejanya yang kasar. Di balik kulit yang keriput, terdapat serangkaian bekas luka bakar yang membentuk pola stempel lilin—simbol yang sama dengan yang Li Wei temukan di balik sampul buku besar ayahnya. Itu bukan sekadar utang; itu adalah tanda terima kepemilikan atas hidup mereka.
Saat Li Wei melangkah keluar dari gang sempit itu, hawa pasar basah yang biasanya akrab kini terasa mencekik. Bau amis ikan dan aroma dupa murahan seolah mengepungnya. Tepat di persimpangan, tiga pria berjaket kulit memblokir jalannya. Tidak ada basa-basi. Salah satu dari mereka, dengan bekas luka melintang di alis, meludah ke lantai semen yang becek.
"Buku itu bukan milikmu, anak muda," desis pria itu. Tangannya perlahan merogoh ke balik jaket, menunjukkan ujung gagang logam yang dingin. "Serahkan sebelum kau membuat kekacauan yang akan membuat seluruh blok ini kehilangan atapnya. Besok pagi, toko-toko di sepanjang jalan ini akan terbakar habis jika kau tidak menyerahkannya."
Li Wei mengeratkan pegangan pada tas selempangnya. Buku besar itu terasa berat, bukan oleh kertas, melainkan oleh nyawa yang tercatat di dalamnya. Ia teringat wajah Pak Tan. Jika ia menyerah, ia akan aman, namun komunitas ini akan hancur. Dengan insting yang selama ini ia tekan, Li Wei memutar tubuh, menabrak keranjang sayur untuk menciptakan kekacauan, lalu melesat melewati celah sempit di antara lapak-lapak pedagang. Ia berhasil lolos, namun ia tahu: ia kini diawasi oleh banyak mata. Statusnya sebagai orang asing telah berakhir.
Kembali ke rumah keluarga yang pengap, Li Wei meletakkan buku besar itu di atas meja jati yang retak. Di depannya, dokumen pengalihan hak yang disiapkan Paman Chen tergeletak rapi. Hanya perlu satu tanda tangan, dan ia akan kembali ke kehidupan lamanya yang teratur. Namun, bayangan bekas luka di lengan Pak Tan menahan tangannya. Menjual rumah berarti menyerahkan daftar perbudakan modern ke tangan yang salah.
Li Wei mengambil korek api dari saku jaketnya. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia menyalakan api. Ujung dokumen pengalihan hak itu mulai menghitam, melengkung, dan akhirnya dimakan api hingga menjadi abu. Ia bukan lagi sekadar tamu di rumah ini; ia adalah benteng terakhir.
Saat ia masih menatap abu yang berserakan, pintu belakang rumahnya diketuk pelan. Mei Ling berdiri di sana, wajahnya pucat. Tanpa sepatah kata, ia menarik Li Wei ke dalam dan meletakkan sebuah kotak kayu kecil di atas meja. Di dalamnya terdapat secarik kertas usang dengan stempel lilin merah yang sama persis dengan yang ada di buku besar.
"Orang tuaku hilang sepuluh tahun lalu setelah mereka gagal membayar iuran yang tercatat di sini," bisik Mei Ling. Li Wei merasakan dingin menjalar di punggungnya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi meninggalkan Pecinan tanpa menjadi buronan jaringan tersebut, dan kini, ia memiliki sekutu yang nasibnya terikat pada rahasia yang sama.